
Setelah pembagian hasil ujian, kini saatnya Taki dan Daisuke bersenang-senang. Mereka membuat sebuah list yang akan mereka lakukan hari ini. Namun mereka pulang ke rumah masing-masing untuk mengganti pakaian dan membawa ponsel dan uang. Taki akan menunggu Daisuke dirumah, mereka akan bermain game di rumah Taki.
Setelah beberapa menit pria yang ditunggu datang juga, tanpa basa-basi mereka menyerbu berbagai alat permainan di kamar Taki.
"kiri!"
"kanan! musuh ada di belakangmu!"
"tembak! tembak!"
"yeah, game over,"
tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, membutuhkan dua jam mereka bermain dan berseru.
"selanjutnya apa?" tanya Daisuke.
"makan sepuasnya, biar aku saja yang traktir." ucap Taki.
kedua sudut bibir mereka terangkat, mereka kemudian pergi kesalah satu restoran yang cukup unik, entahlah apa yang di maksud unik. Daisuke dan Taki mulai membuka pintu mobil.
"apa yang unik dari restoran ini?" tanya Daisuke.
"entahlah, aku baru pertama kalinya kemari."
tringggg
Bunyi lonceng berbunyi, Taki dan Daisuke masuk kedalam restoran membuat beberapa pasang refleks menatap kearah mereka berdua.
"wahh artis ya?" bisik-bisik seseorang melihat ke arah Taki.
__ADS_1
Taki yang menggunakan style yang santay dengan memakai kaos putih dan celana joger hitam, di tambah topi dan kacamata hitamnya di tambah dengan tubuhnya yang tinggi. Sudah menjadi kebiasaan Taki jika mendengar hal-hal seperti itu.
Juga dengan Daisuke yang memakai kaos hitam dan celana training. Namun orang-orang hanya fokus pada temannya itu, membuat ia terlihat seperti asisten saja.
"selamat datang di restoran kami," sapa lembut salah satu karyawan.
Taki melihat sekeliling tempat tersebut yang cukup ramai, dan salah satu papan yang membuat ia manaikan alisnya.
lantai 2, suasana tenang.
seperti ombak dan pasir yang dapat menggambarkan suasana tersebut. ombak yang berada di lantai satu yang cukup ramai. Dan pasir yang berada di lantai dua cukup sunyi.
Taki segera memilih untuk pergi kelantai dua. Daisuke hanya bisa menurut, toh Taki yang akan mentraktirnya. Mereka segera duduk disalah satu bangku. Tempat restoran ini dalamnya cukup rumit, begitu juga beberapa kayu yang terpajang dan bambu yang menghiasinya.
Lagi dan lagi sesuatu yang membuat ia dapat menaikan alis sembari tersenyum. Taki menghampiri tempat tersebut, di dekat jendela tepat seorang gadis yang sedang sendirian dan mengenakan heandset.
Taki sengaja mengetukan meja untuk menjadarkan gadis tersebut dari lamunannya. Siapa lagi jika bukan Mei yang dapat membuat Taki menjadi aneh.
"boleh gabung?" tanya Taki.
"silahkan," jawab Mei datar.
Taki segera duduk bersamaan dengan Daisuke yang ikut serta duduk. Kemudian seorang pelayan datang menghampiri Taki.
"dua porsi daging sapi BBQ, dan capucinonya dua." ucap Taki
"ada lagi?" ucap pelayan restoran
"sudah itu saja."
__ADS_1
Mei menyalakan ponselnya, dan mulai memainkan ponselnya tidak lupa ia menambah volume hingga ia tidak dapat mendengar suara apapun kecuali musik yang ia mainkan. Ia juga mengabaikan dua orang yang berada di hadapannya. Taki menarik kabel henadset yang Mei kenakan. Mei hanya dapat memasang muka datarnya sembari menatap dingin Taki.
"Kau dapat melukai telingamu," ucap Taki.
"Mei, apa pengawalmu tidak ikut bersamamu?" tanya Daisuke
"tidak,"
Mei bangkit dari duduknya sembari berkata "saya ingin ke toilet," ia kemudiam pergi meninggalkan kedua pria tersebut.
"wauw, sikap apa yang kau berikan padanya?" tanya Daisuke mulai menggoda emosi Taki.
"diamlah, dia bisa melukai telinganya."
"oh ya?"
"belajarlah, buku di baca bukan untuk dibuat menjadi bantal!"
****
Letak yang cukup jauh dari tempat ia duduk. Mei mencuci tangannya dengan air mengalir sembari ia melihat dirinya di cermin. Tinggal tiga hari lagi Makoto akan kembali. Mei mulai memasuki salah satu bilik toilet. Ia tidak membuang air kecil maupun air besar hanya ia ingin duduk dan menjauh dari dua pria pengganggu.
Mei hanya perlu menunggu sepuluh detik, kemudian ia akan balik bergabung bersama dengan Taki dan Daisuke. Sepuluh detik telah berlalu, kini ia bangkit berdiri dan keluar dari bilik tersebut. sial! pintu toliet yang dibuka Mei mancet dan tidak bisa dibuka, sedangkan ruang tersebut termasuk ruang kedap suara. Jika ia teriak akan percuma, dan akan sia-sia. Juga didalam hanya ada dia seorang diri
Sedangkan di luar, tepat berada di Taki dan Daisuke, mereka sibuk bergurau dan saling membagi berita yang mereka dapat. Tidak lama dari itu terdengar sirine kebakaran. Orang-orang di dalam berebut untuk keluar. Pintu utama sudah terpenuhi dengan orang di lantai pertama, selain itu tangga yang mereka lalui juga sangat sempit. Asap-asap sudah mulai mengepung tempat tersebut.
Bangunan yang terdiri dari Kayu dan Bambu begitu cepat di lahap oleh api yang ganas. Daisuke dan Taki berhasil keluar dari tempat tersebut sembari terbatuk-batuk karena banyaknya asap yang mereka hirup.
"Dimana Mei?!" tanya Daisuke.
__ADS_1