
Zoya terbangun saat merasakan sesuatu menyentuh dirinya, ia membuka matanya dan melihat tangan Dewa yang menjalar kemana-mana namun mata pria itu masih terpejam. Ia melirik jendela yang tampak sudah hampir gelap, sepertinya mereka tertidur cukup lama setelah pergumulan panas diantara keduanya tadi.
"Nggak usah pura-pura tidur" kata Zoya berbisik di telinga Dewa.
"Kamu emang susah ditolak" kata Dewa tersenyum seraya mengeratkan pelukannya pada Zoya.
"Alesan, udah lepasin aku, aku harus mandi, Rayden pasti nyari" kata Zoya merasa harus cepat-cepat melepaskan dirinya.
"Nanti aja, aku masih pengen gini" kata Dewa malah menenggelamkan wajahnya di leher Zoya dan memberikan kecupan-kecupan yang membuat Zoya kegelian.
"Ssshh...mau apalagi? Nggak capek apa?" kata Zoya merinding, ia sudah tak sanggup rasanya kalau Dewa akan mengajaknya bergelut, tadi saja dia sampai kewalahan melayani hasrat suaminya yang tiada habisnya.
"Tidak untuk yang satu ini" kata Dewa dengan cepat menggulingkan tubuhnya menindih istrinya.
"Dewa ih, jangan lama-lama tapi" kata Zoya kaget dengan moving tak terduga Dewa.
"Nggak bisa janji kalau soal itu, kamu tau sendiri gimana aku selama ini" kata Dewa mengerligkan matanya sebelum mencium bibir istrinya.
Mata Zoya terpejam merasakan sapuan manis di bibirnya, ia tak membenarkan ucapan Dewa, entah bagaimana tapi yang jelas, Dewa bisa lebih tahan lama ketimbang dirinya.
"Ah! Dewa, aku nggak bisa kalau gini" teriak Zoya menjambak rambut Dewa saat pria itu bermain di bawah sana, ia tak tahan jika Dewa melakukan itu.
Dewa tak menghiraukannya, ia malah sengaja menciumi bagian favoritnya hingga menimbulkan suara berdecak membuat Zoya semakin blingsatan.
"Dewa Really....Oh...sh itt!! Now" Zoya menahan dirinya untuk tidak menendang kepala Dewa.
Mungkin jika kamar itu tidak kedap suara, semua orang akan mendengar teriakan dan makian Zoya seiring dengan apa yang dilakukan Dewa, sepertinya Dewa akan keluar dari sana dengan kondisi babak belur.
*****
"Ayah! Ibu" Rayden langsung berteriak riang saat melihat kedatangan kedua orang tuanya.
Dewa dan Zoya tersenyum saat melihat Rayden, namun wajah Zoya tampak terlihat kuyu dan pucat karena kelelahan, sedangkan Dewa full senyum dan tampak begitu segar.
"Rayden udah makan sayang?" kata Zoya mengelus rambut anaknya yang tampak bersandar manja di pangkuannya.
"Belum, aku nunggu Ayah sama Ibu" kata Rayden lagi.
__ADS_1
"Baiklah, kita akan makan bersama setelah ini" kata Dewa ikut mengelus lembut kepala Rayden lalu meminta pelayan menyiapkan makannya.
Anderson juga ikut bergabung bersama keluarga kecil putranya itu.
"Bagaimana kalau setelah ini kita jalan-jalan? Rayden mau nggak?" kata Dewa sebelum memulai makan malamnya.
"Mau Ayah, kemana?" kata Rayden semangat.
"Rayden maunya kemana?" kata Dewa.
"Aku mau ke mall Ayah, mau main mobil-mobilan kayak dulu lagi" kata Rayden.
"Oke, habiskan dulu makanannya, kita langsung berangkat setelah ini" kata Dewa lagi.
"Asyik.....Kakek ikut kan?" kata Rayden menatap kakeknya yang akhir-akhir ini sangat dekat dengannya.
"Tidak, Kakek dirumah saja, Rayden pergi sama Ayah dan ibu" kata Anderson tersenyum kepada cucu kesayangannya.
"Kenapa kakek nggak ikut? Disana seru lo kek, aku udah pernah di ajak sama Ayah" kata Rayden.
"Iya Ayah, kenapa Ayah nggak ikut? Kalau pergi bareng, pasti lebih seru" kata Zoya ikut menimpali.
"Harusnya kamu maksa Ayah buat ikut tadi" kata Zoya ketika mereka sedang perjalanan menuju Mall.
"Kenapa?" kata Dewa.
"Kasihan dia di rumah vila sendirian" kata Zoya tampak sendu tatapan matanya.
"Tidak apa-apa, Ayah akan baik-baik saja di rumah" kata Dewa.
"Aku tau Dewa, saat ini aku sudah tidak punya siapapun lagi di dunia ini, hanya ada Ayah Anderson yang kita punya saat ini dan aku ingin memberikan banyak waktu untuk beliau selama beliau masih ada di dunia ini" kata Zoya kembali berkaca-kaca jika mengingat Ayahnya. Kenapa hatinya terasa sangat sakit jika mengingat itu semua.
"Pasti, mulai saat ini aku akan banyak menghabiskan waktu bersama keluarga kita, menciptakan banyak momen yang akan selalu kita kenang sampai kita tua nanti" kata Dewa berjanji pada dirinya sendiri akan mengutamakan keluarga di atas segalanya.
"Kita akan bersama menjalaninya Dewa" kata Zoya tersenyum tipis.
"Sudah jangan sedih, tersenyum dong, mau aku ajak jalan-jalan loh ini, ya kan Ray?" kata Dewa menghibur Zoya yang masih teringat mendiang Ayahnya itu.
__ADS_1
"Iya Ayah" kata Rayden mengiyakan saja.
"Hahaha....Rayden mau main apa aja disana nanti?" kata Dewa tertawa gemas melihat tingkah anaknya.
"Mau main mobil-mobilan, mandi bola ......."
Rayden menyebutkan semua jenis permainan yang diinginkannya, tapi ucapannya itu seperti tenggelam dalam lamunan Zoya yang menatap Dewa yang menimpali anaknya dengan begitu antusias. Rasanya kini ia sudah menjadi wanita yang paling bahagia di dunia, memiliki suami yang sempurna dan juga anak yang pintar, benar-benar hidup yang indah.
Malam itu Dewa benar-benar menuruti semua keinginan putranya, mencoba berbagai permainan yang ada di Mall, tak lupa mengajak Zoya berbelanja baju dan lainnya.
"Aku bingung pilih yang mana, semuanya bagus" kata Zoya saat memilih baju.
"Menurut kamu bagusan ini atau yang ini?" kata Zoya menunjukkan dua stell dress dengan warna berbeda.
Dewa menatap dua dress bergantian lalu menatap Zoya yang memasang wajah imutnya itu.
"Yang tengah lebih cantik" kata Dewa sempat membuat kebingungan namun saat tersadar wajahnya tersipu-sipu.
"Jangan mulai deh, yaudah aku pilih yang ini aja"kata Zoya memilih dress yang menurutnya paling srek di hatinya.
"Iya kamu lanjutin aja, aku akan tunggu disana sama Rayden" kata Dewa menunjuk sofa dengan dagunya.
Zoya hanya mengangguk singkat dan kembali melanjutkan belanjanya, dia sebenarnya tidak suka baju-baju model dress seperti ini, tapi entah kenapa dia begitu ingin membeli baju-baju bermodel cewek kue, alias berwarna-warna cerah.
Saat ia menyelesaikan belanjanya, Zoya segera menghampiri Dewa, tapi ia baru sadar kalau sejak tadi suaminya menjadi santapan para wanita-wanita yang berada di mall itu. Meskipun membawa anak, tapi masih banyak wanita yang begitu terpesona dengan suaminya. Sungguh bahaya sekali, pikirnya.
"Sudah?" tanya Dewa.
"Udah, kenapa?" kata Zoya tiba-tiba kesal sendiri karena suaminya ini menjadi tatapan para wanita itu.
"Mau pulang sekarang?" kata Dewa.
"Ya iyalah pulang sekarang, kenapa? Kamu mau disini terus biar bisa tebar pesona dengan cewek-cewek itu?" kata Zoya ketus.
"Kamu ngomong apa sih?" kata Dewa heran melihat perubahan sikap Zoya itu.
"Tau ah, aku mau pulang" kata Zoya lagi dengan wajahnya yang bete membuat Dewa semakin keheranan, apa apa dengannya?
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.