
Dewa memijit pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut karena memikirkan tentang status Zoya itu, dia pikir semuanya akan terasa mudah saja dan dia akan kembali berkumpul menjadi kelurga yang utuh bersama Zoya dan putranya, tapi ternyata masih ada satu lagi halangan yang harus mereka lalui.
Dewa lalu keluar dari ruang kerjanya untuk menghampiri dua orang terpenting dalam hidupnya itu, ternyata mereka berdua sedang berada di halaman samping rumahnya. Dilihatnya Zoya sedang duduk di kursi taman menunggui Rayden yang tampak bermain bola, sesekali putranya itu menghampiri ibunya untuk meminta potongan buah yang sudah dikupaskan. Dewa tersenyum lembut, pemandangan itu membuat hatinya menghangat.
"Ayah" teriak Rayden ketika melihat kemunculan Dewa. Zoya pun langsung menoleh.
"Sudah selesai?" tanya Zoya sedikit menggeser tubuhnya.
"Ya, sudah, aku juga mau buahnya" kata Dewa menarik pinggang Zoya mendekat lalu menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu.
"Dasar manja" kata Zoya tersenyum kecil lalu mengambilkan potongan buah apel dan memberikannya kepada Dewa yang terus menggelayutinya.
"Manja dengan calon istri sendiri boleh kan?" kata Dewa mengunyah makanannya dan tersenyum menggoda.
Zoya hanya mencibir tingkah Dewa itu. "Rayden, mainnya udah sayang, sini" kata Zoya memanggil putranya.
"Iya ibu" kata Rayden menurut dan mendekati ibunya.
"Anak Ayah main apa?" tanya Dewa.
"Main bola, ehm ayah sebenarnya aku mau berenang tapi sama Ibu nggak boleh" kata Rayden mengadu.
"Kenapa tidak boleh?" kata Dewa memandang Zoya.
"Cuacanya panas terik, nanti kalau berenang Rayden akan sakit, lagipula aku tidak bisa berenang" kata Zoya seadanya.
"Tidak apa-apa jika hanya sebentar, Rayden masih mau berenang?" tanya Dewa tak ingin membuat anaknya kecewa.
"Mau Ayah" kata Rayden semangat sekali.
"Oke, habis ini kita berenang, Ayah yang nemenin" kata Dewa langsung membuat Rayden tersenyum senang.
"Yee....Ayah baik, makasih Ayah" kata Rayden memberikan ciuman di pipi Dewa.
"Sama-sama, sekarang Rayden ganti baju dulu sama Ibu" kata Dewa tertawa kecil, ia mengelus rambut anaknya sekilas.
"Baiklah, Ayo Rayden" kata Zoya menggandeng tangan anaknya untuk masuk rumah diikuti Dewa yang juga mengganti bajunya.
Setelah mengganti baju Rayden, Zoya langsung mengajak anaknya ke kolam renang, ternyata Dewa sudah menunggunya disana. Langkah Zoya terhenti sebentar saat melihat Dewa yang hanya bertelanjang dada dan menggunakan celana renang ketat. Tanpa sadar ia terus menatap otot-otot perut Dewa yang kini semakin terbentuk.
__ADS_1
"Kelewat ganteng ya sampek gitu banget liatnya" kata Dewa tersenyum menggoda.
"Ha apa?" kata Zoya tersentak, ia membuang pandangannya untuk menyangkal tuduhan impresif itu.
"Tidak usah pura-pura, kenapa? Mau pegang?" kata Dewa semakin menggoda Zoya, ia tau kalau sejak tadi wanita ini menatap tubuhnya.
"Apaan sih, enggaklah, sana tuh udah ditungguin Rayden" kata Zoya selalu mati kutu jika bersama Dewa.
"Seriusan nggak mau? Padahal boleh, boleh banget malah, semua ini punya kamu juga kok" kata Dewa rasanya senang sekali melihat wajah Zoya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Dewa!" kata Zoya memperingatkan pria itu untuk menyudahi tingkahnya, ia sudah malu sekali.
Dewa tertawa kecil tapi tak menyahut, ia lalu mendekati Rayden dan mengajaknya berenang, seharusnya kolam itu tidak cocok untuk anak se usia Rayden, tapi Dewa juga belum memikirkan untuk mengajak anaknya liburan.
"Gimana? Bisa nggak?" kata Dewa mencoba melatih anaknya berenang.
"Takut Ayah, ini dalam sekali" kata Rayden.
"Lain kali kita berenang ke tempat berenang anak, nanti kamu bisa belajar disana" kata Dewa lagi.
"Mau Ayah aku mau, tanya ibu dulu tapi" kata Rayden lagi.
"Oke, siap nyoba lagi nggak?" kata Dewa.
Zoya menunggu dikursi pinggir kolam renang, ia pun ikut senang melihat bagaimana senangnya Rayden, selama ini tak ada hal lain yang bisa membuat Zoya senang selain melihat anaknya bahagia.
"Ibu sudah, aku kedinginan" teriak Rayden setelah cukup lama berenang.
"Ya, sebentar" kata Zoya membawakan handuk dan menyusul anaknya yang sudah naik ke atas.
"Langsung mandi ya habis ini" kata Zoya dengan cekatan langsung membungkus tubuh anaknya agar tidak masuk angin. Rayden mengangguk saja.
"Kau tidak naik? Aku membawa handuk untukmu" kata Zoya mengulurkan handuk lain yang di bawanya untuk Dewa.
Dewa tak menyahut namun tiba-tiba dia menarik tangan Zoya dengan cepat hingga wanita itu jatuh kedalam kolam renang. Zoya pun kaget dan reflek berteriak, dia tidak bisa berenang membuat ia panik. Dewa langsung memegang pinggang Zoya lalu membawanya muncul kepermukaan.
"Dewa!" seru Zoya mencipratkan air itu ke wajah Dewa untuk meluapkan kekesalannya.
"Hahaha, tidak adil kalau tau tidak basah, kau juga harus ikut basah" kata Dewa justru tertawa karena berhasil membuat Zoya ikut basah.
__ADS_1
"Ada-ada aja, aku kaget tau, kau juga lupa kalau masih ada Rayden, dia harus segera ganti baju" kata Zoya menatap pinggir kolam tapi tak menemukan Rayden.
"Kemana Rayden?" kata Zoya panik.
"Mungkin dia sudah kembali bersama Ayah" kata Dewa asal saja.
"Bagaimana kalau tidak? Aku harus melihatnya" kata Zoya masih khawatir.
Dewa segera membawa Zoya kepinggiran kolam, Zoya pun langsung buru-buru mengambil jas mandinya karena ingin mencari anaknya, Dewa dengan santai mengikutinya di belakang. Sesuai dugaannya, Rayden sudah berada didalam rumah dan sudah berganti baju dibantu oleh pelayan, sekarang putranya itu sedang menonton televisi bersama Ayahnya.
"Aku bilang apa? Kau hanya terlalu khawatir" kata Dewa.
"Tentu aku khawatir, aku menyayangi putraku" kata Zoya masih kesal.
"Dia putraku juga" kata Dewa mengernyitkan dahinya.
"Tau ah, aku mau ganti baju dulu" kata Zoya malas.
Zoya berjalan cepat menuju kamar Dewa dan langsung masuk kedalam kamar mandi. Dewa tersenyum usil, ia langsung ikut menyusul begitu saja masuk kedalam kamar mandi.
"Eh? Kenapa kau ikut masuk?" kata Zoya kaget.
"Aku juga mau mandi" kata Dewa berjalan santai mendekati Zoya.
"Kita kan bisa bergantian, aku akan mandi dulu, kau tunggu di luar" kata Zoya dengan nada memerintahnya.
"Kalau aku tidak mau" kata Dewa terus mendekati Zoya hingga wanita itu mundur sampai menyentuh tembuk di belakangnya.
"Kau mau apa?" kata Zoya gugup sekali, jantungnya berdebar tak karuan sekarang.
"Menginginkanmu"
"Ha?" mata Zoya membesar saat mendengar ucapan Dewa, namun sedetik kemudian ia memejamkan matanya saat Dewa tiba-tiba mencium bibirnya dengan lembut, mengecupnya perlahan penuh perasaan hingga membuat ia larut dalam permainan itu.
Ciuman itu terasa basah dan saling menggoda, perlahan Zoya mengalungkan tangannya ke leher Dewa dan memperdalam ciuman mereka hingga menjadi cepat dan panas. Dewa menurunkan ciumannya ke leher Zoya yang putih, memberikan tanda merah diseluruh tubuh Zoya seolah menandai kalau wanita ini adalah miliknya, tangannya bergerak aktif melepaskan kain yang melekat pada tubuh Zoya.
Zoya menggigit bibirnya untuk menahan suaranya saat Dewa terus memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat seluruh tubuhnya gemetaran. Dewa memang sangat bisa membuat dirinya meninggalkan dunia barang sesaat, menikmati rasa yang membuat tubuhnya seperti ingin meledak.
"Dewa....Lakukan sekarang juga"
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.