
Zoya Arawinda Davies, Terlahir menjadi putri keluarga konglomerat kaya membuat kehidupan Zoya bergelimang harta. Mungkin bagi orang yang melihatnya, mereka akan senang memiliki kehidupan kelas atas yang mewah. Tapi bagi Zoya hidupnya tak lebih dari sebuah neraka.
Semenjak lahir ke dunia, Zoya tak pernah merasakan bagaimana rasanya dipeluk oleh seorang Ayah. Orang bilang sosok Ayah adalah cinta pertama putrinya, tapi hal itu sepertinya tak berlaku bagi Zoya karena Ayahnya justru sangat membencinya.
Selalu di pandang di sebelah mata membuat Zoya tumbuh menjadi anak yang nakal dan sering membuat ulah. Zoya jarang mempunyai teman karena sikapnya yang dinilai sombong dan menyebalkan, Zoya suka membuat gara-gara terlebih dulu dan membuat orang kesal, tapi memang itulah caranya berteman.
"Jangan berkata itu Zoya, Semua anak di dunia ini dilahirkan sama, tidak ada ceritanya anak pembawa sial, Ayahmu mungkin belum bisa memberikan yang terbaik untukmu tapi dialah orang yang pertama kali menyambut mu di dunia ini. Dan kau harus bersyukur karena masih bisa melihat Ayahmu, tidak seperti diriku" kata Dewa tersenyum kecut, kehidupannya pun tak jauh berbeda dengan Zoya, sangat menyedihkan.
"Apa bedanya? Percuma punya Ayah tapi seperti tidak punya Ayah" kata Zoya.
"Tapi kamu masih bisa melihatnya Zoya, Kalau kamu kangen masih bisa ketemu, Sedangkan aku? Aku bahkan tidak pernah tau wajah Ayahku seperti apa" kata Dewa.
"Memangnya Ayah kamu kemana?" tanya Zoya mengerutkan dahinya.
"Nggak tau, Ibu bilang Ayah dulu ikut kerja keluar negeri tapi nggak pernah pulang" kata Dewa singkat. Terselip nada penuh kerinduan dalam ucapan itu membuat Zoya bisa merasakannya.
Zoya memandang Dewa yang tampak menerawang jauh, ia tak pernah tau bagaimana kehidupan Dewa sebelumnya, tapi mendengar pria ini tak pernah bertemu Ayahnya membuat perasaan Zoya sedikit tak enak, apakah memang ia yang tidak bersyukur karena memiliki Ayah?
"Ehm, Apakah kau ingin berteman denganku?" kata Zoya tiba-tiba mengatakan hal nyeleneh.
"Berteman?"
"Ya teman, Aku belum pernah punya teman, Aku rasa itu akan menyenangkan?" kata Zoya dengan senyum manisnya.
"Tidak, Aku tidak mau berteman denganmu" kata Dewa.
"Kenapa? Apa kau juga takut berteman dengan anak pembawa sial sepertiku?" kata Zoya mengerucutkan bibirnya.
Dewa memandang Zoya malas, Ia kemudian menyentil pelan dahi wanita itu membuat Zoya kaget.
"Aduh...Kenapa kau melakukan itu?" seru Zoya kesal karena di sentil oleh Dewa.
"Sengaja, Kau ini bodoh atau polos? Aku ini suamimu, jadi aku sudah menjadi teman hidupmu" kata Dewa mendesis jengkel.
__ADS_1
Zoya menggaruk kepalanya, ia lupa kalau sekarang Dewa sudah menjadi suaminya.
"Oh ya, Satu lagi, Aku juga sudah menjadi temanmu, teman tidurmu maksudnya" kata Dewa berubah mesum pandangannya.
"Dasar" sungut Zoya ingin melancarkan aksinya mencubit tangan Dewa tapi pria itu lebih dulu menarik tangannya dan berpindah posisi menjadi di sampingnya.
"Apa kau ingin melihat naga?" bisik Dewa memandang Zoya penuh arti.
"Naga? Dimana?" kata Zoya penasaran. Wajahnya tampak sangat polos saat menanyakan hal itu.
"Aku akan menunjukkannya padamu setelah sampai di rumah nanti" bisik Dewa gemas sekali melihat wajah Zoya.
"Naganya ada di rumah?" kata Zoya sedikit kaget, ia malah membayangkan kalau ada Naga di rumahnya.
Dewa tak menjawab, ia hanya tersenyum simpul dan menyempatkan dirinya untuk mencium rambut Zoya. Perlahan wahana biang lala itu berhenti, mereka berdua segera turun dan langsung pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan pulang, Zoya sudah menebak naga apa yang akan di tunjukkan Dewa padanya, ia bahkan sudah sangat tak sabar. Ia juga sudah menanyakan hal itu berkali-kali tapi Dewa tak menjawabnya.
"Mana Naganya?" kata Zoya langsung bertanya setelah mereka masuk kedalam rumah.
Zoya yang sangat penasaran pun segera mengikutinya. "Kau bohong ya, Kau bilang ada naga? Naga apaan?" kata Zoya sedikit kesal.
"Aku serius, Tutup dulu pintunya" kata Dewa membuat Zoya langsung menurutinya.
"Mana?" kata Zoya lagi.
"Kau benar-benar ingin tau?" kata Dewa berjalan mendekati Zoya yang masih berdiri di depan pintu.
"Iya" kata Zoya tak sabar, sedetik kemudian ia mendadak gugup saat tiba-tiba Dewa memerangkap dirinya di pintu.
Zoya menatap wajah Dewa yang begitu dekat dengannya, sangat dekat hingga ia bisa merasakan hembusan nafas itu.
"Dewa, Kau mau apa?" kata Zoya terbata.
__ADS_1
"Kau bilang ingin melihat naga" kata Dewa memandang Zoya dengan sorot mata memuja, ia menatap lekat-lekat pahatan sempurna wajah Zoya. Dari mulai alisnya yang tebal, matanya yang bulat, hidung mancung dan terakhir bibir merah jambu yang membuat darahnya ber desir.
"Dimana?" kata Zoya tak bisa melepaskan tatapan matanya dari Dewa.
"Disini" kata Dewa menarik lembut tangan Zoya lalu menyentuhkannya di lengannya.
Mata Zoya membesar, Jadi naga yang di maksud oleh Dewa adalah tanda lahir yang ada di lengannya. Dan Dewa ingin menunjukkan padanya, itu artinya ia harus.....
Dewa tersenyum melihat wajah Zoya yang kaget, ia menundukkan wajahnya lalu berbisik lembut di telinga Zoya.
"Bukalah, kau akan melihatnya, Aku masih punya waktu sedikit sebelum berangkat bekerja" bisik Dewa menggigit pelan telinga Zoya, lalu pipi dan me lu mat bibir tipis istrinya.
Zoya menerima ciuman itu, tangannya tanpa sadar mera ba tubuh Dewa dan mulai berani membuka kaos pria itu hingga keduanya semakin terpancing untuk melakukan hal lebih.
******
Dewa berlari-lari kecil menyeberangi halaman pabrik yang luas, ia sudah cukup terlambat berangkat ke pabrik karena sibuk mengeksplorasi bakatnya bersama Zoya. Jika bersama wanita itu, Dewa memang akan lupa segalanya.
"Baru dateng Lu?" tanya seorang senior yang melihat kedatangan Dewa.
"Iya Bang, Duluan ya" kata Dewa mengangguk singkat dan berlalu untuk segera masuk kedalam ruangan pembuatan sparepart motor.
Tapi malam itu sepertinya bukan malam yang baik bagi Dewa, karena pertama kali terlambat ia sudah di panggil oleh manager operasional. Dewa sedikit gugup saat berdiri dihadapan manager yang menatapnya tajam itu.
"Apa kau tau kalau dasar dari sebuah pekerjaan itu adalah rasa tanggung jawab, Kau bisa bekerja disini itu bukan sesuatu yang mudah, jadi seharusnya kau memanfaatkan peluang ini baik-baik, Aku paling tidak suka anak buah ku terlambat untuk alasan apapun, Kali ini aku memafkanmu, tapi jika lain kali kau mengulanginya lagi, Aku akan memberimu surat peringatan, Apa kau mengerti?" kata manager itu dengan suara yang tegas.
"Baik Pak" sahut Dewa mengangguk mengerti.
"Baiklah, kembalilah bekerja" kata manager mengibaskan tangannya menyuruh Dewa keluar.
"Baik Pak, Ehm....Maaf sebelumya, saya mau mengambil libur tanggal dua, Apakah bisa Pak?" kata Dewa sebenarnya ragu, tapi ia tentu tak ingin melewatkan momen di hari penting istrinya.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.