I'M FINE

I'M FINE
Chapter - 14


__ADS_3

"kenapa bibi tidak membeli apartement pada lantai empat? padahal tempat tersebut sangat cocok melihat pemandangan kota Tokyo."


"saat aku membeli apartement disini aku ingin memilih dilantai 4, namun hanya ada dua yang tersisa tapi itu sudah dibeli pada keluarga Matsuda. dan terpaksa aku membeli pada lantai 5 saja." jelas Yumi.


"bibi, aku sangat bosan berada dirumah."


"kemana orang tua mu?"


"mereka pergi keluar negri selama dua bulan." jelas Taki.


"tinggalah disini, kau bisa bisa memakai kamar tamu ataupun sekamar dengan sepupumu.."


"baiklah, aku akan menelepon pelayan untuj membawa beberapa keperluanku, aku rasa aku akan tinggal disini selama tiga hari apa itu boleh?"


"boleh, lebih lamapun juga tidak apa."


"Maru pasti sangat senang kau berada disini,"


Maru adalah anak laki-laki Yumi, mereka memiliki dua anak, Maru yang seusia dengan Taki, sedangkan adiknya meninggal saat ia masih kecil karena saat bayi jantungnya terlalu lemah.


Cklek, suara pintu terbuka.


"aku pulang," ucap Maru,


"Maru, lihat siapa yang datang?" ucap Yumi.


"Taki?!"


****


Malam hari, ruang tengah apartement Yumi.


"hey nak, bagaimana keadaanmu? Kau sudah sebesar Maru ya," ucap Huang, suami Yumi.


"Aku baik-baik saja paman, aku merasa senang setelah pindah ke Tokyo." lanjutnya dengan sebuah pertanyaan"paman bagaimana dengan perusahaanmu, paman?"


"aku akan memperluas jaringnya hingga keujung bumi," jawabnya dengan tertawa kecil.


"paman, ini sudah malam sebaiknya aku tidur, selamat malam paman dan bibi."


"selamat malam juga Taki," kompak Yumi dan Huang.

__ADS_1


Taki mulai memasuki kamar Maru, ia memutuskan untuk sekamar dengan Maru. Lagian, tujuan ia disini untuk menghilangkan rasa sepi dirinya.


"aku akan tidur di kasur bawah saja," ucap Taki.


Tempat tidur Maru memiliki tempat cadangan kasur dibawa jadi Taki bisa memakainya.


"baiklah,"


Taki menghentikan langkahnya untuk menuju tempat tidur, ia justru melangkah ke arah balkon.


"hey, apa yang kau lakukan?" tanya Maru.


"pemandangan malam kota Tokyo sangat indah,"


Maru segera menghampiri Taki, kini mereka berada di balkon.


"ini sudah jam 10 malam, biasanya ada seorang gadis yang duduk di balkon, dia sangat cantik." bisik Maru pada Taki.


"siapa? dimana?"


"itu dia," tunjuk Maru kearah lantai empat,


Taki menyipitkan matanya agar nampak terlihat jelas,


"apa kah mengenalinya?" tanya Taki.


"tidak, tapi dia sering sekali memandangi lampu malam saat jam sepuluh," jelas Maru.


"Hey nona yang berada dilantai empat!" teriak Maru memanggil gadis tersebut.


"hey nona yang memegang cangkir!"


"hey nona yang berambut sebahu!"


Gadis tersebut meletakan cangkir pada meja kecil yang berada di sebelahnya, kemudian ia bangkit berdiri dan mencari sumber suara tersebut,


"hey disini lantai lima!"


Tepat pada gadis itu menatap Taki dan Maru, apa kalian tahu siapa dia? ya dia gadis yang dikenal dingin dan acuh tak acuh.


"Mei?!" Taki membulatkan matanya, betapa terkejutnya ia.

__ADS_1


Namun berbeda dengan Mei yang memasang muka datarnya, tak senyum maupun terkejut, justru ia memilih menagbil cangkir yang ia bawa dan segera masuk kedalam.


"apa kau mengenalinya?" tanya Maru.


"Ya, dia satu sekolah denganku. Namanya Matsuda Mei,"


"apa kau bisa mengenaliku padanya?" tanya Maru sembari dua pri tersebut masuk kedalam.


"tidak, dia sangat anti sosial dengan orang lain, bahkan jika aku berbicara padanya hanya seperti hembusan angin,"


"apa maksudmu?"


"kadang ia menjawab dengan singkat kadang tidak, seperti angin kadang bersiul kadanb tidak, angin juka dingin dan tidak mempedulikan orang, mata birunya sejernih langit namun sedingin lautan.


"apa kau menyukainya?" tanya Maru.


"ha? tidak aku tidak menyukainya," jawab Taki, segera memasang posisi tidur dan mengabaikan ocehan sepupunya.


****


Mei menaruh cangkir pada tempat pengeringan, ia memilih memainkan piank untuk menghiburnya. Alunan melodi yanb ia mainkan mencerminkan suasana hatinya, kini Mei memainkan sebuah lagu. Nada yang lembut dan indah menggambarkan ketenangan dihatinya, dan ia mulai memainkan nada yang rendah bercampuran nada tinggi yang menggabarkan kegelisahan. tempo yang lambat perpaduan dengan tempo yang cepat,


tess...tess


Air mata mulai mengalir, Mei bangkit berdiri menuju ke cermin. iantepat berada di depan cermin memandanv dirinya sendiri.


"bodoh! kenapa masih bisa bertahan walau sebenarnya lemah!" seru didalam dirinya Mei kepada bayangannya sendiri.


"menangis tidak ada gunanya, menyesal juga tidak ada gunanya, marah juga tidak bisa kembali seperti semula. saya tidak ingin kehilangan lagi."


Mei menyeka air matanya, walah sudah di seka namun air yang terus mengalir tidak bisa dihentikan walau dengan menyingkirkannya.


"*saya tidak ingin setiap orang yang saya sayangi akan menghilang meninggalkan saya,"


"Dewa, saya tidak ingin Makoto yang meninggalkan saya seperti keluarga Matsuda yang lainnya."


"Saya tahu Dewa, Taki ingin menjadi teman saya, tapi bukan hanya Taki saja yanh ingin menjadi teman saya, tapi saya tidak ingin jika mereka akan dalam bahaya jika terlalu akrab dengan saya."


"saya tahu, Makoto berbohong pada saya, dia bukan hanga mengurusi perusahaan saja di luar negri, tetapi dia ingin mencari pelaku yang sudah membuat keluarga Matsuda menderita*."


Emosional yang meluap, Mei ia lemah didalam namun kuat diluar. Ia meliahat Taki dan Maru, teringat akan Makoto dan Momoru. Mereka punya keluarga yang utuh, terlihat jika Taki dan Maru tertawa senang di balkon. Mei menyadaringa itu hanya saya ia acuh tak acuh pada dua pria tersebut.

__ADS_1


__ADS_2