
Asap hitam yang mengejutkan Mei. Walaupun ia menunggu seseorang membukaan pintu, namun hal itu tidak akan terjadi. Banyaknya asap karena pasti kebakaran di dalam sana, orang-orang juga berlarian ke luar. Salah satu caranya adalah dengan ia mengetuk pintu.
****
"Di mana Mei?!" tanya Daisuke.
Taki segera melihat ke sekelilingnya, hasilnya nihil tidak ada Mei di antara mereka. Taki segera menerobos masuk bangunan tersebut, walau ia sembat menjadi pusat perhatian dan banyak ocehan larangan untuknya. Petugas pemadam kebakaran juga sudah datang, namun semakin lama menunggu makan semakin sulit untuk menemukan Mei.
Toliet wanita?!
Sejenak tempat tersebut melintas di pikiran Taki. Taki kemudian berlari mencarinya, hanya ada dibagian lantai satu toilet berada. Ia juga menghindar tiap sesuatu yang runtuh menimpanya.
"Matsuda Mei!" teriaknya
Dong!! dong!! dong!!
Suara tersebut melintas di telinga Taki, suara pintu toilet yang terbuat dari baja. Taki terus mengikuti dan menuju suara ketukan tersebut. Namun perlahan suara tersebut menghilang dan lenyap.
'TOILET→'
Taki mengembangkan senyumanya, melihat papan yang menujukan arah toilet. Tanpa basa-basi ia menuju arah tersebut. Dan kini ia berdiri di depan pintu tersebut.
"Mei-chan, apa kau didalam?"
Mei hanya membalas dengan ketukan, walaupum ia dapat mendengar Taki, tetapi Taki tidak dapat mendemgarnya.
"Menjauhlah dari pintu,"
Brakk!!!
Taki menendang pintu tersebut, dan ia terkejut melihat Mei yang duduk lemah sembari terbatuk-batuk. Taki segera menghampiri Mei, dan membopong gadis tersebut untuk keluar.
Plak tanpa mereka sadari, ponsel Mei terjatuh. Mei memang dalam keadaan setengah sadar dan tidak. Berbagai halangan yang membuat mereka sulit untuk keluar. Hingga akhirnya Taki menemukan jalan keluar yang lumayan beresiko. Dengan perhitungan matematika dengan waktu, jika ia terlambat sedikitpun, maka nyawa yang akan menjadi taruhannya.
Perhitungan yang sangat tepat, mereka berhasil keluar walau keadaan Mei yang tidak baik. Mereka berdua segera di larikan ke rumah sakit.
****
Mendengar kabar mengejutkan dari Bulter Yang, Makoto mempercepat kepulangannya. Ia tiba di Jepang keesokan paginya setelah kejadian kebakaran. Ia setelah keluar dari Bandara segera menuju rumah sakit.
"Tuan," sambut Bulter Yang.
__ADS_1
"apa penyebab kebakaranya?"
"kompor dapur yang meledak,"
Makoto duduk di sebelah Mei, sembari memegang tangan Mei, Mei yang masih belum sadar sejak kemarin.
"Tuan Matsuda, adikmu hanya mengalami sedikit gangguan pernapasan akibat banyaknya asap yang ia hirup, tapi kami telah menanganinya." ucap dokter.
Waktu terus berjalan, sejak dua jam Makoto menunggu Mei.
"Mei-chan," panggil Makoto yang mengetahui bahwa adiknya mulai menggerakan jarinya dan membuka mata.
Para perawat dan doktor segera berlarian menuju bangsal yang Mei tepati dan mengecek kondisinya.
"Tuan Matsuda, boleh ikut saya sebentar." ucap Doktor.
Makoto dan sang doktor segera keluar dari ruangan tersebut. Mei segera turun dari kasur itu, walaupun Bulter Yang cukup khawatir.
"nona, seorang yang menolong anda ada di ruang sebelah."
Mei segera pergi menuju bangsal sebelahnya. Ia mulai membuka pintu tersebut. ia melihat Taki yang sedang memandangi jendela. Mendengar pintu yang terbuka, spontan ia melihat ke arah pintu tersebut.
"kau sudah sadar?" tanya Taki.
"ya,"
"ha?" Taki terkejut mendengar pertanyaan tersebut."
"saya tidak ingin berhutang budi pada anda," ucap Mei datar.
"aku tidak ingin uang atau kekayaan seperti Yujin dan yang lainnya, aku ingin aku menjadi temanmu," jawab Taki.
"saya, akan memikirkannya," ucap Mei kemudian ia melangkah menuju pintu untuj keluar."
"tunggu!"
Mei menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menghadap Taki.
"kenapa kau tidak menghubungi seseorang saat itu?"
"tidak ada sinyal saat itu,"
__ADS_1
"berapa nomor ponselmu?"
"saya tidak hapal,"
Taki segera menyobek kertas dan menulis nomornya, ia memberikannya pada Mei. Mei hanya dapat melihat dan belum menerima, seolah-olah ia bertanya untuk apa itu?
"jika kamu sudah memikirkan telpom aku,"
Mei segera menerima kertas tersebut dan segera keluar dari bangsal tersebut. Sedangkan Makoto dan Bulter Yang sedang membicarakan hal yang serius tentang kondisi Mei.
"apa yang dikatakan dokter, tuan?"
"seharusnya Mei sadar lebig cepat, mungkin bisa di katakan ia bisa sadar bersamaan denga Taki. Tapi mungkin ia memiliki trauma yang buruk hingga menyebabkan ia menjadi lebih lama tidak sadar."
"Makoto! Bulter Yang!" panggil Mei dari dalam.
"ya?" jawab mereka.
"dimana ponselmu?" tanya Makoto.
"di jaket,"
"tidak ada, di jaket hanya ada kartu tunai."
"ponsel nona sepertinya jatuh,"
"aku akan memberimu ponsel baru,"
"hem"
****
Apartement Mei.
Mereka telah boleh di pulangkan, Mei menolak Makoto yang membawanya ke kediaman Matsuda, dan akhirnya mereka menuju apartemnt Mei. Makoto meletakan sebuah kotak di meja.
"ini ponselmu," ucap Makoto menyerahkan ponsel tersebut, ponsel keluar baru grup Ainsoft.
"terimakasih,"
"aku tahu kau tak suka jika pelayan membantumu merawatmu, apa kau yakin kau bisa merawat dirimu?"
__ADS_1
"ya,"
Makoto bersama Bulter Yang segera berpamitan dan pergi dari situ, keheningan menyelimuti ruangan tersebut, hanya ada suara jam dinding sebagai penghias ruangan tersebut.