I'M FINE

I'M FINE
Seandainya Nanti.


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat, roda kehidupan terus berputar silih berganti. Kehidupan pun terus berjalan seiring waktu yang terus berputar.


Tak terasa tiga bulan sudah berlalu, kandungan Zoya saat ini sudah berumur 7 bulan. Tak ada hal yang perlu di khawatirkan, Zoya menjalani kehamilannya dengan sehat dan sangat aman tentunya. Dengan di dampingi suami yang siaga setiap saat membuat hati Zoya selalu diliputi kebahagiaan.


Setelah mengalami kecemburuan yang membabi buta di trimester pertama dan kedua. Sekarang Zoya berganti melakukan hal aneh. Dia sering suka memakan makanan yang tidak umum. Bahkan terkadang membuat Dewa sampai pusing untuk mencari makanan yang di inginkan istrinya.


"Nanti pulangnya jam berapa?" tanya Zoya ketika pagi-pagi membantu suaminya untuk memakai dasi.


"Sama kayak biasa, kenapa? Mau apalagi putriku yang satu ini?" sahut Dewa sudah bisa menebak apa yang menjadi kebiasaan istrinya jika bertanya seperti itu.


"Hari ini putrimu ingin makan kopi sangrai, nanti beliin ya kalau pulang," kata Zoya menepuk pelan bahu suaminya setelah ia menyelesaikan tugasnya.


"Kopi? Bukankah itu tidak bagus untuk Ibu hamil?" kata Dewa mengerutkan dahinya.


"Tapi aku pengen makan itu, nanti kalau kamu nggak turutin anak kita ileran lagi," kata Zoya mencoba menakuti suaminya.


"Mana ada? Itu hanya mitos sayang," kata Dewa justru tertawa karena ucapan istrinya.


"Jadi nggak mau nih beliin aku?" Zoya langsung memasang wajah cemberutnya.


"Langsung gitu mukanya, Aku bukannya nggak mau sayang. Kita tanya dokter dulu ya, nanti sore kamu ada jadwal periksa kan?" kata Dewa mencium bibir Zoya yang dimajukan itu.


"Emang iya? Sekarang tanggal berapa?" Zoya langsung membuka ponselnya untuk melihat tanggalan.


"Astaga! Sekarang tanggal 6 ternyata, gimana aku bisa lupa gini sih" gumam Zoya benar-benar lupa kalau hari ini ada jadwal periksa. Memang semenjak hamil, ia rasa ia menjadi pelupa.


"Untung aja aku inget, kau harus berterimakasih padaku," kata Dewa merengkuh istrinya dari belakang.


"Mau apalagi ini? Udah siang loh," kata Zoya melirik tangan suaminya yang mulai berjalan-jalan.


"Aku kangen, kamu tambah cantik semenjak hamil anak aku," kata Dewa mengelus-elus lembut perut buncit istrinya. Mungkin jika orang tidak tau pasti berpikir kalau kandungan Zoya hanya tinggal menunggu harinya, karena perutnya yang sudah sangat besar. Sepertinya, anaknya tumbuh dengan baik di dalam sana.

__ADS_1


"Memangnya hamil anak siapa lagi?" kata Zoya mengangkat alisnya, merasa ucapan Dewa itu absurd sekali.


"Ya anak aku dong sayang, aku cuma bercanda loh," kata Dewa menguyel-uyel gemas pipi istrinya.


"Ehm, kalau seandainya nanti aku meninggal saat melahirkan, apa kau akan membenci anak ini?" ucap Zoya.


"Apa maksudmu berkata seperti itu Zoya?" wajah Dewa langsung berubah saat istrinya berkata seperti itu.


"Aku cuma bertanya" kata Zoya.


"Lalu kenapa kau bertanya seperti itu? Zoya, apa kau tidak tau kalau ucapan itu bisa menjadi sebuah doa?" kata Dewa tak suka dengan ucapan istrinya itu.


"Iya maaf, aku hanya ingin tau saja, kalau seandainya aku meninggal nanti, apakah kau akan membenci putri kita?" kata Zoya kini berubah sendu tatapan matanya.


"Omong kosong! Tidak akan ada yang meninggal, kau saat ini sangat sehat, putri kita juga sehat. Semuanya baik-baik saja. Jangan pernah lagi kau berpikir seperti itu Zoya!" ujar Dewa dengan suara tegas dan gemetar menahan kekesalannya.


"Tapi kita tidak tau apa yang terjadi masa depan kan? Dewa, jika nanti aku tidak bisa selamat, bolehkah aku minta satu hal padamu? Tolong jangan membenci putriku, aku tidak....."


Akhir-akhir ini Zoya memang sering berkata seperti itu, Dewa tidak tau apa yang membuat istrinya selalu berpikir akan meninggal jika melahirkan nanti, padahal kandungan Zoya semuanya baik-baik saja, tapi entah kenapa Zoya selalu mempunyai pikiran kesana.


"Kau tidak mencium ku?" ujar Zoya menghentikan langkah Dewa yang akan sampai di ambang pintu.


Dewa menghela nafasnya, karena larut dalam kekesalannya, ia sampai lupa dengan ritual wajibnya. Ia kemudian berbalik untuk memeluk istrinya lalu mencium keningnya. Tak lupa, Dewa juga mencium perut istrinya.


"Baik-baik di rumah sama Ibu, Ayah kerja dulu," gumam Dewa setelah mencium perut buncit istrinya.


"Hati-hati Ayah," ucap Zoya membuat Dewa tersenyum sedikit.


"Aku berangkat dulu, Love you" kata Dewa sebelum benar-benar pergi meninggalkan istrinya.


"Love you more," balas Zoya dengan senyum manisnya.

__ADS_1


Setelah kepergian Dewa, Zoya langsung mendudukkan dirinya di ranjang. Ia mengelus lembut perutnya yang sudah besar, terkadang ia juga bisa merasakan tendangan ajaib dari anaknya. Kandungannya benar-benar sangat sehat.


Namun meskipun begitu, Zoya merasa takut karena ingat tentang ibunya. Dulu pembantunya pernah bercerita kalau saat mengandung dirinya, ibunya pun sangat sehat dan baik-baik saja. Tapi saat melahirkan, ternyata tekanan darah ibunya naik hingga membuat nyawanya tak tertolong.


Hal itulah yang membuat Zoya merasa takut, sangat takut jika dia tak bisa bertahan untuk anaknya nanti.


******


Dewa masih kepikiran tentang ucapan Zoya tadi pagi, selama bekerja, pikirannya tak tenang karena dijejali dengan pikiran-pikiran buruk tentang istrinya.


"Tuan Dewa, ini berkas yang anda minta, saya sudah mengeceknya, mungkin anda bisa mengecek kembali," ucap Bayu memberikan beberapa dokumen yang baru di ceknya kepada Dewa.


"Berikan saja pada Zoya," kata Dewa tak fokus membuat semua orang menatapnya karena saat ini dia sedang berada di ruang meeting.


"Maksudnya Tuan?" kata Bayu bingung tentunya.


"Astaga! Maafkan aku, berkasnya sudah selesai kamu cek?" Dewa tergagap saat mendengar suara Bayu, ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sudah semuanya Tuan, mungkin anda busa memeriksanya kembali" kata Bayu lugas.


"Baiklah, aku akan memeriksanya nanti. Untuk sekarang kita akhiri saja pertemuan ini, aku akan memanggil kalian lagi nanti," kata Dewa sepertinya butuh ketenangan saat ini.


Semua orang itu mengangguk lalu satu-persatu mulai meninggalkan ruang meeting. Hanya tinggal Bayu yang tersisa disana.


"Kenapa? Apa kau ada masalah?" tanya Bayu dengan perhatian, ia saat ini menepatkan dirinya sebagai seorang teman agar membuat Dewa nyaman berbicara padanya.


"Zoya, akhir-akhir ini sering bertingkah aneh Bay," ucap Dewa tak bisa jika harus memendam semuanya sendirian.


"Bertingkah aneh gimana?" tanya Bayu tak mengerti, seingatnya Zoya baik-baik saja, malah sangat baik menurutnya karena wanita itu lebih sering tersenyum.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2