
Zoya berjalan sangat pelan saat masuk kedalam ruang perawatan Dewa. Ia sudah menggunakan baju steril dan juga sarung tangannya. Luka pasca melahirkannya masih begitu terasa, namun tak mengurungkan niatnya untuk bertemu suaminya.
Perlahan Zoya mendekat kearah Dewa yang berbaring di ranjangnya. Ada beberapa kabel yang tertempel ditubuhnya, selain itu keadaan Dewa tidak ada luka sedikitpun, karena memang pada dasarnya bukan luka luar yang perlu di khawatirkan, melainkan luka dalamnya.
"Dewa, cepatlah sadar" ucap Zoya menggenggam lembut tangan Dewa yang sangat dingin.
"Dewa, apa kau tidak ingin bangun? Aku disini, aku datang untukmu. Tolong cepatlah bangun, bukankah kau bilang ingin menjadi orang pertama yang menggendong putri kita?" kata Zoya menarik nafasnya dalam-dalam, menahan tangisnya yang sebenarnya ingin pecah. Perih, saat melihat suaminya berbaring tak berdaya seperti ini.
"Ya benar, anak kita yang kedua ini seorang putri, sesuai keinginanmu. Kau pasti senang, 'kan mendengarnya?" ucap Zoya lagi sesekali tersenyum namun juga menangis.
"Dewa, ayo bangun, Jangan terlalu lama tidurmu! Aku ada disini, bangunlah. Aku tidak akan memberikan nama untuk putri kita karena itu tugasmu. Sekarang ayo bangun Dewa, aku akan marah padamu kalau kau tidak segera bangun!" ucap Zoya sedikit keras, namun suaranya melemah dan putus asa di akhir kata.
Tak ada respon sama sekali dari Dewa membuat tangis Zoya semakin pecah. Ia mencium tangan Dewa berkali-kali seraya mengucapkan doa untuk kesembuhan suaminya. Namun malang tak bisa dicegah dan untung tak bisa di raih.
Sampai hampir satu bulan, keadaan Dewa masih tidak mengalami kemajuan apapun. Dewa masih tertidur damai tanpa terusik meski Zoya setiap hari datang untuk memberinya semangat. Zoya rasanya hampir gila karena memikirkan kondisi suaminya, padahal seharusnya saat ini mereka sedang bahagia menyambut kelahiran putri mereka. Namun sepertinya Tuhan belum memberikan izinnya untuk hal itu.
"Nyonya, stok ASI untuk Nona kecil habis, sepertinya Nyonya harus memompa ASI lagi" ucap Lusi melapor kepada Zoya yang pagi itu baru saja pulang dari rumah sakit.
Ya, hampir seminggu terakhir ini Zoya selalu menginap di rumah sakit untuk menunggu Dewa. Ia akan pulang untuk memompa ASI nya untuk putrinya yang masih kecil. Zoya benar-benar membagi waktunya untuk suami dan anaknya yang saat ini membutuhkan dirinya.
Sebenarnya Anderson sudah melarang Zoya untuk datang ke rumah sakit, tapi Zoya tetap memaksa karena dia juga tak ingin melewatkan setiap momen untuk Dewa.
"Ya mba, sekarang mana putri saya?" kata Zoya juga sangat merindukan putri kecilnya.
__ADS_1
"Nona kecil sedang tidur di kamarnya Nyonya" ucap Lusi lagi.
Zoya mengangguk, ia lalu berjalan menuju kamar putrinya yang memang sudah disediakan oleh Dewa sebelumnya. Suaminya itu sangat antusias saat mengetahui jenis kelamin anak kedua mereka adalah perempuan dan Dewa sendiri yang membuat desain untuk kamar anak mereka.
Zoya menatap lekat putrinya yang tertidur pulas, sampai sekarang ia belum memberikan nama untuk putrinya karena masih sangat berharap Dewa akan segera sadar dan bisa memberikan nama untuk putri mereka.
"Maafkan Ibu ya sayang, Ibu bukan tidak ingin memberikan nama untukmu, Ibu hanya ingin Ayah yang memberikannya nanti. Kita do'akan Ayah sama-sama ya, supaya Ayah cepet sembuh dan bisa berkumpul dengan kita semua," ucap Zoya kembali meneteskan air matanya, hatinya sakit sekali ya Tuhan, tolong sembuhkan lah suamiku, pinta Zoya dalam hatinya.
Zoya terus menatap anaknya hingga tiba-tiba saja sesuatu terlintas dalam benaknya. Ia menggendong anaknya lalu mencari Lusi untuk menyiapkan keperluannya.
"Mba, hari ini ikut aku ke rumah sakit. Siapin juga barang-barangnya Adek" ucap Zoya langsung.
Lusi tak banyak bertanya, ia menuruti saja apa yang diinginkan oleh Zoya. Setelah semuanya siap, Zoya segera membawa putri kecilnya yang belum genap se bulan itu ke rumah sakit. Zoya sangat berharap kalau caranya kali ini mungkin saja berhasil untuk membuat Dewa sadar.
"Mba, kamu tolong jaga disini ya, aku akan masuk sebentar" kata Zoya memberikan intruksinya kepada Lusi.
"Baik Nyonya" sahut Lusi mengangguk setuju.
Zoya langsung masuk begitu semua keadaan aman, pandangannya lalu bertumpuk pada sosok Dewa yang tertidur damai tanpa terusik apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Zoya lalu menatap putrinya yang sudah bangun.
"Hari ini Ibu bawa kamu nemuin Ayah, bilang sama Ayah ya, kalau kamu pengen dipeluk Ayah, kamu kangen Ayah," ucap Zoya membenarkan tutup kepala anaknya lalu membawanya berjalan mendekat ke arah Dewa.
"Selamat siang sayang. Coba tebak, hari ini aku bawa siapa?" ucap Zoya berbicara dengan nada ceria, berusaha menutupi kesedihannya agar Dewa tak mendengarnya.
__ADS_1
"Aku membawa putrimu datang. Apa kau tidak mau melihatnya?" ucap Zoya meletakan putri kecilnya disamping Dewa.
Tak ada respon apapun dari Dewa, hanya suara monitor dan suara putrinya yang bergerak-gerak pelan.
"Dewa, apa kau tidak ingin bangun sebentar saja? Lihatlah, putrimu sekarang sudah lebih besar dari saat dia dilahirkan. Kau bilang, kau ingin putri kita mirip denganku kan? Sekarang coba lihat, dia memang sangat mirip denganku. Tapi tidak sepenuhnya, karena menurutku matanya sangat mirip denganmu. Sepertinya gen mu memang lebih kuat dariku" ucap Zoya berusaha keras menahan air matanya yang ingin jatuh karena Dewa sama sekali tak merespon dirinya.
Namun Zoya terus saja mengajak Dewa berbicara karena menurut Dokter, pasien yang sedang koma masih bisa mendengar semua yang terjadi, namun sistem otaknya yang terhenti melarangnya untuk bangun.
"Apa mimpimu memang lebih indah dari keluarga kita? Apa kau tidak mau berjuang sedikit saja untuk bisa berkumpul bersama kita? Baiklah, lanjutkanlah lagi mimpimu Dewa, tapi jika kau sudah bosan disana, tolong berjanjilah untuk kembali, aku akan selalu menunggu waktu itu tiba" ucap Zoya mengusap kasar air matanya yang terus berjatuhan, ia lalu mengambil anaknya kembali.
"Aku akan pulang dulu, mungkin aku tidak akan kesini besok karena Putramu akan ujian. Tapi percayalah, aku akan selalu mencintaimu," ucap Zoya mencium dahi Dewa sebelum beranjak dari sana.
Zoya langsung menjatuhkan dirinya ke lantai dan menangis tersedu-sedu setelah keluar dari ruangan Dewa. Mungkin dia terlihat tegar dan menganggap semuanya seolah baik-baik saja, namun tak seorang pun tau bagaimana hancurnya dirinya saat ini. Rasanya Zoya sudah tidak sanggup menanggung ini semuanya sendirian.
"Ya Tuhan, aku sudah tidak sanggup lagi" batin Zoya.
"Bangunlah Zoya, kau tidak perlu menangis seperti ini. Menangis tidak akan membuat Dewa kembali padamu"
Zoya langsung mengangkat pandangannya saat mendengar suara orang lain. Ia sedikit kaget saat melihat sosok yang berdiri di depannya.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1