
Seorang pria tampak berjalan memasuki sebuah restoran dengan langkah tegapnya. Tubuhnya yang tinggi gagah tampak begitu sempurna. Tak lupa kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya membuat kesan kharismatik dalam dirinya keluar.
Pandangan pria itu lalu tertuju pada seorang pria paruh baya yang sedang duduk disalah satu bangku disana. Asap yang mengepul dari cangkir itu terlihat menandakan kalau pria itu juga baru saja datang.
"Paman," ucap pria itu membuka kacamatanya.
"Al, akhirnya kau datang juga, bagaimana kabarmu?" Anderson bangkit dari duduknya lalau memberikan pelukan hangatnya kepada Aldin.
Ya benar, Anderson memang membuat janji bertemu dengan Aldin tanpa sepengetahuan Dewa. Bukan ingin membohongi Dewa atau apa, dia hanya ingin menjaga perasaan putranya, karena sampai saat ini Dewa belum bisa memaafkan Aldin.
"Aku baik Paman, maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku," kata Aldin dengan tatapan sendunya.
Anderson menghela nafasnya. "Duduklah Al," kata Anderson mempersilahkan.
Aldin mengangguk singkat, ia juga ikut menghela nafasnya sejenak. Sepertinya Anderson akan marah padanya karena ia sudah lancang mengikuti keluarga kesini. Aldin sudah menahan dirinya, namun keinginannnya ingin bertemu mereka juga sangat besar. Setidaknya, jika tidak bisa menemui secara langsung, tak masalah bagi Aldin untuk melihatnya dari jauh.
"Apa alasanmu melakukan ini? Apakah kau sudah lupa dengan janji yang kau buat sendiri?" tanya Anderson.
"Maafkan aku Paman, aku hanya ingin melihat mereka. Sudah itu saja, aku tidak akan mengganggu keluarga Dewa" kata Aldin jujur saja, ia memang tidak ada niatan untuk mengganggu.
"Lalu, apakah dengan melihat mereka, keadaanmu semakin membaik?" ucap Anderson lagi.
Aldin terdiam, ia mencoba bertanya pada dirinya sendiri, apakah memang dirinya senang bisa melihat Zoya dan juga anaknya? Tentu saja senang, namun tanpa sadar rasa sakit akan tak bisa memiliki itu kembali muncul. Menggerogoti hatinya hingga nyeri tak tertahankan.
"Aku akan pergi besok Paman," kata Aldin.
__ADS_1
"Aku tidak melarang mu untuk melihat mereka Al, tapi aku tidak ingin kau terus terikat dengan masa lalu. Belajarlah melupakan Zoya dan carilah kebahagiaanmu sendiri. Coba bukalah hatimu untuk wanita lain, aku yakin, perlahan akan ada sosok lain yang bisa menggantikan Zoya" kata Anderson menjelaskan perlahan.
Aldin hanya diam saja, memang hampir setahun pergi meninggalkan Zoya. Tak sedikitpun Aldin bisa melupakannya, jangankan hanya setahun, hampir sepuluh tahun berlalu saja, ia tak bisa melupakan sosok Zoya sejak dulu. Apakah sekarang waktunya ia menyerah saja? Mencoba berdamai dengan takdir dan mencari wanita lain yang bisa menggantikan Zoya.
"Besok mungkin akan menjadi hari terakhir kami disini Al, aku harap setelah itu kau bisa benar-benar melupakan Zoya. Tolong jangan terus menyiksa dirimu sendiri. Aku sudah menganggap mu seperti putraku sendiri, berbahagialah. Aku akan selalu menunggu disaat hari itu tiba" kata Anderson memeluk Aldin erat sebelum berpamitan pergi darisana.
Aldin masih terdiam disana, ia sempat menarik nafasnya panjang-panjang lalu bangkit dan beranjak pergi meninggalkan restoran itu.
Aldin mengendarai mobilnya perlahan menuju tempat dimana Zoya menginap. Jika memang ingin benar-benar melepaskannya, Aldin ingin sekali lagi memastikan kalau wanita itu benar-benar sudah bahagia.
Ia berdiri cukup jauh dari tempat Zoya menginap, namun darisana, ia bisa melihat Zoya dan keluarga kecilnya. Mereka bertiga tampak membuat api unggun kecil di depan resort, dengan Dewa yang sibuk membakar ikan dan Zoya yang menunggunya bersama Rayden. Benar-benar keluarga yang bahagia.
"Kamu sudah bahagia Zoy, teruslah tersenyum, mulai saat ini aku akan benar-benar melepaskan mu. Terimakasih sudah menjadi cinta dalam diam ku, sampai detik ini, aku tidak pernah menyesal karena sudah mengenalmu, Selamat tinggal" batin Aldin menatap lama pada Zoya lalu melajukan mobilnya kembali menuju hotel tempatnya menginap.
Hari-hari Aldin tak banyak yang dilalui, aktivitasnya hanya tidur dan juga makan. Bahkan ia tak pernah mengambil hari liburnya selama bekerja. Lagipula libur pun untuk apa? Toh, dia tetap sendirian tidak punya teman atau saudara yang bisa diajak liburan bersama.
Saat pikirannya sudah mulai kacau, terdengar pintu kamarnya di ketuk. Aldin hanya meliriknya malas, tak ada niat untuk membuka karena ia yakin kalau itu pasti hanya orang tidak penting. Tapi ternyata ketukan itu semakin lama semakin keras membuat Aldin mau tak mau membukanya.
Dengan menahan kesal, Aldin bangkit lalu berjalan membukakan pintu itu. Ia sudah siap mengomeli siapa yang sudah berani mengganggunya, tapi yang didapat justru....
"Sayang, kenapa lama sekali membuka pintunya..."
Seorang wanita tampak masuk kedalam kamarnya dengan sempoyongan, nada bicaranya pun ngelantur pertanda kalau wanita itu sedang mabuk. Wanita itu tampak ambruk di pelukannya, membuat Aldin semakin kesal melihat hal itu.
"Siapa kau? Pergi darisini!" sentak Aldin dengan nada kesalnya.
__ADS_1
"Pergi kemana? Kenapa kau mengusirku? Apa kau tidak mau denganku lagi!" ucap wanita itu dengan suara yang besar, bahkan seperti teriakan.
"Aku tidak mengenalmu! Pergilah dari sini!" kata Aldin ingin mendorong wanita itu, tapi rasanya tidak akan sopan.
"Aku tidak mau! Kau itu hanya milikku, aku tidak akan melepaskanmu" wanita itu semakin menjerit dan memeluk Aldin dengan erat.
"Aku sudah menciummu, aku rela memberikan semuanya untukmu tapi kenapa kau harus memutuskanku! Kau jahat! Apa yang aku berikan selama ini tidak cukup untukmu? Sekarang ambil semuanya! Ambil semuanya Dave! Ambil milikku yang tidak berharga ini" kata wanita itu seraya menangis keras.
Aldin cukup kebingungan harus bersikap bagaimana, ia kaget saat tiba-tiba saja wanita itu mencium bibirnya. Otaknya ingin menolak, tapi sialnya tubuhnya seolah tak bisa diajak kerjasama. Dia pria normal, siapa yang akan tahan dengan godaan seperti ini.
"Dave! Touch me now ..." lirih wanita itu menatap Aldin dengan mata satunya.
Aldin tau ini semua salah, tapi entahlah apa yang sedang dia pikirkan saat itu. Ia langsung menutup pintu kamarnya dengan keras lalu dengan cepat kembali meraih wanita itu dan menciumnya dengan panas.
Wanita itu pun segera membalasnya, karena ia pikir ia akan menyerahkan dirinya kepada mantan kekasihnya yang baru saja mencampakkannya.
"Ah....Dave....." wanita itu men de sah saat Aldin menciumi bagian leher dan dadanya, tangannya tanpa sadar menjambak rambut pria itu untuk meluapkan rasa memabukkan yang mendera.
Aldin tak perduli apa yang akan terjadi selanjutnya, wanita ini yang mendatanginya dan menyerahkan dirinya tanpa diminta. Mungkin juga karena efek alkohol yang diminumnya tadi membuat Aldin tak bisa berpikir jernih. Ia terus saja memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat wanita itu terus bersuara. Sampai pada akhirnya.
"Aaakkhhhh........"
"Oh shitttttt........"
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.