
Zoya mengangkat pandangannya hingga bertatapan dengan Aldin yang tersenyum manis padanya. Ia kemudian bangkit seraya menggandeng Dewa kecil untuk masuk kedalam rumah.
"Al, kapan kau datang?" kata Zoya.
"Sore tadi, kamu baru pulang?" kata Aldin masih dengan senyumnya yang menawan.
"Ehem, Ayo masuk dulu.." kata Zoya mendahului Aldin untuk masuk kedalam rumah.
"Ibu...Ibu...Tadi Papi bawain aku mainan baru lo, mobil remote terbaru, temen-temen aku belum ada yang punya" kata Dewa kecil begitu antusias menunjukkan mainan yang baru saja dibelikan Aldin.
"Kau membelikannya lagi? Aku kan sudah bilang jangan terlalu memanjakannya" kata Zoya memang tidak terlalu suka jika Aldin terlalu memanjakan Dewa kecil. Bukannya apa, dia hanya tidak enak karena merepotkan pria itu terus menerus.
"Tidak apa, nggak setiap hari juga, yang penting Dewa seneng" kata Aldin lagi.
"Ya, tapi nanti dia jadi ngelunjak, kamu kenapa kesini nggak ngabarin dulu?" kata Zoya.
"Sengaja, aku paling nggak bisa lama-lama disini, banyak tugas" kata Aldin memandang wajah Zoya cukup lama membuat wanita itu sedikit salah tingkah.
"Aku buatin minum dulu" kata Zoya memilih menghindari Aldin.
Selama ini Aldin memang sangat baik padanya dan juga Dewa. Dulu, waktu dia mengalami kecelakaan, Zoya masih sadar dan bisa keluar dari mobilnya. Zoya pun segera berlari sejauh mungkin agar tidak dikejar anak buah Ayahnya, dan pada saat itulah dia bertemu dengan Aldin.
Pria itu juga yang sudah membantunya untuk pergi meninggalkan kota Bandung. Bahkan Aldin juga yang menemaninya disaat melahirkan Dewa dulu. Meskipun Aldin jarang menemuinya, tapi Aldin sangat berarti dalam kehidupannya saat ini, itulah alasan kenapa Dewa kecil juga dekat dengan Aldin hingga menganggapnya sebagai seorang Ayah.
"Kamu mau buat apa?" terdengar suara Aldin ikut menyusul Zoya ke dapur.
"Oh, aku hanya ingin membuat cemilan untukmu" kata Zoya melirik Aldin sekilas.
"Tidak perlu repot, kau juga capek kan" kata Aldin tiba-tiba sudah berdiri di belakang Zoya.
"Nggak repot Al, ini juga sudah hampir jadi" kata Zoya sedikit tak nyaman saat Aldin berada di belakangnya, tapi ia tetap melanjutkan kegiatannya mengaduk adonan kue brownies yang akan di buatnya.
"Ehm...." Zoya bingung saat ingin mengambil cetakan kue yang berada di atas lemari dapur karena Aldin masih setia di belakangnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Aldin mendekatkan dirinya.
"Aku ingin mengambil cetakan kue, bisakah kau minggir sebentar?" kata Zoya benar-benar tak nyaman.
"Dimana letaknya? biar aku ambilkan" kata Aldin.
"Diatas" kata Zoya menunjuk lemari dapur.
"Akan aku ambilkan, kau selesaikan saja itu" kata Aldin beranjak darisana.
Zoya bernafas lega saat Aldin menjauh darinya, ia bukannya tak tau kalau Aldin menyimpan perasaan padanya, tapi dia sengaja menghindarinya karena takut hanya akan membuat pria itu kecewa. Dulu pernah Zoya ingin membuka hatinya untuk Aldin, tapi kenapa selalu tidak bisa. Pikirannya ingin menerima, tapi hatinya selalu tak bisa berpaling dari sosok Dewa yang diam-diam sudah membelenggu hati dan jiwanya.
Setelah membuat kue brownies, Zoya segera menyiapkannya untuk Aldin dan membuatkannya teh. Pria itu sudah kembali menemani Dewa kecil yang bermain.
"Papi, aku sekarang punya teman baru loh" kata Dewa kecil.
"Teman baru? Siapa?" kata Aldin tersenyum sedikit menanggapinya.
"Namanya Om baik, orangnya baik banget tau" kata Dewa kecil lagi.
Zoya baru ingin menjawab tapi urung ketika mendengar suara ponselnya berdering, Zoya langsung mengambilnya dan melihat nama Dewa tertera disana. Zoya lalu melihat Aldin yang menatapnya sedikit tajam.
"Aku akan mengangkat telepon terlebih dulu" kata Zoya beranjak dari sana.
Sesampainya di kamar, Zoya baru mengangkat telepon itu karena Dewa terus meneleponnya.
"Halo...." kata Zoya pelan.
"5 menit aku menunggumu, aku butuh kau sekarang" kata Dewa dengan suaranya yang memburu, antara menahan amarah dan juga menahan dirinya agar berbicara kasar pada Zoya.
"Ehm, bisakah aku datang nanti saja, anakku belum tidur, aku..." Zoya mencari alasan agar tidak mendatangi Dewa karena ia takut jika pria itu akan memaksanya kembali.
"Apa aku saja yang datang kesana?" kata Dewa terdengar tak sabar, dia ingin secepatnya mengusir Aldin dari rumah Zoya karena pikirannya tak tenang.
__ADS_1
"Jangan! Baik, baik aku akan datang" kata Zoya mencegah, Zoya tak ingin menambah masalah jika sampai pria itu kemari.
"Aku sudah menunggumu di depan, mobil hitam plat Xxxxx" kata Dewa langsung memutus panggilan itu sepihak.
Zoya cukup gelagapan karena Dewa hanya memberinya waktu 5 menit, Zoya segera mengganti bajunya dengan cepat dan memakai jaketnya. Ia segera keluar dari kamar tapi ia kaget saat melihat Aldin sudah berdiri di depan kamarnya.
"Al? Kau mengagetkanku saja" kata Zoya.
"Kau akan pergi kemana?" tanya Aldin memandang Zoya curiga.
"Aku...aku akan kembali bekerja, tadi temanku menelepon dan menyuruhku untuk menggantikan shift nya. Ehm, aku akan mengantarkan Dewa ke rumah Bibi Ratih dulu, kau..." kata Zoya sungkan jika harus mengusir Aldin sebenarnya tapi dia juga tidak bisa menolak keinginan Dewa karena takut jika pria itu akan bertindak diluar dugaan.
"Aku akan pulang, Ayo, aku akan mengantarmu sekalian" kata Aldin lagi.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri Al" kata Zoya cepat.
Aldin masih menatap Zoya sedikit curiga, tapi ia tak ingin memaksa Zoya agar membuat wanita itu nyaman dengannya. Akhirnya dia pun pulang setelah berpamitan dengan Dewa kecil.
Zoya pun setengah berlari setelah mengantarkan Dewa kecil ke rumah Bibi Ratih. Sesampainya di depan gang, dia melihat mobil yang di maksud oleh Dewa. Zoya pun segera masuk kedalam dan melihat Dewa yang merokok, asap tampak mengepul menutupi wajahnya. Zoya baru tau kalau Dewa sekarang menjadi perokok.
"Kita akan kemana?" tanya Zoya sedikit terganggu oleh bau rokok itu.
"Kau akan tau nanti" kata Dewa membuang rokoknya dan melajukan mobilnya setelah Zoya memakai sabuk pengamannya.
Dewa sengaja membawa mobil itu melewati sebuah mobil sedan berwarna silver yang sedang terparkir di samping gang rumah Zoya. Dan terbukti mobil itu kini mengikuti mobilnya. Dewa tersenyum licik karena merasa pancingannya berhasil.
Aldin yang penasaran dan terbakar rasa cemburu langsung menancap gas mobilnya. Ia bisa melihat sosok pria yang bersama Zoya, tapi untuk melihat wajahnya cukup kesusahan karena cahaya yang remang.
Zoya hanya diam saja sepanjang perjalanan itu, cukup jauh Dewa membawanya pergi sampai mereka tiba di sebuah jalanan yang cukup sepi dan Dewa memberhentikan mobilnya.
"Untuk apa kita kesini?" tanya Zoya bingung menatap Dewa yang wajahnya tak enak dilihat itu.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.