
***
***
Terdengar suara bel rumah berbunyi. Anna segera mendorong kursi rodanya untuk membuka pintu. Batinnya bertanya-tanya siapa gerangan yang ingin bertamu pagi-pagi begini. Suara bel berbunyi kembali dengan cepat, Anna segera membuka pintu.
"Cari siapa." Anna tertegun sejenak. Dihadapannya seorang lelaki tampan berwajah bule berdiri di depan pintu. Tapi berbeda dengan penampilannya. Lelaki itu kaos biasa dan celana jeans sobek-sobek juga rambut yang agak panjang. Walaupun begitu lelaki di depannya itu memiliki wajah tampan.
Merasa di perhatikan dia tersenyum lebar. Awalnya dia agak bingung kenapa tidak ada orang walau pintu terbuka. Tetapi ternyata ada seorang gadis menggunakan kursi roda di depannya.
"Sudah puas liat nya."
Anna tersentak kaget ketika wajah lelaki itu bisa ada di depan wajah Anna. Seketika Anna gugup wajahnya langsung terdorong kebelakang.
"Oh, maaf." Anna berdehem. "Bisakah Anda menjauh."
Lelaki itu tersenyum menggoda sebelum berdiri tegak. "Apa Dava ada di dalam."
"Mas Dava sudah berangkat ke kantor tadi pagi."
Anna menatap bingung lelaki bule itu. Apakah lelaki ini teman kerja Dava, atau klien kantor Dava, atau sahabatnya. Maklum Anna tidak tahu karena memang dia tidak mengetahui apapun tentang Dava.
"Apa aku boleh masuk, kita bicara di dalam." kata lelaki itu membubarkan lamunan Anna.
"Oh, ia, maaf silahkan."
Anna memutar kursi rodanya lalu masuk ke dalam rumah diikuti lelaki bule tadi. Anna bingung harus bagaimana karena di rumah tidak ada siap-siapa hanya Anna seorang. Dan membiarkan lelaki asing masuk ke dalam rumah membuat Anna cemas. Bagaimana kalau dia ingin berbuat jahat.
"Kamu suka melamun ternyata."
"Eh." Anna mengerjapkan matanya menatap lelaki bule itu terkejut.
"Gadis yang manis." Dia tersenyum manis menatap Anna. Menurutnya Anna sangat menggemaskan ketika gadis itu terkejut.
Anna tersenyum malu lalu berdehem. "Ada urusan apa kamu sama mas Dava."
"Kamu jangan takut, oke. Hari ini kepulangan aku dari Canada dan aku langsung ke sini. Aku dan Dava adalah sepupu. Emm,, seperti sepupu jauh. Kamu mengerti maksudku kan."
Anna mengangguk. Ternyata lelaki bule ini sepupu jauh dari suaminya.
"Kebetulan aku ada urusan bisnis di sini. Perkenalkan namaku Lucas aku sepupu jauh dari Dava. Kita memang tidak akrab tapi kita tahu satu sama lain. Oh, ya sebenarnya aku akan menginap sementara waktu rasanya tidak enak menyewa apartemen aku tidak mau uangku habis. "
Anna menatap Lucas, meneliti wajahnya yang berbeda dengan Dava. Dia bilang kalau dia dan Dava sepupu, tapi Anna tidak melihat ada kemiripan dengan wajah Dava. Setahu Anna walaupun mereka sepupuan tapi ada kemiripan walaupun sedikit. Tapi ini Anna tidak menemukan kemiripan sedikitpun.
"Oh, ya nama kamu siapa."
Lucas menatap wajah Anna. Gadis di depannya ini sangat menggemaskan. Sedari tadi Lucas menyadari kalau gadis ini menatap dirinya dengan lekat. Mungkin dia bingung karena tiba-tiba ada orang asing yang masuk ke rumah.
"Um, namaku Anna Laila, panggil saja Anna." jawab Anna tersenyum. "Oh, ya kamu mau minum apa."
"Tidak usah, aku tadi sudah makan di bandara. Perut ku masih kenyang jadi tidak perlu."
Anna tersenyum mengangguk-nganggukkan kepalanya. "Kalau begitu tidak apa-apa aku tinggal, aku masih ada kerjaan soalnya."
"Tidak apa-apa kamu bisa menyelesaikan kerjaan kamu."
__ADS_1
"Ya sudah aku tinggal." Anna mendorong kursi rodanya meninggalkan Lucas yang masih menatap dirinya lekat.
Lucas tersenyum. "Sangat manis."
***
Anna mendengar suara mobil Dava di depan rumah. Suaminya sudah pulang dan Anna harus menyambut kepulangan suaminya itu. Pelan Anna mendorong kursi rodanya dan melihat Dava yang sedang menutup pintu.
"Mas sudah pulang."
Mendengar suara Anna membuat Dava memutar bola matanya jengah. Tidak bosan-bosannya gadis cacat ini menyambut Dava.
"Mas sudah makan. Aku sudah masak buat makan malam mas."
"Diamlah Anna." sentak Dava yang membuat Anna tersentak.
"Tidak tahu malu. Aku sudah bilang jangan membuat aku muak gadis cacat."
"maksud mas." bilang saja Anna cengeng. Karena sekarang mata Anna berkaca-kaca mendengar sentakkan Dava.
"Kamu gadis tidak tahu malu, sudah cacat masih saja ganjen. Aku tidak sudi makan masakan kamu Anna. Lebih baik kamu pergi aku cape. Lebih bagus lagi kamu pergi dari rumah ini." setelah itu Dava pergi meninggalkan Anna.
"Mas tapi aku istri kamu." Anna berteriak lantang dengan wajah bercucuran airmata.
Dava menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Anna tajam. "Istri? Kamu bilang kamu istri aku. Jangan mimpi Anna, sampai kapanpun kamu bukan istri aku. Jangan harap aku akan menerima kamu jadi istri aku."
Lelaki itu cepat-cepat meninggalkan Anna. Gadis itu sudah membuat mood Dava buruk.
Anna langsung terisak mendengar kata-kata menyakitkan dari Dava. Kedua tangannya menutup wajah Anna. Sangat sakit rasanya tidak di akui oleh suami sendiri dan malah diperlakukan buruk. Rasanya Anna sudah tidak kuat tinggal di rumah Dava. Tapi dia suami Anna dan dirinya berharap lelaki itu bisa menerima Anna sebagai istri. Walau itu sangat mustahil.
***
"Sedang apa, Anna."
Suara itu mengejutkan Anna yang sedang membuat nasi goreng udang. Kepala Anna menoleh dan ada Lucas berdiri tak jauh di belakang.
"Aku sedang memasak." jawab Anna melanjutkan masakannya.
"Kamu bisa memasak." Lucas mendekati Anna. Melihat gadis itu tanpa luwes memasak walaupun duduk di kursi roda.
Dan kenapa Lucas mendekatinya.
Anna hanya mengangguk canggung melihat sekilas Lucas yang sedang memperhatikan dirinya. Mungkin Lucas heran kenapa gadis lumpuh sepertinya bisa memasak.
"Apa itu nasi goreng."
Semua orang juga tahu kalau nasi yang sedang di goreng di dalam wajan adalah nasi goreng.
"Iya. Kamu mau." tawar Anna menoleh melihat Lucas yang sepertinya tertarik dengan nasi goreng yang sedang di buatnya.
Lucas mengangguk cepat. "Aku mau satu, ya."
Anna segera mengambil piring lalu menyendokkan nasi goreng untuk Lucas. "Nih."
Lelaki itu segera menerima lalu duduk di meja makan. Melahap nasi goreng udang ke dalam mulutnya. Tertegun menatap Anna. Sungguh nasi goreng buatan Anna sangat enak. Walaupun dengan bumbu seadanya tapi rasanya yang pas dengan udang sebagai pelengkap. Ternyata gadis itu pandai memasak. Lalu LucasĀ melanjutkan makannya dengan lahap.
__ADS_1
Setelah memasak nasi goreng Anna mengambil beberapa lembar roti tawar, telur, keju dan salada segar. Dia akan membuat sandwich seperti biasa. Makanan ini adalah menu sarapan Dava yang Anna tahu. Dan juga jangan lupa dengan segelas susu putih.
Harum aroma bakar sandwich memenuhi ruangan dapur. Setelah selesai membuat sandwich Anna menghidangkannya di meja makan. Didepan Lucas yang menatap sandwich itu dengan lekat.
"sandwichnya buat siapa."
"Mas Dava." jawab Anna tenang sambil meletakkan segelas susu putih.
"Dava." beo Lucas. Menatap gadis itu lekat.
"Lucas."
Mendengar namanya di panggil Lucas menoleh melihat Dava yang sedang berdiri didepan pintu. Lelaki itu rupanya sudah rapi, siap berangkat kerja.
"Kenapa disini." Dava menatap Lucas datar. Tidak menyangka kalau Lucas ada di rumahnya dan Dava tidak mengetahui kapan lelaki itu datang.
"Oh, hai kak kita bertemu lagi." jawab Lucas santai melambaikan sebelah tangannya.
Dava menggertakan giginya kuat. "Ada urusan apa disini."
"Tenang kak. Aku ada urusan pekerjaan disini tidak ada maksud lain." Lucas dengan santainya menyuapkan sesuap nasi goreng.
"Mas mau sarapan dulu." sela Anna tersenyum menatap Dava.
Dava melirik Anna sinis. "masih disini rupanya."
Anna terdiam. Badannya menegang menatap Dava sendu. "mas pikir aku kemana."
"Aku pikir kamu sudah pergi jauh dari rumah ini."
Dava menatap tajam Anna. "kamu ngerti kan maksud aku, gadis cacat."
Wajah Anna langsung pucat pasi menatap Dava yang berlaku meninggalkan Anna dan Lucas. Matanya kembali berkaca-kaca menatap sandwich yang sudah di buatnya.
Lucas melihat semuanya. Tatapan kebencian Dava kepada gadis ini begitu kentara. Dan Anna yang sangat terluka dengan kata-kata Dava. Lucas tidak tahu kenapa Dava sangat membenci Anna. Juga tidak menghargai makanan buatan Anna.
"Aku akan membawanya."
"Huh." Anna mengangkat kepalanya menatap Lucas bingung.
"Sandwich itu, aku akan membawanya. Siapkan sebentar lagi aku berangkat kerja."
"Tapi.."
"Cepat Anna kalau tidak aku akan terlambat."
Lucas memperhatikan Anna yang cekatan membuat bekal untuknya. Tangan mungil itu memasukkan sandwich ke dalam wadah kecil. Lalu memberikan kepada Lucas.
"Apa tidak apa-apa Lucas."
"Aku berangkat." tidak menghiraukan pertanyaan Anna, Lucas segera berlalu dengan membawa bekal dari Anna.
Gadis itu menatap bingung punggung tegap Lucas. Kenapa lelaki bule itu mau membawa bekal?
***
__ADS_1
***