
Pulau Bintan merupakan destinasi andalan di Kepulauan Riau. Destinasi ini terkenal akan deretan resor mewahnya, lapangan golf kelas dunia, dan tak ketinggalan, keindahan pesisir pantainya yang menakjubkan. Disana kita juga bisa merasakan sensasi petualangan sekaligus hiburan, Bintan adalah opsi yang tepat untuk mendapatkan liburan yang menyenangkan dan mengesankan.
Sesampainya di Pulau Bintan, Dewa segera mengajak keluarga kecilnya untuk ke Resor yang lokasinya paling dekat dengan pantai. Disana juga banyak sekali tempat wisata yang sangat unik, seperti treasure Bay.
Kolam renang terbesar yang berada di kawasan Asia Tenggara. Kolam renang besar ini terletak di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Kolam renang ini memiliki panjang hingga 800 meter.
Juga berbagai olahan makanan yang khas dan unik, selain itu juga Pulau ini sangat unik karena lokasinya yang berdekatan dengan Negara tetangga, yaitu Singapura dan Malaysia. Jadi tak jarang kalau banyak pengunjung dari luar negara kita.
"Tempatnya bagus banget sayang, udaranya sejuk banget," Zoya menghirup dalam-dalam bau angin pantai yang khas.
Dia berdiri di balkon kamarnya yang menunjukkan pemandangan alam dan juga pantai yang terbentang luas. Semilir angin pun tampak menerpa lembut membuat udaranya sangat sejuk.
"Ya kita akan sering-sering kesini nanti, tempatnya nyaman," sahut Dewa ikut bergabung dengan Zoya melihat pemandangan dari balkon kamar.
"Apa kita tinggal disini aja? Setiap hari biar kita lihat pantai," kata Zoya.
"Boleh, sesuai keinginanmu" kata Dewa setuju saja.
"Serius? Kita bisa tinggal disini? Tapi nanti gimana pekerjaan kamu?" tanya Zoya mengernyitkan dahinya.
"Ya biarkan saja di urus Bayu, aku disini nemenin kamu," kata Dewa dengan tawa kecilnya.
"Terus kita makan apa kalau kamu nggak kerja? Daun?" kata Zoya mencibir.
"Nggak mungkinlah aku biarin anak istri aku makan daun, aku bakalan kerja disini aja, kita hidup sederhana kayak dulu," kata Dewa.
"Kalau itu bodoh namanya, udah punya hidup enak kenapa malah milih susah," kata Zoya menggelengkan kepalanya, tak mengerti jalan pikiran Dewa.
"Aku pikir itu romantis, kita akan tinggal di rumah sederhana lalu membesarkan anak-anak kita sampai dewasa dan kita akan menua bersama disana," kata Dewa membayangkan momen itu, pasti hidupnya akan sangat indah jika bisa bersama Zoya selamanya.
Zoya tersenyum, ia lalu menyandarkan kepalanya di bahu Dewa. "Aku juga sangat ingin kita seperti itu. Tapi menurutku apapun keadaannya, jika kau bersamaku, semuanya akan baik-baik saja," kata Zoya.
"Kau benar, selama kita bersama maka semua akan baik-baik saja" ucap Dewa mencium lembut kening istrinya.
__ADS_1
"Maafkan aku," kata Zoya.
"Untuk?"
"Belakangan ini aku sering berpikiran buruk dan selalu mengkhawatirkan hal yang berlebihan, aku hanya takut jika aku seperti ibuku Dewa, aku sangat ingin mendampingi mu dan anak-anak kita nanti" kata Zoya mengutarakan segala hal yang mengganggunya selama ini.
"Jangan takut, bukankah kau bilang jika aku bersamamu, semua akan baik-baik saja? Yakinlah, kau pasti bisa melewati semuanya dengan lancar. Aku juga sangat yakin anak kita juga ingin Ibunya selalu bersamanya. Kau pasti bisa, aku bersamamu," kata Dewa meyakinkan istrinya agar tak berpikiran negatif.
"Saat aku melahirkan nanti, kau akan menemaniku kan?" tanya Zoya.
"Pasti, aku pasti akan menemanimu. Aku sudah melewatkan banyak hal tentang Rayden, dan sekarang aku tidak akan mengulangi kesalahan itu untuk kedua kalinya. Saat anak kita lahir di dunia ini, aku pastikan, aku yang pertama kali menggendongnya" kata Dewa dengan suara tegasnya.
"Aku sudah tidak sabar menantikan momen itu tiba," kata Zoya mengelus perutnya dengan penuh cinta.
"Dua minggu lagi," kata Dewa ikut mengelus perut istrinya.
Seolah mengenali sentuhan sang Ayah, bayi dalam perut Zoya berputar-putar dan menendang dengan keras hingga membuat Zoya sedikit kesakitan.
"Aduh..." pekik Zoya tak bisa menahan suaranya.
"Anakmu menendang dengan kuat," kata Zoya mengadu.
Dewa langsung menunduk dan mencium anaknya. "Jangan menendang terlalu kuat, kasihan Ibu sakit, jadi anak baik di perut ibu," bisik Dewa.
"Lihatlah, dia benar-benar anakmu. Dia hanya mau mendengar perkataan mu," kata Zoya memasang wajah cemberutnya.
"Sudah, ayo kita masuk. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," kata Dewa merangkul pundak istrinya lalu membawanya masuk kedalam kamar.
"Sesuatu?" Zoya langsung curiga jika Dewa sudah berkata seperti itu.
"Iya TKP baru, aku yakin kau akan suka" bisik Dewa membuka pintu lain yang menghubungkan kamar tidur itu dengan sebuah kolam air hangat.
Mata Zoya langsung berbinar melihat hal itu, ia sudah membayangkan akan sangat nyaman jika berendam disana, mungkin otot-ototnya yang lumayan pegal akan sedikit rileks.
__ADS_1
Dewa memeluk istrinya lembut, Zoya pun langsung mengalungkan tangannya di leher suaminya.
"Ada banyak hal yang aku lalui di dunia ini, tapi ada satu yang paling aku syukuri karena hidup dunia ini. Yaitu karena aku bisa mengenalmu Zoya," ucap Dewa dengan tatapan lembutnya.
"Aku juga sangat bersyukur bisa mengenalmu, i love you now, tomorrow and so on," ucap Zoya membalas tatapan teduh itu.
Perlahan namun pasti, Dewa mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir manis Zoya dengan sangat dalam dan cepat. Dalam hitungan detik saja, Dewa sudah berhasil melepaskan semua kain yang membalut tubuh istrinya.
Dewa melepaskan ciumannya sejenak, nafas keduanya terengah-engah karena ciuman panasnya. Ia lalu membimbing tubuh istrinya untuk masuk kedalam kolam air hangat itu.
"Jangan melakukannya disini, aku masih mau menikmati pemandangannya," kata Zoya.
"Hahaha, aku tidak segila itu sayang. Kita mandi saja dulu, air hangat ini sangat cocok untuk membuat tubuh lebih rileks," kata Dewa tertawa saat melihat wajah istrinya.
Zoya mengangguk singkat, ia benar-benar menikmati acara berendam nya di dalam kolam air hangat itu. Ia bahkan langsung tertidur begitu menyelesaikan mandinya.
Sore harinya, mereka semua sudah bersiap untuk bermain di pantai Lagoi Bay. Untuk acara berenang, Dewa menjanjikan kepada putranya besok pagi, karena jika sore udara disana sangat tidak baik jika untuk bermain.
"Kakek! Kakek! Ayo main bola disana, sama Ayah juga, ayo kakek," Rayden begitu antusias menarik Anderson untuk bermain di pasir pantai.
"Rayden! Jangan lari-lari sayang, kasihan Kakek capek," ujar Zoya mengingatkan putranya agar tidak terlalu bersemangat menarik Kakeknya yang sudah tua.
"Ibu! Aku mau main pasir, ayo sama ibu juga" kata Rayden.
"Ibu kan lagi hamil besar Sayang, jadi Rayden main sama Kakek dan Ayah aja," kata Anderson memberi pengertian kepada cucunya.
"Baiklah, ayo main kalau begitu Kek, Ayah!" kata Rayden lagi.
"Iya Ayah nyusul," teriak Dewa mencarikan tempat yang nyaman dulu untuk istrinya.
"Kamu duduk disini aja, aku nemenin Rayden main dulu. Kalau kamu butuh apa-apa, panggil aja aku,"
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.