
Zoya terdiam mendengar ucapan Dewa, hatinya terasa nyeri membayangkan kalau Dewa sudah berhubungan dengan wanita lain. Tapi kali ini ia tak ingin menggunakan perasaannya terlebih dulu.
"Itu lebih bagus, jadi aku tidak perlu repot melayanimu" kata Zoya membuang pandangannya ke luar jendela untuk menyembunyikan matanya yang tampak berkaca-kaca.
Dewa mendesis sebal karena Zoya tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapannya. Ia menatap lamat-lamat wajah Zoya.
"Baiklah, aku terima persyaratan mu" kata Dewa langsung membuat Zoya kaget.
"Apa kau serius? Kau akan membebaskan ku darisini?" kata Zoya antara kaget dan juga senang mendengarnya. Tapi ia menyipitkan matanya memandang Dewa curiga, tak mungkin pria ini dengan mudah membebaskannya seperti ini.
"Tentu saja" kata Dewa dengan nada tenangnya.
"Apa yang kau inginkan?" kata Zoya.
"Pertanyaan bagus, aku akan membebaskan mu dengan syarat kau harus datang padaku setiap aku butuh" kata Dewa dengan senyum liciknya.
Zoya membesarkan matanya, apa? Dewa memintanya datang disaat pria itu butuh? Bukankah itu sama saja dia seperti wanita panggilan?
"Aku tidak mau" kata Zoya ketus.
"Itu terserah padamu, mau bebas atau tetap disini?" kata Dewa lagi.
Zoya berpikir sejenak, kalau dia menolak saat ini, Dewa pasti tidak akan lagi menawarkan kebebasan padanya dan dia tidak akan bisa bertemu dengan anaknya. Tapi sebaiknya dia terima saja persyaratan ini, setelah dia bebas nanti, dia akan pergi sejauh mungkin dari Dewa.
"Baiklah, aku terima persyaratan itu" kata Zoya mantap.
Dewa menyeringai tipis. "Apa yang kau pikirkan Zoya? Setelah aku membebaskanmu, bukan berarti aku melepaskanmu begitu saja. Jadi, lebih baik kau batalkan saja rencanamu untuk pergi dariku, karena sejauh dan sekuat apapun kau lari dariku, aku akan tetap mengejarmu sampai ke ujung dunia sekalipun. Karena kau sudah terikat denganku seumur hidupmu" kata Dewa melirik Zoya dengan mata tajam.
Zoya menelan ludahnya kasar, kenapa Dewa bisa tau rencananya, apakah pria ini cenayang?
"Tapi aku juga berhak menentukan hidupku sendiri Dewa" kata Zoya.
"Hidupmu adalah aku, jadi mulai sekarang jangan coba-coba lari dariku lagi" kata Dewa menatap Zoya dengan serius.
"Baiklah, lalu kapan kau akan mengeluarkanku darisini?" kata Zoya lagi.
"Tergantung" kata Dewa sekenanya.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Apa kau mau mengingkari janjimu sendiri?" kata Zoya sebal.
"Aku tidak pernah berjanji apapun padamu" kata Dewa tak terpengaruh oleh kekesalan Zoya.
"Kau! Bukankah kau bilang akan mengeluarkanku dari sini! Aku sudah bersedia menerima persyaratan darimu, kenapa kau malah seperti ini" kata Zoya begitu geram rasanya. Kenapa Dewa sekarang menjadi sangat menyebalkan dan sangat licik sekali.
"Aku memang akan membebaskanmu, tapi sekarang aku ingin melihat usaha kerasmu untuk meyakinkanku. Kalau kau bisa membuatku yakin, aku akan membebaskanmu" kata Dewa memandang dalam wajah Zoya dan tersenyum misterius.
"Usaha keras apa?" kata Zoya sungguh tak mengerti.
"Aku butuh bukti kalau kau memang serius akan datang padaku dengan sukarela nantinya" kata Dewa menyeringai tipis.
"Bukti?" Zoya semakin memandang Dewa bingung.
Mata bulatnya tampak bergerak-gerak memandang Dewa penuh rasa ingin tau. Dewa tersenyum tipis saat melihat wajah Zoya yang tampak begitu menggemaskan.
"Ya bukti. Jadi tunjukkan bukti itu padaku"
"Bukti apalagi yang kau maksud?" kata Zoya sangat kesal karena Dewa terus mempermainkannya.
Zoya begitu kaget saat mendengar keinginan Dewa, ia memandang pria itu dengan sangat kesal. Dewa benar-benar kurang ajar!
"Aku tidak mau!" teriak Zoya menahan dirinya untuk tidak memukul wajah Dewa yang menyebalkan.
"Mau bebas atau tidak?" kata Dewa masih dengan sikap santainya.
Zoya mengepalkan tangannya erat, Sial sekali! Apakah dia harus melakukannya?. Tapi Zoya kembali ingat kalau ini satu-satunya cara untuk keluar dari sini. Ia memandang Dewa yang masih menunggu dirinya itu, Zoya kemudian menarik nafas panjang.
Satu langkah menuju kebebasan, dia harus melakukannya.
"Baiklah" kata Zoya meyakinkan hatinya kalau semua ini demi kebebasannya.
"Silahkan, aku menunggumu Zoya" kata Dewa tak melepasakan tatapan matanya dari Zoya.
Zoya harus menarik nafas beberapa kali sebelum bangkit dan menyeret langkahnya menuju Dewa. Sebenarnya dia ingin mengulur waktu, tapi posisinya dan Dewa sangat dekat, jadi mustahil hal itu terjadi.
Akhirnya dengan menahan degup jantung yang berlombaan, Zoya melangkahkan kakinya dan duduk di pangkuan Dewa dengan posisi yang saling berhadapan. Dewa langsung melingkarkan tangannya di pinggang kecil Zoya.
__ADS_1
Zoya menatap dalam-dalam wajah Dewa yang sangat dekat dengannya. Tak ada yang berubah dari Dewa, tapi saat matanya bertatapan langsung dengan mata hazel Dewa yang tajam, jantungnya kembali berdetak tak normal karena sejatinya pria inilah pemilik hati dan jiwanya sejak dulu.
Dewa pun begitu, ia menatap lekat wajah Zoya yang masih sangat cantik, malah semakin cantik sekali sekarang. Tapi saat ia ingin melihat matanya, Zoya selalu menghindarinya.
"Cium aku" kata Dewa mendongak menatap Zoya sendu dan penuh gairah. Hanya karena Zoya duduk di pangkuannya saja, miliknya sudah bangkit sempurna.
"Ehm, kau ingin aku menciummu?" kata Zoya merasa tak nyaman saat merasakan sesuatu yang keras mengenai bokongnya.
"Ya, disini" kata Dewa mengambil tangan Zoya lalu meletakkannya dibibirnya.
Tubuh Zoya seperti tersengat aliran listrik saat Dewa melakukannya. Tapi sudah tidak ada jalan mundur, ia pun mengulurkan tangannya untuk memegang kedua pipi Dewa dan mendekatkan wajahnya.
Dewa memejamkan matanya menunggu ciuman yang akan diberikan oleh Zoya. Zoya pun ikut memejamkan matanya lalu menempelkan bibirnya di atas bibir Dewa, hanya sekejap dan melepaskannya membuat Dewa langsung membuka matanya.
"Apa ini yang kau bilang ciuman?" kata Dewa antara jengkel dan juga mencemooh cara ciuman Zoya yang buruk.
"Kau bilang meminta ciuman, dan aku sudah menciummu, bibirku sudah menempel di bibirmu! Aku sudah memenuhi syarat yang aku berikan" kata Zoya dengan wajahnya yang memerah malu.
"Bibir yang menempel satu detik itu tidak bisa dikatakan sebagai ciuman. Apa kau tidak belajar dari apa yang sudah aku lakukan padamu" kata Dewa menahan pinggang Zoya saat wanita itu ingin turun dari pangkuannya.
"Intinya sama-sama ciuman kan? Sekarang lepaskan aku" kata Zoya membela dirinya.
"Tidak sama, aku akan menunjukkan padamu bagaimana caranya berciuman dengan benar...." bisik Dewa dengan lembut lalu mendorong kepala belakang Zoya hingga mendekat ke wajahnya.
Perlahan Dewa menyentuhkan bibirnya pada bibir Zoya, menggunakan kemampuannya untuk memaksa bibir mungil itu untuk terbuka, mengecupnya dengan penuh perasaan dan memperdalam ciumannya hingga membangkitkan hasratnya.
Zoya cukup kewalahan saat Dewa menciumnya dengan membabi buta, namun dia juga merasakan gelayar aneh dalam dirinya. Apa mungkin karena dia tidak merasa terpaksa jadi ia bisa lebih menikmatinya.
"Dewa....sudah...." kata Zoya melepaskan ciuman mereka saat nafasnya hampir habis.
Dewa pun mengatur nafasnya yang tersengal karena ciuman panasnya dengan Zoya. "Kau sudah mengenal tubuhku Zoya, jadi kau tau kalau ciuman saja tak cukup untukku" kata Dewa memeluk erat tubuh Zoya lalu membawanya berdiri untuk melepas adrenalin di ranjang.
"Dewa! Ah....."
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1