
"Jangan Dewa, untuk apa kau membalas perbuatan mereka, kalau kau membalasnya itu kau sama saja dengannya" kata Zoya kembali mencegah, dia benar-benar tak suka keributan. Mungkin dulu dia memang suka mencari keributan tapi sekarang ia malas sekali rasanya.
Dewa menghela nafas panjang, ia benar-benar ingin membalas perbuatan para ibu bermulut kotor itu, bahkan kini mereka semakin menjadi-jadi membicarakan Zoya. Tapi ia juga tak bisa membantah keinginan Zoya, ia kemudian menatap mereka kembali lalu mengembangkan senyum liciknya.
"Baiklah, kita langsung ke rumah Bibi saja kalau begitu" kata Dewa lagi.
"Iya" kata Zoya tersenyum kecil karena melihat kepatuhan Dewa.
Mereka bertiga lalu melanjutkan langkahnya menuju rumah Bibi Ratih, tapi Zoya kaget saat melihat banyaknya kardus-kardus yang berjejer didepan rumah dan juga didalam rumah. Kardus apa ini?
"Ara, akhirnya kamu pulang juga" kata Bibi Ratih menyongsong Zoya yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri.
"Iya, ini kardus apa Bi? kenapa banyak sekali?" tanya Zoya.
"Bibi juga kaget tadi waktu orang-orang ngirimin banyak barang ini, katanya dari Ayahnya Dewa" kata Bibi Ratih melirik Dewa.
"Kamu ngasih ini ke Bibi?" tanya Zoya kaget.
"Ya, ini tidak ada apa-apanya dengan bantuan yang selama ini beliau berikan. Bibi, aku mengucapkan banyak terimakasih kepada Bibi karena selama ini sudah membantu Zoya dan juga putraku" kata Dewa mengulurkan tangannya dan bersalaman kepada Bibi Ratih.
"Iya Nak, Aku sudah menganggap Ara seperti putriku sendiri, jadi seharusnya tidak perlu repot begini" kata Bibi Ratih terharu saat bisa melihat Zoya bisa berkumpul bersama keluarga kecilnya.
"Tidak repot sama sekali Bibi, ini bahkan tidak sebanding dengan apa yang Bibi lakukan kepada Zoya dan putraku, tolong di terima ya Bi" kata Dewa lagi, ia kemudian mengambil sebuah amplop yang cukup tebal dari saku jasnya dan menyerahkannya kepada Bibi Ratih.
"Apa ini nak? Bibi ikhlas membantu Ara, tidak perlu seperti ini" kata Bibi Ratih menolak.
"Tidak apa Bi, ini sebagai ucapan terimakasih dari Ayahnya Dewa untuk Bibi, aku nggak bisa bales apa-apa, tolong terima Bi" kata Zoya memeluk Bibi Ratih, ia sangat berterimakasih kepada Bibi Ratih karena menjadi satu-satunya orang yang paling mengerti dirinya selama ini.
__ADS_1
"Bibi juga nggak minta apa-apa dari kamu Ara, tolong jangan beri apapun untuk Bibi, melihatmu bisa berkumpul lagi bersama keluargamu, Bibi sudah merasa senang" kata Bibi Ratih lagi.
"Ini berkat doa Bibi juga, setelah ini Bibi ikut aku ya, kita akan pulang ke Bandung" kata Zoya memegang lembut tangan Bibi Ratih.
Bibi Ratih tersenyum dan membalas genggaman tangan itu, namun ia menggeleng. "Tidak usah, Bibi disini saja bersama Arga, jemputlah kebahagiaan kalian sendiri nak, doa Bibi akan menyertai kalian" kata Bibi Ratih.
"Kenapa Bi? Bibi nggak mau tinggal sama aku?" kata Zoya sedih rasanya, selama ini ia sudah menganggap Bibi Ratih seperti ibunya sendiri, dan ia merasa tak rela jika harus berpisah dengan Bibi Ratih.
"Mau, Bibi sangat mau, tapi Bibi disini juga punya tanggung jawab Nak, kalau ada waktu datanglah kesini sesering mungkin, pintu rumah Bibi selalu terbuka untuk kalian" kata Bibi Ratih lagi.
Zoya mengigit bibirnya, jika itu sudah menjadi keputusan Bibi Ratih, ia juga tak bisa memaksanya. Ia pun akhirnya mengangguk lemah.
"Aku pasti akan sering datang, disini tempat Dewa tumbuh dan aku tidak akan melupakannya Bibi" kata Zoya kembali memeluk erat Bibi Ratih.
*****
Semua barang-barang Zoya dan juga Rayden sudah dimasukan kedalam koper dan siap untuk berangkat ke Bandung lagi. Namun Dewa merasa ada sedikit hal yang berbeda dari Zoya.
"Ada apa?" tanya Dewa lagi mendudukkan dirinya di samping Zoya.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingat di rumah inilah Rayden tumbuh, dimana dia bisa merangkak, bisa berjalan, dan bisa memanggilku Ibu" kata Zoya menatap keseluruhan rumah itu, matanya berkaca-kaca mengingat saat Rayden menangis, tertawa atau tertidur di pelukannya.
"Kita akan sering kesini nantinya" kata Dewa merangkul pundak Zoya dan menyandarkan kepalanya dipundaknya.
"Iya" kata Zoya mengusap air matanya.
"Apa yang menggangu pikiranmu?" tanya Dewa lagi, ia merasa kalau bukan itu saja yang membuat Zoya berubah seperti ini.
__ADS_1
"Aku takut" kata Zoya menatap Dewa sendu.
"Aku takut jika aku kembali kesana Ayahku akan menemukanku, aku takut dia akan mengambil anakku dan memisahkan kita, aku sangat takut Dewa" kata Zoya kembali menangis. Ia sangat trauma dengan apa yang Ayahnya lakukan dulu, dan Zoya sangat takut jika harus bertemu kembali dengan Ayahnya jika mereka tinggal di kota yang sama.
"Ssssttt.....tidak akan ada yang bisa memisahkan kita lagi, kita akan selalu bersama-sama Zoya. Aku akan menjagamu dan melindungi keluarga kita, dan aku tidak akan membiarkan siapapun menganggu keluarga kita nantinya, kau percaya itu kan?" kata Dewa memeluk Zoya seraya menepuk-nepuk punggungnya yang bergetar.
Dewa tak habis pikir kenapa ada seorang Ayah yang begitu tega memperlakukan putrinya sendiri seperti ini. Dewa tak akan tinggal diam, dia pasti akan membalas semua perbuatan Ayah Zoya dan juga kakaknya, mereka harus membayar mahal semua penderitaan yang Zoya alami. Dan Dewa bersumpah akan menghancurkan mereka sampai sehancur hancurnya.
"Sudah jangan takut lagi, aku bersamamubZoya. Aku tidak berjanji untuk hal yang tidak bisa aku tepati, tapi mulai detik ini aku berjanji padamu, apapun yang terjadi nantinya jangan pernah melepaskan genggaman tanganku, kita harus menghadapi semuanya bersama-sama. Kau dan aku, akan selamanya seperti itu" kata Dewa memandang Zoya tajam dan juga serius, namun dalam tatapan itu memancarkan cinta yang mendalam.
Zoya mengangguk mantap, Dewa benar, dia tidak boleh lemah dan takut, selama mereka bersama semuanya akan baik-baik saja.
"Mari kita pulang" kata Dewa tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya kepada Zoya yang langsung di genggam mantap olehnya.
Zoya memejamkan matanya singkat, langkah baru akan segera dimulai.
*****
Zoya memberikan pelukan hangat kepada Bibi Ratih dan Arga saat berpamitan, tangis bahagia tampak mewarnai kepergian Zoya kali ini. Namun rangkaian doa pun tak henti mengalir dari bibir Bibi Ratih. Mereka mengantarkan Zoya dan keluarga kecilnya sampai di depan gang, namun saat melewati sebuah rumah yang paling bagus disana, tiba-tiba ada ibu-ibu keluar dari rumah dengan menghadang langkah Zoya.
"Ara!" kata Ibu itu.
Zoya tentu kaget melihat hal itu, namun yang lebih membuatnya kaget adalah Ibu itu tiba-tiba bersimpuh dihadapannya, ibu itu adalah ketua geng gosip di komplek ini, kenapa malah bersikap seperti ini.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1