I'M FINE

I'M FINE
Rasa Cinta.


__ADS_3

Dewa hanya diam saja, wajahnya sangat dingin tertimpa remangnya cahaya rembulan. Dia kemudian menatap Zoya tajam membuat wanita itu gugup seketika.


"Dewa, aku bisa jelaskan" kata Zoya sepertinya tau kenapa Dewa terlihat marah itu, dan ia takut jika pria itu akan melampiaskan amarahnya kepadanya.


"Tadi aku...." kata Zoya ingin menjelaskan tapi tiba-tiba saja Dewa mendekatkan wajahnya lalu memegang kedua sisi kepalanya dan mencium bibirnya dengan sedikit kasar.


Zoya membesarkan matanya karena ciuman dadakan ini, tapi hanya sekejap dan Dewa melepaskannya lalu memandangnya sendu membuat Zoya kebingungan.


"Jelaskan nanti saja, aku sangat merindukanmu" kata Dewa dengan tatapan teduhnya.


Tatapan yang selalu diberikan pada Zoya, tatapan rindu dan cinta hingga membuat Zoya seperti berhenti bernafas. Jantungnya kembali berdetak tak karuan. Tubuhnya mematung saat Dewa kembali mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya sangat lembut hingga ia memejamkan matanya.


Perlahan Dewa mencium Zoya dengan penuh rindu dan juga kehausan. Tidak seperti kemarin yang penuh pemaksaan dan nafsu. Ciuman kali ini menemukan iramanya, dari halus, pelan hingga berubah menjadi cepat.


Zoya pun larut dalam perasaan yang tercipta, ciuman penuh rasa yang membara itu terjadi dibawah cahaya bulan purnama. Saat ciuman itu semakin memanas, tiba-tiba lampu mobil menyala tepat diatas Dewa dan Zoya yang berpaut mesra. Orang-orang pasti melihat apa yang terjadi di dalam mobil yang sedikit bergoyang itu.


Aldin mengepalkan tangannya erat, sangat kuat hingga tangannya terasa kebas. Aldin awalnya ingin keluar dari mobilnya untuk menghantam siapa saja pria yang berani mencium Zoya, tapi melihat bagaimana Zoya menikmati ciuman mesra itu, dia mengurungkan niatnya. Lagipula apa tidak lucu jika dia tiba-tiba marah, toh selama ini Zoya juga tidak merespon perasaannya.


Kenapa Zoya harus berbohong padanya? Kenapa wanita itu mengatakan ingin bekerja? Apakah ini pekerjaannya yang sekarang? Tapi siapa pria itu? Kenapa dengan mudah bisa meluluhkan hati Zoya? Lalu bagaimana pengorbanannya selama ini? Apakah hanya akan sia-sia?


Aldin memukul setir mobilnya dengan keras, dia sangat frustasi sekali hingga rasanya ingin sekali berteriak keras. Hatinya panas sekali, namun dia bisa apa?. Aldin kemudian memundurkan gigi mobilnya dan meninggalkan tempat itu segera. Dia harus mencari tau siapa pria yang berani mendekati Zoya.


Zoya membuka matanya saat Dewa melepaskan ciumannya, ia kaget saat melihat lampu mobil yang menyala. Semua orang pasti bisa melihat apa yang terjadi, untung saja tempat itu cukup sepi.


Dewa melirik kebelakang mobilnya, Zoya yang melihat itu mengerutkan dahinya.


"Ada apa?" tanya Zoya bingung. Bibirnya terasa sedikit basah karena ciuman panasnya dengan Dewa barusan.


"Pria yang berada di rumahmu tadi sudah pergi" kata Dewa kini beralih menatap Zoya.

__ADS_1


"Aldin?" kata Zoya kaget.


"Apa hubunganmu dengannya?" kata Dewa sedikit mengintrogasi. Dia menahan dirinya untuk tidak memeluk wanita indah ini segera.


"Tidak punya hubungan apapun. Jadi kau tadi sengaja melakukan itu?" kata Zoya kesal sekali. Sial! dia pikir Dewa menciumnya dengan penuh perasaan karena memang ingin, tapi ternyata hanya untuk hal lain.


"Tidak, aku hanya ingin menegaskan padanya kalau kau itu hanya milikku. Baginya sudah tidak ada lagi kesempatan, kau adalah wanitaku bukan?" kata Dewa meraih dagu Zoya hingga bertatapan dengannya. Ia mengusap bibir basah wanita itu dengan jarinya.


"Bukan" kata Zoya ketus menutupi salah tingkahnya.


"Kau tidak ingin menjadi wanitaku?" kata Dewa tak melepaskan tatapan matanya.


"Kau ini apaan sih, sebenarnya apa maumu? Aku ingin pulang" kata Zoya kesal karena ucapan Dewa.


"Tidak mau juga? Bagaimana kalau menjadi istriku?" kata Dewa membuat Zoya membesarkan matanya.


Zoya menatap Dewa tak percaya, Dewa ini kenapa bertingkah sangat aneh seperti ini? Apa dia baik-baik saja?


"Aku selalu serius dengan perkataan ku. Tapi aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu, jika pria yang bersamamu itu bukan pria baik, sekarang aku ingin dia tau, jika dia mempunyai perasaan lebih padamu, dia harus membuangnya jauh-jauh karena aku sangat tidak suka jika ada yang mengusik wanitaku. Setelah ini bisakah aku minta padamu untuk menjauhinya?" kata Dewa tampak begitu dewasa mengatakannya.


Zoya terdiam memandang Dewa, jika Dewa bersikap kasar atau marah padanya, ia bisa dengan mudah membantahnya. Tapi saat Dewa bersikap sangat manis seperti ini, kenapa mulutnya bahkan tak bisa sekedar untuk bersuara. Dia malah terhipnotis menganggukkan kepalanya perlahan membuat Dewa mengembangkan senyum manisnya.


Dewa lalu melajukan mobilnya kembali, Zoya pikir Dewa akan membawanya ke Apartemen untuk melakukan hal biasanya, tapi Dewa malah mengantarkannya pulang.


"Kau mengantarku pulang?" tanya Zoya tak percaya.


"Ya, apa kau mau tidur denganku saja malam ini?" kata Dewa melirik Zoya sekilas.


"Ha? Tentu saja tidak, kalau begitu aku akan turun dulu, terimakasih sudah mengantarku pulang" kata Zoya cepat-cepat membuka sabuk pengamannya dan ingin segera turun.

__ADS_1


"Tunggu dulu" kata Dewa menarik tangan Zoya lembut.


Zoya pikir Dewa akan kembali mencium bibirnya, tapi ternyata dia salah karena Dewa mencium dahinya cukup lama lalu melepaskannya.


"Selamat malam, berhati-hatilah" kata Dewa mengelus pipi Zoya yang mendadak panas dan memerah.


"Ya, ya, pasti" kata Zoya tak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak tersenyum.


Perlakuan Dewa ini bukan membuat hatinya saja yang bergetar, tapi tubuhnya terasa panas dingin. Entah kenapa sekarang dia enggan sekali berjauhan dengan Dewa. Apakah itu artinya hatinya yang dulu terbuka kembali?


Dewa memastikan sampai Zoya tak terlihat, ia kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Bayu.


"Dimana dia?" kata Dewa dengan aura menggelap. Suaranya pun tak lagi lembut seperti tadi, tapi diiringi kemarahan yang nyata.


"Sesuai dugaan, dia langsung kembali Ke Bandung setelah Paman Anderson meneleponnya" kata Bayu melaporkan.


"Baiklah, kau juga sudah menyiapkan penerbangan untukku?" kata Dewa lagi.


"Sudah, kau tinggal berangkat" kata Bayu lagi.


Dewa mengangguk dan mematikan sambungan telepon itu. Matanya yang tajam berkilat-kilat penuh amarah dan dendam yang membara. Dewa tak akan melepaskan pengkhianat itu begitu saja. Baginya tidak ada kata maaf untuk pengkhianat, apapun itu alasannya.


Dewa sengaja belum mengatakan kepada Zoya kalau dia sudah mengetahui tentang kebenarannya. Dia harus mengurus masalah Aldin terlebih dulu, barulah Dewa akan kembali untuk menjemput Zoya dan putranya pulang.


"Zoya...tunggu aku...Aku pasti kembali untukmu dan putra kita. Semoga masih ada kata maaf untukku di hatimu...."


Happy Reading.


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen yah...


Terimakasih.


__ADS_2