
Hari sabtu ini sebenarnya akan menjadi hari libur untuk Zoya dan juga Rayden, mereka berpikir akan menghabiskan waktu mereka untuk beristirahat di rumah. Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi karena pagi tadi Dewa mengatakan akan mengajak Zoya pergi.
"Kita akan pergi kemana sih? Harus banget ya dandan rapi gini?" kata Zoya sedikit bingung saat Dewa menyuruhnya memakai baju yang rapi.
"Kan aku udah bilang kalau ini rahasia, jadi kamu bakalan tau nanti" kata Dewa memeluk Zoya dari belakang, ia menatap wajah mereka berdua dari pantulan cermin.
"Pakai rahasia segala, tapi Rayden ikut kan?" kata Zoya mencubit gemas tangan Dewa yang melingkari perutnya.
"Enggak, ini acara kita berdua, nanti sama Rayden ada waktunya sendiri" kata Dewa rasanya tak rela jika harus melepaskan pelukan itu.
"Baiklah, jangan lama-lama tapi, aku nggak tenang kalau ninggalin Rayden di rumah sendirian" kata Zoya.
"Rayden kan sama Ayah, kamu jangan terlalu khawatir, dia sudah besar dan sudah pintar sekarang, apalagi kalau Rayden punya adik nanti" kata Dewa tersenyum jahil.
"Adik apaan? Rayden masih terlalu kecil untuk punya adik lagi" kata Zoya merasa ucapan Dewa ini nyeleneh.
"Enggak apa-apa, aku masih sanggup kok, aku belum punya anak perempuan, jadi aku ingin satu" kata Dewa terus menggoda Zoya.
"Ya kita akan buat satu nanti" kata Zoya cukup mengiyakan saja daripada Dewa terus ngelantur.
"Benar ya? Apa mau kita cicil dulu?" kata Dewa mulai nakal menciumi pundak Zoya yang begitu harum.
"Kamu pikir barang kreditan bisa dicicil segala, udah sana ah, katanya mau keluar" kata Zoya kegelian saat bibir basah Dewa menyentuh kulitnya.
"Iya iya kita berangkat sekarang, awas ya nanti kalau kita udah nikah, aku pasti akan mencabik-cabik dirimu" bisik Dewa mengigit pelan telinga Zoya lalu melepaskannya dan mengajak wanita itu untuk berangkat.
Zoya sedikit bergidik mendengar ucapan Dewa, pikirannya mendadak terkontaminasi dengan malam-malam panas mereka saat Dewa membawanya ke pulau waktu itu.
"Sialan! Kenapa otakku jadi mesum begini sih" gerutu Zoya dalam hatinya.
__ADS_1
****
ZDX GROUP.
ZDX group adalah nama perusahan Ayahnya Zoya, hari ini di kantornya akan diadakan rapat pemegang saham. Davies sebenarnya sudah mencoba berbagai cara untuk mempertahankan kepercayaan kliennya pada Zachary, tapi entah apa yang membuat mereka tiba-tiba tidak memihak kepadanya dan lebih memilih menjual saham mereka dengan harga murah.
Davies sudah bisa menebak kalau Dewa yang berada dibalik ini semua, hanya saja ia tak menyangka kalau kekuasaan Dewa itu bukan main-main, Davies terlalu menganggap remeh pria itu hingga dia lengah dan membuat Dewa bisa menghancurkannya ke titik ke rendah.
"Ayah, apakah menurut Ayah, mereka masih bisa memihak kita?" kata Zachary resah karena nasibnya akan ditentukan hari ini.
"Tenang saja, meskipun mereka tidak memihak kita, posisimu masih tetap aman, saham Ayah masih tetap yang tertinggi di perusahaan ini" kata Davies menangkan kegusaran putranya itu.
"Ini semua gara-gara Ayah, kenapa sih Ayah harus berurusan lagi dengan anak pembawa sial itu" kata Zachary kesal karena ia yakin alasan Dewa menyerang perusahaannya karena Ayahnya ini menganggu Zoya.
Anak itu memang pembawa sial sekali, padahal Zachary berharap kalau Zoya akan mati saat kecelakaan itu, tapi ternyata masih hidup.
"Ayah tidak akan membiarkan anak itu hidup bahagia selama Ayah masih hidup, dia sudah memisahkanku dengan ibumu dan dia juga harus merasakan bagaimana rasanya dipisahkan dengan orang dicintainya" kata Davies mengepalkan tangannya erat, emosinya kembali memuncak jika mengingat istrinya yang harus mati karena melahirkan Zoya.
"Aku dengar, dia merupakan salah satu pebisnis muda di kota ini, apa mungkin Tuan Zachary sudah mengenalnya?" kata salah satu kolega Zachary.
"Tidak, aku tidak mengenalnya Tuan Marco, lagipula bukanlah pebisnis muda yang paling terkenal disini hanya aku Tuan Marco" kata Zachary dengan senyum angkuhnya, sejauh ini memang belum ada yang menandingi kehebatannya selama berbisnis.
"Mungkin itu dulu Tuan Zachary yang terhormat, tapi saya rasa kali ini anda harus mundur" tiba-tiba terdengar suara berat pria dari arah belakang Zachary membuat pria itu langsung menoleh.
Zachary membesarkan matanya begitu melihat sosok Dewa ada disana, matanya menyipit curiga, apa jangan-jangan orang yang membeli saham di perusahannya itu adalah Dewa.
"Anda terlihat terkejut Tuan Zachary? Oh, saya lupa mengenalkan diri, saya Dewangga Clark pembeli saham di perusahaan anda" kata Dewa mengulurkan tangannya dan mengulas senyum mengejeknya yang tidak terlalu terlihat.
Semua orang itu langsung berbisik-bisik saat tau jika Dewangga Clark yang sudah membeli saham perusahaan yang hampir bangkrut itu, dari mereka mungkin ada yang sudah mengenal Dewa namun juga ada yang belum.
__ADS_1
Zachary menatap Dewa tajam, ia benci dan juga sangat marah, harga dirinya terasa diinjak-injak oleh Dewa. Bagaimana pria miskin yang dulu di singkirkan dari kampusnya ini datang kembali dan menghinanya seperti ini.
"Aku tidak sudi bersentuhan dengan pria miskin seperti dirimu" kata Zachary menahan suaranya agar tidak terlalu keras.
"Yah sayang sekali niat baikku di tolak" kata Dewa menarik uluran tangannya dengan santai lalu mengambil duduk tepat di samping Davies yang sudah lebih duduk dan kini menatap Dewa dengan sorot mata penuh kebencian.
"Selamat pagi Tuan Davies, sepertinya pagi anda cukup tidak baik hari ini" kata Dewa mengulas senyumnya, dengan sengaja membuat Davies kesal.
"Baiklah, karena semua sudah berkumpul, kita bisa langsung memulai rapat ini" kata Davies tak ingin menuruti emosinya dengan melanggati Dewa, dia harus bersikap profesional.
"Tunggu dulu" kata Dewa tiba-tiba.
"Ada apalagi?" kata Zachary menyahut kesal.
"Maafkan aku Tuan Zachary, tapi sebelum rapat ini dimulai, aku hanya ingin mengatakan kalau sebenarnya aku membeli saham perusahaan ini atas nama calon istriku, jadi seharusnya dia juga harus duduk disini bukan?" kata Dewa membuat Davies dan Zachary kaget.
"Ya silahkan Tuan Dewa, sebagai pemilik saham disini, maka calon istri anda juga berhak ikut dalam rapat ini" kata Marco menjawab karena Davies dan Zachary hanya diam saja.
"Terimakasih, kalau begitu aku akan memanggilnya sebentar" kata Dewa tersenyum penuh kemenangan, ia kemudian bangkit dan berjalan keluar untuk memanggil Zoya lalu mengajaknya masuk kedalam.
"Dewa, aku takut" kata Zoya ragu jika harus bertemu Ayahnya.
"Tidak apa, aku akan selalu bersamamu, nanti didalam kau tidak perlu melakukan apapun, cukup diam saja, aku yang akan mengatasinya, oke" kata Dewa mencium hidung Zoya sekilas untuk menghilangkan kegugupan wanita itu.
Zoya menarik nafasnya dalam-dalam, dia harus tenang, dia harus bisa melawan rasa takut ini. Dia adalah Zoya, wanita yang tidak takut oleh apapun dan siapapun. Zoya masuk kedalam ruangan itu dengan dagu terangkat dan menunjukkan kelasnya. Selama dia tidak bersalah maka jangan pernah sekalipun menundukkan wajah
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1
Mohon like dan komen dong kak....
Syedihh lihat like dan komen makin nipis... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜