
Tak terasa waktu dengan cepat terus berjalan, kini kehamilan Zoya sudah memasuki trimester kedua atau berumur 5 bulan. Di trimester kedua ini tak jauh berbeda dari trimester pertama, yaitu sikap Zoya yang cemburuan kepada suaminya dan tak bisa jauh-jauh dari suaminya. Entahlah, Zoya rasa kehamilannya ini memang membuat ia semakin tergila-gila pada Dewa.
Pagi-pagi sekali, Dewa sudah terbangun saat merasakan tangan yang merambat kemana-mana. Ia melirik Zoya yang memainkan kancing bajunya.
"Zoya?" kata Dewa dengan mata menyipit, ia melirik arah luar yang tampak masih gelap.
"Dingin..." kata Zoya merapatkan tubuhnya kepada Dewa.
"Masih pagi, tidur lagi aja" kata Dewa belakangan ini merasa sangat lelah sekali karena pekerjannya yang menumpuk, ia kembali memeluk Zoya untuk melanjutkan tidurnya.
Zoya menatap suaminya yang kembali tidur, tangannya mulai bergerak usil membuat pola-pola abstrak di dada suaminya.
"Sssshhh....jangan menggodaku" kata Dewa mencekal tangan Zoya.
Tapi Zoya tetap saja melakukannya membuat Dewa membuka matanya lebar-lebar.
"Kau benar-benar memancingku" kata Dewa langsung menindih pelan istrinya, sebisa mungkin tak menyakiti perutnya yang tampak sudah menonjol itu.
"Emangnya kamu ikan bisa dipancing" kata Zoya tersenyum geli.
"Berani ya sekarang? Kau harus tanggung jawab" kata Dewa memegang kedua tangan Zoya lalu di tekuknya ke atas.
Zoya tertawa kecil. "Is all yours babe" bisik Zoya dengan begitu mesranya membuat Dewa berdebar.
Tak membuang waktunya, ia langsung saja mencium bibir istrinya dengan panas dan cepat, tangannya sudah hafal dari bagian mana saja yang akan membuat istrinya ini tak henti menyebut namanya.
Di pagi yang belum tampak sinar matahari itu, Dewa sudah sangat rajin menyambangi anaknya. Bahkan tak hanya satu kali Dewa melakukannya, namun meskipun begitu rasanya seolah tak pernah puas, apalagi karena hamil saat ini, tubuh Zoya mulai lebih berisi dan Dewa sangat menyukainya.
"Udah kan?" kata Zoya melirik suaminya yang sudah lemas setelah menyelesaikan pergumulan panasnya.
"Kamu enak" kata Dewa menarik tubuh Zoya mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Yaudah kalau gitu, aku mau mandi dulu, nanti Rayden pasti nyari aku kalau bangun tidur" kata Zoya sedikit kalang kabut saat melihat jam dinding, terlalu asyik dengan dunianya, malah membuat ia lupa segalanya.
"Bareng aja" kata Dewa mencoba merayu istrinya lagi.
"Enggak, enggak, nanti bukannya mandi, kamu malah buat aku men de sah lagi" kata Zoya tak ingin meladeni suami mesumnya ini, ia langsung saja beranjak ke kamar mandi.
Dewa menatap Zoya yang berjalan santai menuju kamar mandi itu, ia tersenyum jahil. Setelah beberapa saat, ia kemudian menyusul istrinya kedalam.
"Dewa!!" teriakan Zoya terdengar begitu kesal karena Dewa kembali menyergapnya di kamar mandi. Ia menyesal karena sudah membangunkan macan tidur.
*****
Siang harinya, Zoya tampak sudah sangat rapi dengan mini dress warna melon yang di pakainya. Hari ini dia akan mengikuti kelas ibu hamil yang sudah di pilihkan Dewa. Karena hari ini pria itu sibuk, Zoya pun akhirnya harus di antar oleh supir pribadinya.
"Rayden yakin nggak mau ikut??" kata Zoya melihat anaknya yang asyik bermain di samping rumah.
"Enggak usah Ibu, aku di rumah aja sama kakek" kata Rayden memang tak terlalu suka berpergian.
"Iya, kamu pergi aja. Rayden biar sama Ayah di rumah. Nanti kamu juga lama kan kelas hamilnya" kata Anderson lagi.
"Enggak repot Zoya, Ayah juga nggak ada kerjaan" kata Anderson tak masalah jika harus menjaga Rayden, justru dia merasa senang karena bisa menghabiskan masa tuanya bersama keluarga anaknya dan juga bisa merawat cucunya.
Zoya pun langsung berangkat setelah memastikan kalau Rayden memang tidak mau ikut dengannya, kelas hamil ini juga akan di adakan selama dua jam lebih, jadi memang sebaiknya Rayden di rumah saja.
Dikelas hamil ini biasanya ibu hamil diberi materi seputar kehamilan dan juga melahirkan, kadang juga melakukan senam agar bayi di dalam perut sehat. Juga menyarankan makanan yang bergizi dan aman untuk ibu hamil tentunya.
Setelah menyelesaikan kelas hamilnya, Zoya biasnya akan ke salon untuk melakukan perawatan diri. Padahal Zoya itu sebenarnya wanita yang tidak suka berdandan, tapi sekarang benar-benar berubah. Zoya yang sekarang, dari atas sampai bawah harus terlihat cantik.
"Halo Dewa? Kamu bisa jemput aku nggak?" kata Zoya menghubungi suaminya setelah menyelesaikan acara perawatan dirinya.
"Jemput dimana? Sekarang?"
__ADS_1
"Iya sekarang, aku lagi di salon yang biasa" kata Zoya menatap penampilannya yang sudah sangat cantik dan siap untuk bertemu suaminya.
"Kayaknya nggak bisa, aku ada meeting sekarang, aku kirim supir aja ya"
"Nggak bisa ya? Yaudah, nggak usah kirim supir, aku udah bawa supir sendiri kok" kata Zoya mengerti kalau suaminya ini sangat sibuk karena mendengar suaranya saja ia mengerti, lagipula Dewa tak pernah menolak keinginannya kalau tidak benar-benar repot.
"Baiklah, hati-hati ya, aku mencintaimu"
"Aku juga" kata Zoya mengakhiri panggilan itu.
Zoya lalu ingat sekarang sudah jam 1 siang dan harusnya jam makan siang, tapi Dewa kenapa masih bekerja, suaminya itu pasti melewatkan makan siangnya.
"Apa aku ke kantor aja ya? Dewa pasti kaget lihat aku dateng" kata Zoya tersenyum kecil membayangkan akan memberi kejutan kepada suaminya. Sekalian saja kan, dia mengantarkan makan siang untuk suaminya.
Akhirnya sebelum pulang, Zoya mampir dulu ke kantor Dewa. Sebelumnya, ia sudah membelikan makanan kesukaan Dewa di restoran favorit mereka. Karena sudah sering kesana, para pegawai Dewa pun sudah hafal dengan Zoya, mereka juga langsung memberikan hormatnya kepada istri pimpinannya itu.
"Selamat siang Nyonya" sapaan itu terus mengalir setiap ada pegawai yang bertemu dengan Zoya.
"Selamat siang" Zoya pun membalasnya dengan senyum ramahnya yang indah.
Zoya harus naik lift khusus untuk tiba di ruangan suaminya yang berada di lantai 10, tapi ternyata ruangan itu sangat sepi sekali, sepertinya Dewa belum selesai meeting. Zoya pun langsung masuk saja ke ruangan suaminya dan memutuskan menunggu disana.
Cukup lama Zoya menunggu, hingga pintu ruangan itu terbuka, Zoya sudah siap dengan senyum manisnya tapi ternyata bukan Dewa yang datang, melainkan seorang wanita cantik dengan pakaian yang sangat minim.
"Siapa kau?" kata wanita itu kaget melihat ada sosok Zoya berada disana.
Zoya mengerutkan dahinya, seharusnya dia yang bertanya seperti itu, siapa wanita itu? Kenapa bisa berada di ruangan suaminya? Bukankah ruangan ini ruangan khusus? Berarti bukan pegawai sembarangan yang bisa datang kesana?
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1
Guys mampir sekalian yuk ke novel author selanjutnya ... udah up 27 bab....
Makasih...