I'M FINE

I'M FINE
Kembali Pulang.


__ADS_3

"Tidak usah, aku langsung pulang saja" kata Zoya menolak, dia benar-benar sudah tak sabar ingin pulang ke rumah supaya bertemu Dewa.


Dewa mengerutkan dahinya dan terus menatap Zoya hingga membuat wanita itu salah tingkah.


"Duduk! Aku tidak akan membiarkanmu pergi kalau kau belum makan" kata Dewa dingin namun sebenarnya dia tak ingin Zoya melewatkan sarapannya.


Semenjak pertemuannya dua minggu lalu dengan Zoya, Dewa merasa Zoya semakin kurus, pipinya yang biasanya chubby juga tampak cukup turus. Entah seperti apa kehidupan yang Zoya alami selama ini, Dewa selalu berpikir apakah suami Zoya yang kaya raya itu tidak memperhatikannya hingga wanita itu harus bersusah payah mencari kerja.


"Baiklah, aku akan sarapan, dasar Tuan pemaksa" cetus Zoya menggerutu seraya mendudukkan dirinya.


Zoya segera memakan sarapan itu dengan cepat, hatinya sudah cukup senang karena Dewa mau mengizinkan dia pulang dan dia tidak mau membuat masalah yang membuat Dewa membatalkan niatnya untuk membebaskannya.


Dewa hanya diam memperhatikan Zoya yang makan dengan sangat cepat itu sampai tak menyadari kalau ada sisa nasi yang menempel di sudut bibirnya.


"Pelan-pelan saja makannya, kau akan tersedak jika makan seperti itu" kata Dewa secara impulsif mengulurkan tangannya untuk mengusap sisa nasi itu.


Lagi-lagi Zoya membeku karena perlakuan Dewa, sebenarnya Dewa ini kenapa? Kadang bersikap manis, kadang juga bersikap sangat menakutkan. Benar-benar tak tertebak.


"Ehm, iya aku sudah selesai makan" kata Zoya mengambil susu yang disediakan dan segera meminumnya. Dia tak ingin berlarut-larut dengan perasaannya.


"Baiklah, setelah ini aku akan mengantarmu pulang dan ambil ini" kata Dewa menyerahkan sebuah ponsel berwarna rose gold kepada Zoya.


"Ponsel?" kata Zoya belum menerima ponsel itu.


"Ya, aku sudah menulis nomorku disana dan aku juga sudah punya nomormu. Dengan begini aku akan lebih mudah menghubungimu nantinya" kata Dewa lagi.


"Tapi aku sudah punya ponsel, kau bisa....." Zoya tidak lagi melanjutkan ucapannya saat melihat tatapan mata Dewa.


"Baiklah, aku akan menerima ponsel ini. Aku tidak mau berterimakasih karena aku yakin kau memberiku ini juga karena terpaksa. Sekarang semua sudah jelas kan? Aku akan pulang sekarang dan kau tidak perlu mengantarku" kata Zoya buru-buru bangkit karena ingin secepatnya pulang.


"Berhenti Zoya!" kata Dewa dengan suara mengancamnya membuat Zoya langsung berhenti.


"Apalagi sih?" kata Zoya menahan kesalnya.

__ADS_1


Dewa melangkahkan kakinya mendekati Zoya yang sudah berjalan hampir sampai ke depan pintu. Dewa berhenti tepat di depan Zoya dan menatap lama wajah Zoya hingga membuat wanita itu salah tingkah.


"Ada apa lagi?" kata Zoya selalu gugup jika berdekatan dengan Dewa.


Dewa menghela nafas sejenak sebelum menarik Zoya kedalam pelukannya, Dewa memeluk Zoya sangat erat dan menenggelamkan wajahnya di keharuman rambut Zoya. Sungguh dia tak rela jika harus berpisah dengan wanita ini.


Zoya malah kaget mendapatkan pelukan mengejutkan dari Dewa ini. Tangannya tak bisa bergerak untuk sekedar membalasnya. Cukup lama Dewa memeluknya hingga hampir saja dia kehabisan nafas karena pelukan erat itu.


"Kau sudah boleh pergi" kata Dewa melepaskan pelukan itu dan berbalik agar Zoya tidak melihat matanya yang memerah.


Zoya semakin kebingungan dan heran dengan sikap Dewa ini, sebenarnya Dewa ini maunya apa?


"Aku pergi" kata Zoya menatap punggung Dewa sebelum pergi dari Apartemen itu.


Dewa tak menyahut, ia menahan dirinya untuk tidak menahan wanita itu agar tetap disini. Tapi hatinya juga tidak tenang jika membiarkan Zoya pulang. Dewa selalu berpikir kalau setelah ini Zoya pasti akan melepaskan rindunya dengan suami dan anaknya.


Membayangkan kalau Zoya akan bercinta dengan pria lain, Dewa menjadi sangat gusar sekali. Akhirnya dia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Ken, awasi terus wanita itu dan laporkan apapun yang dilakukannya" kata Dewa.


"Ya, dan cari tau semua informasi tentang wanita itu sebanyak-banyaknya Ken. Aku mau secepatnya kau mendapatkannya"


*****


Zoya tampak begitu bersemangat saat tiba di gang kontrakannya. Ia melangkahkan kakinya cepat-cepat agar bisa sampai di rumahnya. Saat dia lewat sebuah warung, banyak sekali ibu-ibu yang tampak berkumpul sambil berbelanja.


"Lihat tuh, dua minggu baru pulang, pasti habis kerja sampingan...."


"Ho'oh, percuma cantik kalau kelakuannya gitu..."


"Kali ini kayaknya pelanggannya orang kaya sampai bokingnya lama..."


"Pastinya lah, sama yang kemarin itu juga nggak dinikahian, palingan cuma di kawinin doang..."

__ADS_1


"Nggak kasihan apa sama anaknya, udah gede gitu tapi nggak tau bapaknya, bapak rame-rame sih.. "


Bisik-bisik sumbang langsung terdengar begitu ibu-ibu melihat Zoya datang. Zoya mengabaikannya karena sudah terbiasa mendengar hal seperti ini. Kalau pun dia marah tak ada gunanya karena para ibu-ibu itu pasti mencari kebenaran mereka sendiri.


Zoya tetap melanjutkan langkahnya hingga ia melewati sebuah pos ronda yang memang ada disana. Di pos itu tampak begitu ramai orang yang berkerumun dan jantung Zoya tiba-tiba seperti berhenti berdetak saat melihat anaknya yang sedang dimarahi seorang pria.


Tapi ada hal yang lebih membuat jantungnya seperti diremas hingga sangat nyeri saat pria itu memukul pipi anaknya.


"Dewa?" teriak Zoya berlari menghampiri anaknya yang sudah menangis ketakutan.


"Ibu...." Dewa kecil langsung menghambur memeluk ibunya dan mengencangkan tangisnya. "Om itu jahat Ibu...dia mukul aku..." kata Dewa kecil meraung.


"Dewa tenang ya sayang, ini ada ibu..." kata Zoya menahan tangisnya saat merasakan tubuh anaknya yang bergetar. Ia kemudian melihat pipi Dewa memerah bekas pukulan pria tadi.


Sumpah demi apapun, hati Zoya sakit sekali melihatnya.


"Apa yang kau lakukan? Apa sebegitu pengecutnya kau sampai memukul anak kecil?" teriak Zoya menatap pria itu penuh amarah.


"Heh! Anak lu udah maling dompet gua! Dia harus dikasih pelajaran supaya kapok!" kata pria itu tanpa bersalah sedikitpun.


"Putraku tidak mungkin melakukannya! Apa kau melihat sendiri kalau dia yang mengambilnya!" teriak Zoya lagi tak akan percaya.


"Buktinya sudah ada tuh, anak lu yang pegang dompet gua, jadi dia pasti mau ambil uang gua kan?" kata pria itu lagi.


"Hanya karena dia memegang dompetmu bukan berarti dia mencurinya dan kau sampai memukulinya seperti ini! Dasar pengecut!" teriak Zoya langsung menampar pria itu dengan keras.


Amarahnya memuncak tak rela anaknya di pukuli seperti ini. Selama lahir ke dunia ini, tak pernah sedikitpun Zoya membiarkan anaknya terluka sedikitpun, ia bahkan tak membiarkan seekor nyamuk mengigit anaknya. Dan pria ini dengan seenaknya memukul anaknya. Zoya tidak terima dan akan membalas semuanya.


"Kurang ajar! Berani sekali kau menamparku" kata pria itu mengangkat tangannya bersiap membalas perbuatan Zoya.


Zoya memejamkan matanya karena bersiap tamparan itu, tapi ia tak merasakan apapun hingga dia membuka matanya dan kaget saat melihat ada seseorang yang menahan tangan pria itu.


"Dewa?"

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2