I'M FINE

I'M FINE
Chapter - 11


__ADS_3

"aku melihatnya, ia berada di taman samping bagian barat."


Taki segera berjalan menuju tempat tersebut, beberapa orang mulai mengisi taman tersebut. ia melihat sekeliling taman, dan matanya tertuju pada seorang gadis dengan dress hitam yang indah, duduh didekat salah satu pohon. Taki berjalan mendekat gadis tersebut.


Pucat, adalah salah satu gambaran wajah Mei. Mei menatap depan dengan pandangan yang hampa. Taki memberanikan duduk disebangku dengan Mei.


Disisi lain, Bulter Yang mengawasi Mei sedari tadi bersama seorang pengawal suruhan Makoto. Pengawal tersebut tekejut melihat keberadaan Taki yang mendekat pada Mei dan segera ingin memisahkan mereka. Namun niatnya tertahan oleh Bulter Yang.


"tunggu," ucap Bulter Yang.


pengawal tersebut hanya diam, memandang Bulter Yang dengan kebingungan.


"biarlah dia menjadi teman nona muda," jelas Bulter Yang.


pengawal tersebut mengangguk mengerti,


kembali pada Taki dan Mei, banyak murid yang berlalu lalang menatap mereka.


"Mei-chan," panggil Taki.


tidak ada balasan dari Mei, gadis tersebut hanya menatap kedepan dengan tatapan hampaan.


"Mei-chan,"


Mei bangkit dari duduknya, menatap Taki dengan dingin.


"berapa lama anda akan mengganggu saya?" tanya Mei dengan datar,


"sampai kau sadar, jika kau membutuhkan teman."


"saya tidak butuh," ucap Mei dengan tak acuhnya.

__ADS_1


uhuk...uhukk


suara batuk Mei berhasil membuat Taki cemas. Bagaimana tidak, dengan wajah Mei yang pucat.


"apa kau tidak apa-apa?" tanya Taki, namun tidak ada jawaban dari Mei,


"uhuk, uhukk, uhuk." batuk Mei.


"nona apa anda baik-baik saja?" tanya Bulter Yang mengulang pertanyaan Taki,


Mei mulai tidak bisa menyeimbangkan dirinya, dan hampir terjatuh ke lantai. Namun Taki menyangganya dengan cepat dibandingkan dengan Bulter Yang dan seorang pengawal.


"sebaiknya, anda menyiapkan mobil, dan kita akan balik ke apartement." pinta Bulter Yang pada sang pengawal, setelah itu pengawal tersebut pergi.


Musik pop tiba-tiba disetel dengan suara yang keras hingga bagian taman terdengar. Musik tersebut bertujuan memeriahkan acara. para murid berserta tamu bersorak-sorak. Mei tak tahan dengan suasana ini, kepalanya terasa sangat berat begitu pula pandangannya yang mulai memburam.


"susana ini seperti saat itu," batin Mei,


"sepertinya ia demam," ucap Taki pada Bulter Yang.


Bulter yang segera membawa Mei pada mobil yang telah disiapkan panda sang pengawal.


****


perusahaan Ainsoft


suara derap langkah sepatu begitu terdengar. Makoto mulai duduk dikursinya, ia menatap dan mulai mengetik.


seorang pekerja mengetuk lalu masuk dalam ruangan presdir, sudah tidak biasa lagi orang tersebut menyerahka. sebuah file pada Makoto.


"tuan, lagi dan lagi tuan y mengirim sebuah file, kamu belum bisa menemukan siapakah tuan, tetapi kami berhasil menahan orang suruhan tuan y untuk memberikan file inj pada anda." jelas orang tersebut.

__ADS_1


"panggil dia," pinta Makoto.


"baik tuan." orang tersebut segera pergi memanggilan, dan tak lama kemudian orang yang dipinta Makoto datang.


"presdir, tuan saya hanya seorang manusia biasa. Ia hanya ingin membantu anda." jelas orang tersebut.


"jawab pertanyaanku, siapa tuanmu?!" Tanya Makoto, pasalnya pria tersebut tak kunjungi memberi tahu dengan jelas tuannya itu.


"tuan, bukankah anda menjaga privasi adik anda?" tanya balik pria tersebut.


"ya," jawab cepat Makoto,


"sama dengan tuan saya yang memiliki privasi sendiri," jelas pria tersebut "Tuan sebaiknya anda memakai desain yang tuan saya buat, karena cepat atau lambat perusahaan lain akan merilisnya," lanjutnya, setelah itu pria tersebut berjalan menuju pintu, dan terhenti sejenak.


"Tuan, sebaiknya anda tidak menyuruh penguntit mengikutiku, itu tidak diperlukan." ucapnya tanpa membalikan badan sedikitpun pada Makoto.


Ingin berkata kasar? tidak juga, Makoto sadar akan segala saran dan ucapan pria tersebut selalu benar. Ia segera menyuruh para orang penting diperusahaan untuk mengadakan meeting.


****


"tuan, apa sebaiknya saya menghubungi tuan muda?" tanya seorang pelayan pada Bulter Yang.


"tidak perlu," jawab Bulter Yang, "sebaiknya kita membiarkan nona muda beristirahat dahulu," lanjut Bulter Yang sembari meninggalkan Mei bersama dengan pelayan.


Waktu menujukan pukul dua belas malam, di kota Tokyo, Jepang.


suara cangkir satu persatu mulai pecah, beberapa orang mulai berjatuha bersamaan aliran merah darah yang mulai mengalir dan membasahi setiap lantai. hanya ada seorang gadis kecil yang bersembunyi di toilet, mengintip dicela-cela pintu, menangis tanpa suara hanya air yang mengalir dari mata hingga jatuh kelantai~


Mei terkejut dengan mimpinya itu hingga membuatnya terbangun bersamaan cucuran air keringat membasahi keningnya, napasnya tak teratur. Mei segera menyingkirkan selimutnya dari tubuhnya, menepakan kakinya pada lantai. Mei mulai bangkit berdiri berjalan menuju ke luar kamarnya.


Hanya ada cahaya bulan yang menerangi ruang ini, Mei berusaha meraba setiap tembok mencari saklar lampu,

__ADS_1


klak,


Lampu menyala, Mei mengambil duduk disofa ruang tengan dengan membawa segelas air yang ia ambil dari dapur, Mei meminum air tersebut, dan menaruh gelas tersebut dimeja. Ia membaringkan tubuhnya pada sofa panjang yang ia duduki. Hingga ia memejamkan matanya dan hanyut kedalam mimpinya


__ADS_2