I'M FINE

I'M FINE
Sang Mempelai.


__ADS_3

Zoya merapikan sedikit penampilan putranya yang sedikit terbuka karena baru saja dari toilet. Setelah itu, barulah Zoya mengajaknya kembali ke pesta. Ternyata Dewa sudah menunggunya di depan bagian toilet itu.


"Ngapain disini?" tanya Zoya sedikit kaget melihat suaminya.


"Aku hanya ingin memastikan kalian baik-baik saja, Ayo" ujar Dewa masih merasa trauma dengan kejadian penculikan Zoya waktu lalu, maka dari itu ia memutuskan untuk menyusul anak dan istrinya ke toilet.


"Habis ini kita makan kan, Yah?" tanya Rayden lagi, sepertinya ia sudah sangat lapar.


"Iya habis ini kita makan, Ayo kita ke depan dulu" ujar Dewa tersenyum sedikit melihat putranya.


Rayden memang sangat lapar karena tadi ia belum sempat memakan apapun, ia sudah terlanjur senang karena akan di ajak ke pesta oleh orang tuanya, sampai ia melupakan segalanya.


Dewa segera mengambilkan makanan untuk Rayden terlebih dulu, barulah ia mengambilkan Zoya. Ia tak membiarkan mereka harus berdesakan dengan tamu lainnya.


"Masih ada makanan lain nggak yang mau kamu?" tanya Dewa menatap istrinya yang biasanya suka banyak sekali keinginan.


"Enggak, nanti kalau aku mau ambil sendiri aja. Kamu makan dulu," ujar Zoya.


"Kalau butuh apa-apa bilang aku aja, aku yang akan mengembalikan untukmu" kata Dewa mencegah jika istrinya akan berdesakan.


"Ya, habisin ini dulu lah" kata Zoya mulai memakan makanannya seraya menikmati suara alunan musik yang terdengar dangat lembut.


Saat mereka sedang menikmati makanannya, tiba-tiba Tuan Regan menghampiri mereka.


"Maaf menganggu Tuan Dewa, Nyonya" ucap Tuan Regan tampak sungkan.


"Ya tidak apa-apa Tuan Regan, ada apa?" sahut Zoya sedikit mengulas senyumnya.


"Saya ingin mengenalkan putra saya bersama istrinya" sahut Tuan Regan.


"Oh mempelainya sudah selesai berdansa, yang mana orangnya?" kata Zoya juga penasaran bagaimana sosok pengantin yang mereka hadiri pernikahannya itu.

__ADS_1


"Mereka akan segera kesini Nyonya," sahut Tuan Regan lagi.


Zoya mengangguk singkat, ia sudah menyelesaikan makannya, begitupun Dewa dan juga Rayden. Mereka tinggal menunggu kedua mempelai itu datang.


"Ayah!" suara seorang pria terdengar membuat semua pandangan tertuju padanya.


Namun bukan itu yang menjadi perhatian Dewa dan Zoya, melainkan sanga mempelai wanita yang sangat mereka kenali. Tara!!


Tara pun tak kalah kagetnya melihat pria dari masa lalunya datang kesana. Sudah enam tahun berlalu, dan kini dia dipertemukan kembali oleh Dewa. Pandangan Tara lalu beralih kepada Zoya dan juga seorang anak kecil yang sudah bisa ditebak kalau anak itu adalah anak Dewa dan Zoya.


"Frans, kemarilah. Ini ada kolega Ayah, kau harus berkenalan dengan pengusaha muda sukses ini," ucap Tuan Regan terlihat sekali sedang menjilat simpati dari Dewa.


"Oh, Tuan Dewangga Clark? Senang bisa bertemu dengan pengusaha sibuk ini," sahut Frans pastinya sangat mengenal Dewa, namun hanya dari sebuah artikel yang sering di bacanya.


"Tuan Dewa, perkenalkan saya Frans, dan ini istri saya Tara," kata Frans mengulurkan tangannya pasa Dewa seraya merangkul pinggang Tara dengan bangga.


"Ya, senang bertemu denganmu Tuan Frans," sahut Dewa acuh tak acuh, meski ia kaget melihat Tara, namun tak ada apapun yang berbuah dalam dirinya.


"Wah, selamat untuk kehamilan istri anda Tuan Dewa, semoga istri saya cepat menyusul," kata Frans dengan senyuman khas dirinya.


"Ya terimakasih, kami akan pamit saja kalau begitu, istri saya tidak bisa terlalu lama diluar," kata Dewa tau jika istrinya ini tak nyaman karena bertemu Tara.


Dewa pun begitu, ia masih kesal jika mengingat dulu tingkah Tara yang membuatnya dan Zoya salah paham, sampai akhirnya insiden itu terjadi dan mengakibatkan dia harus berpisah Zoya.


"Kamu udah tau kalau ini pestanya mantan kamu?" sepulang dari pesta, Zoya langsung mengeluarkan semua hal yang terpendam di hatinya sejak tadi.


"Enggak, aku juga baru tau kalau dia menikah dengan anaknya Tuan Regan," ucap Dewa langsung membantah.


"Tapi kamu seneng kan ketemu dia?" kata Zoya kembali diliputi rasa cemburunya.


"Seneng apa? Enggak mungkinlah, kita sudah tidak punya hubungan apapun sayang," kata Dewa mengelus-elus lembut lengan istrinya untuk mengurai kekesalan wanita itu.

__ADS_1


"Awas aja kamu mikirin dia," kata Zoya memberi tatapan penuh peringatan kepada suaminya.


"Enggak akan, udah aku bilang kan kalau di otakku itu ada lima hal?" kata Dewa merengkuh lembut pinggang istrinya.


"Lima hal apa lagi,? Bukannya yang satu udah berhasil?" kata Zoya mengernyitkan dahinya, seingatnya lima hal yang di inginkan Dewa adalah membuatnya cepat hamil.


Dewa tertawa kecil, ia menyandarkan kepalanya di pundak Zoya lalu mencium pipi wanita itu. "Lima hal itu masih sama seperti yang sebelumnya. Yaitu mikirin Rayden, kamu, kamu, kamu lagi dan yang terakhir..." Dewa sengaja menghentikan ucapannya.


"Yang terakhir apa,,?" kata Zoya merasa berdebar melihat tatapan mata suaminya, ia sudah hafal dengan tatapan mata itu, tatapan tajam namun lembut.


"Yang terakhir, aku mikirin mau mengganti acara kita yang di kantor tadi," bisik Dewa lalu mendorong tubuh istrinya ke kasur yang empuk itu untuk memulai ritual wajibnya, yaitu menjenguk baby girl secara live.


*****


Vania sudah memasukan semua baju dan keperluannya kedalam koper besar miliknya. Jarak Kota Bandung dan Bogor memang tidak jauh, tapi dia pasti akan kelelahan jika harus pulang pergi. Jadi ia memutuskan untuk menyewa kos-kosan saja.


"Kamu yakin mau berangkat kesana aja?" tanya Ibu Vania menghampiri putrinya.


"Ya yakinlah Bu," sahut Vania sedikit ketus.


"Kenapa kau keras kepala sekali? Ibu memberimu cara yang mudah, tapi kenapa kau senang mencari susah?" kata Ibu Vania mencoba mempengaruhi kembali putrinya.


"Cukup Ibu! Berhentilah mempengaruhiku dengan hal-hal kotor itu, Ibu yang harusnya sadar kalau Ibu itu sudah tua! Banyak-banyak berbuat baik sebelum mati!" kata Vania dengan kasarnya, tak peduli jika dia disebut anak durhaka atau bagiamana, dia hanya ingin melakukan apa yang menurutnya benar.


"Kamu memang anak kurang ajar," kata Ibu Vania memandang putrinya sinis.


"Iya memang, dan Ibu harus ingat kalau buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya! Jika aku bersikap seperti ini, itu artinya karena keturunan Ibu!" seru Vania langsung saja skak mat ibunya.


Vania mungkin memang menyukai Dewa, tapi bukan berarti dia harus mendapatkannya, apalagi jika harus menghancurkan kehidupan rumah tangga orang lain. Vania masih punya hati dan memikirkan bagaimana hati anaknya jika melihat sang Ayah menikah lagi dan meninggalkan ibunya. Pastinya sangat sakit karena ia pernah di posisi itu. Bedanya, ibunya yang meninggalkan Ayahnya dan memilih pria lain.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2