
Ini adalah hari ke 7 Dewa berada di Jakarta. Semakin lama Dewa berada disana, entah kenapa perasaan Zoya mulai cemas. Apalagi akhir-akhir ini Dewa jarang menghubunginya seperti biasanya. Zoya merasa memang ada yang sengaja di sembunyikan oleh suaminya itu. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan berita yang Ayah mertuanya beberapa saat lalu.
Akhirnya daripada menerka-nerka yang membuat hatinya tak tenang, Zoya memberanikan diri untuk menonton televisi, ia mencari chanel yang biasanya memberitakan tentang berita terbaru saat ini. Tapi tak ada berita apapun yang perlu di khawatirkan.
"Ibu!" suara Rayden terdengar memasuki kamarnya membuat perhatian Zoya teralihkan.
"Ada apa sayang?" tanya Zoya mengulas senyum tipisnya.
"Aku ada PR menggambar, Ibu bantuin ya?" kata Rayden membawa tas sekolahnya.
"Menggambar apa?" tanya Zoya lagi mengajak anaknya untuk duduk di karpet kamarnya.
"Terserah, Aku pengen buat Excavator" kata Rayden mengeluarkan buku dan alat-alat menggambarnya.
"Excavator? Memangnya Rayden bisa?" kata Zoya mengerutkan dahinya.
"Enggak sih, tapi Ayah pernah buatin. Aku pengen buat lagi sekarang," kata Rayden tersenyum malu.
"Ayah kapan pulangnya Ibu?" tanya Rayden sebelum mulai menggambar.
"Belum tau, kenapa?" ucap Zoya jujur saja, ia juga tidak tau kapan Dewa pulang.
"Tidak apa-apa. Pengen ketemu Ayah" ucap Rayden sambil lalu.
Zoya memperhatikan Rayden yang tekun menggambar, meskipun umurnya masih 5 tahun, Rayden sudah bisa menggambar cukup bagus. Hanya saja jika mewarnai masih cukup belepotan membuat Zoya harus sedikit merapikannya.
"Kalau mewarna itu nggak boleh keluar dari garisnya Kak, harus rapi" ucap Zoya menasehati putranya.
"Iya, Ibu aku haus" kata Rayden.
"Bentar Ibu ambilkan, kamu selesaikan ya mewarnainya, setelah itu tidur siang" kata Zoya bangkit dari duduknya. Ia sedikit memegangi perutnya yang mulai tak nyaman jika di gunakan untuk terlalu lama duduk di bawah.
Zoya kembali setelah mengambilkan minum untuk Rayden, dilihatnya anaknya itu sedang duduk seraya melototi layar televisi.
__ADS_1
"Loh Kak? Udah selesai menggambarnya?" tanya Zoya.
"Belum, aku mau lihat Ayah Ibu" kata Rayden membuat Zoya mengernyitkan dahinya.
"Lihat Ayah dimana?" tanya Zoya tak mengerti.
"Itu Ayah, tapi nggak kelihatan, itu tadi Ayah Bu, ada Om Bayu juga," kata Rayden menunjuk televisi yang menyala.
Kerutan di dahi Zoya semakin dalam, ia melihat layar televisi yang masih menyala itu. Disana memang menayangkan sebuah berita tentang seorang pengusaha yang dinilai tidak bertanggung jawab dengan para korban yang berjatuhan karena kesalahan di proyek yang sedang di bangun.
"Kembali lagi di berita pagi, hari ini masih belum ada kejelasan resmi dari DC (26th), selaku Pemimpin perusahaan Jasa Kontruksi yang mengalami kegagalan bangunan pada Selasa 12 Sept 20XX. Bangunan Mall tujuh lantai yang terletak di kompleks Cendrawasih Permai, Jl. Ahmad Yani, Jakarta Pusat, saat masih dalam proses pengerjaan yang menyebabkan 12 pekerjanya tewas. Bangunan ini memiliki lebar 100m dan panjang 100 m dengan biaya konstruksi senilai kurang lebih 15 Milyar rupiah"
Deg
Jantung Zoya tiba-tiba mendadak berdetak kencang saat mendengar berita yang tersiar itu. DC? Apakah suaminya Dewangga Clark?
Belum selesai dari keterkejutannya, lagi-lagi ada berita yang datang seperti gelombang tsunami yang membuat kaki Zoya langsung lemas saat digunakan untuk berpijak.
"Sampai berita ini diliput, DC masih belum memberi klarifikasi apapun. Para korban sudah menuntut DC untuk melakukan tanggung jawab, namun isu yang beredar, DC malah menolak mentah-mentah dan terus saja menghindar"
Tapi ada hal lain yang lebih dahsyat dari gelombang tsunami yang menghantam hatinya hingga terasa luar bisa menyakitkan. Yaitu saat mendengar bagaimana keluarga korban itu menjelek-jelekkan nama suaminya. Hal itu seperti sebuah pelukan keras yang membuat seluruh tubuhnya luluh lantak.
"Arghhh......." Zoya meringis saat merasakan perutnya yang begitu nyeri, mungkin karena tekanan berlebih membuat perutnya langsung mengalami kontraksi.
"Ibu! Ibu Kenapa?" Rayden kaget saat mendengar ibunya berteriak.
"Ibu..... Argh.... " Rasa sakit itu kembali datang membuat Zoya tak mampu berbicara, perutnya begitu mulas seperti akan melahirkan, sepertinya memang sudah waktunya.
"Ibu kenapa? Ibu jangan menangis?" melihat Ibunya yang menangis kesakitan membuat Rayden malah ikut menangis, ia sangat takut melihat ibunya menangis seperti itu.
"Panggil.. Mba..." ucap Zoya memberi perintah kepada anaknya.
Semakin lama perutnya semakin sakit dan nyeri, ia bahkan sudah bisa merasakan kalau bajunya basah. Zoya memejamkan matanya erat, sesekali mengatur nafasnya untuk mengurangi rasa sakit itu.
__ADS_1
Di bawah, Rayden berlari menuju ruang belakang untuk mencari pengasuhnya. Ia yang sangat ketakutan terus saja menangis membuat Anderson bingung.
"Rayden? Kenapa menangis?" tanya Anderson menghentikan langkah cucunya.
"Ibu sakit Kek, aku mau panggil Mbak" kata Rayden mengusap air matanya pelan.
Mata Anderson membesar, apa mungkin menantunya itu akan melahirkan? Anderson segera melihat Zoya bersama Rayden dan juga pengasuhnya.
"Zoya kenapa? Apakah sudah waktunya?" tanya Anderson dengan wajah cemasnya melihat Zoya kesakitan itu.
"Sepertinya iya Tuan, Nyonya Zoya sepertinya sudah pecah ketuban. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit" ucap Lusi melihat kaki Zoya yang sudah basah.
"Kamu bantuin Nyonya, saya akan meminta supir menyiapkan mobil," kata Anderson bergerak cepat.
"Nyonya kita ganti baju dulu, kita akan ke rumah sakit ya" kata Lusi membantu Zoya.
"Lusi, telepon suami saya" kata Zoya disela-sela rasa sakitnya. Ia tak ingin melahirkan kalau Dewa tidak ada bersamanya.
"Baik Nyonya, saya akan menghubungi Tuan"
Lusi mengangguk dan mengambil ponsel Zoya untuk segera menghubungi Dewa. Tapi sama sekali tidak ada respon, bahkan saat Zoya sudah dipindahkan ke dalam mobil pun, Dewa belum mengangkat sama sekali panggilan itu.
Zoya semakin tak tenang karena suaminya tidak bisa dihubungi, ia benar-benar ingin di temani Dewa saat melahirkan.
"Suami aku mana mba? Dia harus pulang, dia sudah janji," ucap Zoya menahan rasa sakitnya seraya menangis karena Dewa tidak bisa dihubungi sama sekali.
"Nyonya tenang dulu, saya akan menghubungi Tuan Dewa lagi, kita ke rumah sakit ya" ucap Lusi menenangkan Zoya yang sangat gusar itu.
"Aku mau ikut ibu!" Rayden juga berteriak karena melihat ibunya menangis dan kesakitan.
"Rayden sama Kakek nanti kesana, Ibu mau melahirkan adik bayi dulu ya" Anderson membujuk cucunya yang sejak tadi ingin ikut ibunya ke rumah sakit.
Semua orang menjadi panik semua karena Nyonya mereka akan melahirkan tapi Dewa belum pulang. Untung saja Zoya mau menurut saat di bawa ke rumah sakit. Sekarang Anderson yang harus berusaha keras menghubungi putranya yang entah kemana perginya sampai tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.