I'M FINE

I'M FINE
Kisah Yang Belum Usai.


__ADS_3

Zoya menatap Aldin dengan pandangan yang sulit diartikan, ia tentu kaget saat tau jika Aldin sudah memendam perasaan padanya sangat lama, tapi dia juga tidak bisa memaksakan perasaannya. Ia kini hanya bisa menatap punggung Aldin yang perlahan menjauh.


"Al" teriaknya membuat langkah kaki Aldin berhenti.


Aldin langsung menoleh, ia menatap Zoya yang berjalan mendekat kearahnya, ia pikir Zoya masih ingin mengucapkan sesuatu, tapi ternyata dia salah karena tiba-tiba wanita itu memeluk tubuhnya. Meski kaget, Aldin pun membalasnya erat, ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Zoya.


"Maafkan aku Al, kau orang baik, semoga kau bisa mendapatkan wanita yang bisa membuatmu bahagia" kata Zoya melepaskan pelukannya.


Aldin hanya mengangguk singkat, ia untuk terakhir kalinya ia menatap wajah Zoya lekat-lekat sebelum langsung pergi tanpa menoleh lagi. Zoya pun langsung kembali menemui Dewa yang sudah memasang wajah yang tak enak dilihat.


"Ayo kita pulang" kata Zoya biasa saja tak terpengaruh dengan wajah Dewa itu.


"Apa yang sebenarnya kalian bicarakan?" kata Dewa tentu sangat cemburu melihat wanitanya berpelukan dengan pria yang jelas memiliki perasaan padanya.


"Hanya sekedar mengucapkan salam perpisahan" kata Zoya seadanya.


"Kenapa harus berpelukan segala?" kata Dewa lagi.


"Itu hanya pelukan persahabatan Dewa, aku harap kau tidak cemburu" kata Zoya tersenyum tipis saat melihat kekesalan Dewa.


"Sudah aku bilang kalau aku akan cemburu kepada semua pria yang mendekatimu, Zoya tolong kasihanilah hatiku" kata Dewa entah kenapa kini bisa seperti ini, hatinya selalu takut jika ada pria yang akan mengambil Zoya dari sisinya.


"Hahaha, ada-ada aja, sekarang ayo pulang, kau bilang ingin mengatakan hal penting padaku" kata Zoya tertawa kecil merasa tingkah Dewa ini lucu sekali.


Meski masih kesal, Dewa tak mengatakan apapun, dia menurut dan segera mengajak keluarga kecilnya pulang.


*****


"Jadi kau juga belum tau masalah ini?"


Ketika sampai di rumah, Dewa langsung menyuruh pelayan menemani Rayden bermain sedangkan ia mengajak Zoya ke ruang kerjanya untuk membicarakan tentang perihal status Zoya yang masih menjadi istri sah Bryan.


"Belum, aku pikir dulu Bryan mencerikanku saat tau aku hamil" kata Zoya juga kaget saat mendengar kabar ini.


"Aku sudah mengurus surat gugatan cerai untukmu, kau bisa langsung menandatanganinya" kata Dewa mengambil berkas perceraian yang sudah diberikan oleh Bayu padanya.


Zoya menatap berkas itu, ia seperti merasa dejavu karena ingat saat dulu Ayahnya juga memberikan berkas yang sama, hanya saja kini orang yang berbeda.

__ADS_1


"Tapi bagaimana kalau Bryan meminta banyak uang untuk hal ini? Kau pasti tau alasan kenapa dia tidak mau bercerai dariku" kata Zoya.


"Berapapun itu tidak masalah Zoya, kau tidak usah memikirkannya, yang terpenting sekarang kau bisa lepas dari pria itu" kata Dewa lagi.


Zoya terdiam, dia bukan hanya menakutkan hal itu sebenarnya, ia juga tidak meragukan sebanyak apa uang Dewa, tapi entahlah, perasaannya sungguh tidak enak sekali.


"Kenapa Zoya?" kata Dewa membuat Zoya membuyarkan lamunannya.


"Tidak ada, aku akan menandatangani suratnya" kata Zoya cepat.


Dewa mengerutkan dahinya, ia tau jika Zoya sedang berbohong padanya, ia menarik tangan Zoya lembut agar menatapnya.


"Ada apa? Tolong jangan memendam apapun sendiri Zoya, kita sekarang sudah bersama, aku akan selalu bersamamu dan akan selalu menemanimu, jadi katakanlah apa yang mengganggu pikiranmu?" kata Dewa lembut.


"Entahlah Dewa, aku merasa kalau ini pasti menjadi masalah, Bryan pasti akan memberitahu Ayahku tentang hal ini" kata Zoya menghela nafas.


"Hei....kau ingat perkataanku kan? Kita akan melewati ini semuanya bersama, kau dan aku, kita hanya perlu yakin dan jangan pernah sekalipun kau melepaskan genggaman tanganku, percayalah kita pasti bisa melewatinya" kata Dewa mengeratkan genggaman tangannya pada Zoya, ia juga menatap wanita itu dengan segala perasaan yang dimilikinya.


Melihat sorot mata Dewa yang begitu meyakinkan, perlahan ketakutan dalam diri Zoya menghilang, Dewa benar, mau sampai kapan dia akan takut dengan bayang-bayang Ayahnya, dia hanya harus yakin dan percaya, itulah kuncinya.


"Terima kasih sudah menemaniku Dewa" kata Zoya tersenyum lembut.


"Aku sudah bahagia, selama kau ada bersamaku, aku akan selalu bahagia" kata Zoya lagi.


"Hahaha, sudah pintar menggombal ya?" kata Dewa mencubit gemas hidung Zoya.


"Belajar dari siapa coba?" kata Zoya tertawa kecil.


"Dari siapa memangnya? Aku nggak pernah tuh nge gombal" kata Dewa.


"Bohong banget" kata Zoya mencibir.


"Loh serius, memangnya bagian mana yang aku gombal? Yang aku cinta kamu? Atau yang aku sayang kamu" kata Dewa mengerlingkan matanya menggoda.


"Basi" kata Zoya semakin mencibir, namun entah kenapa hatinya selalu berdebar jika Dewa menggombalinya.


*****

__ADS_1


Bryan menatap berkas perceraian yang baru saja dikirimkan ke rumahnya, wajahnya tampak tersenyum sinis.


"Zoya...Zoya...masih mau ingin lari dariku? Jangan harap kau bisa melakukannya" kata Bryan langsung merobek berkas itu dengan kasar. Ia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo Om, Ya aku sudah mendapatkannya, sesuai dugaan dia langsung mengirimkan surat cinta kepadaku" kata Bryan semakin tersenyum sinis.


"Apa kau menandatangani suratnya?"


"Tidak, aku tidak akan menandatanganinya, aku juga tidak ingin berpisah dengan istriku" kata Bryan lagi.


"Bagus, Pilihanmu sudah tepat"


"Baiklah, jadi kapan Om akan menjemput putri Om? aku sudah sangat merindukannya" kata Bryan mengusap-usap dagunya dengan lembut.


"Biarkan saja dulu, belum saatnya kita bergerak, biarkan dia senang dulu" kata Davies di seberang sana lalu memutuskan panggilan itu.


Bryan menatap layar ponselnya yang sudah mati, sebenarnya Bryan tidak punya rencana apapun tentang Zoya karena dia juga sudah melupakan wanita itu, tapi karena ingat perjanjiannya dengan Davies ia sengaja tidak menceraikannya. Toh bercerai dan tidak efeknya sama saja, Zoya tidak bisa disentuhnya.


*****


Pagi-pagi sekali, Zoya sudah terbangun dan segera ke dapur yang menjadi tujuan pertamanya, hari ini Rayden akan mulai bersekolah kembali di sekolah barunya. Zoya berencana akan membuat bekal agar putranya itu tidak jajan sembarangan.


"Nona, seharusnya Nona tidak perlu memasak, biarkan saya saja" kata Kepala Pelayan tampak takut jika Tuannya akan marah karena melihat Zoya memasak.


"Tidak apa Bibi, ini sudah hampir selesai kok, Bibi tolong teruskan ya, aku akan membangunkan Rayden dulu" kata Zoya beranjak dari dapur untuk membangunkan anaknya.


Saat ini Rayden sudah tidur sendiri dikamarnya sendiri yang dibuatkan oleh Dewa secara dadakan, padahal Zoya sudah melarangnya, tapi suka-suka Dewa sajalah.


"Loh, Rayden sudah bangun?" kata Zoya tersenyum melihat anaknya.


"Baru aja, hari ini aku mau sekolah, aku nggak mau telat ibu" kata Rayden.


"Anak Ibu pinter, langsung mandi ya, sini ibu bantuin" kata Zoya membantu melepaskan baju anaknya.


"Aku mandi sendiri Ibu, aku udah besar" kata Rayden menolak saat ibunya ingin memandikannya.


Zoya kembali mengembangkan senyumnya, Rayden memang anak yang tanggap dan cepat belajar, dia bisa dengan mudah melakukan tugasnya meskipun tanpa bantuan Ibunya.

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2