
Dewa tak bisa menutupi rasa kagetnya saat mendengar istrinya akan melahirkan. Ia secepat mungkin langsung menyuruh Bayu mempersiapkan penerbangannya. Perasaan Dewa campur aduk, antara cemas, takut dan juga bahagia karena hari yang ditunggunya akhirnya datang juga.
Dewa bahkan sangat tak sabar sekali saat di dalam pesawat, ia ingin secepatnya sampai dan menemani istrinya melahirkan.
"Kita langsung ke rumah sakit aja," ucap Dewa setengah melompat dari Helikopternya. Ia berlari-lari kecil untuk bisa sampai di dalam mobil.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Dewa mencoba menghubungi Ayahnya namun tidak ada jawaban. Apakah Ayahnya itu sudah ada di rumah sakit, pikirnya. Dewa lalu ingat sesuatu, hari ini adalah hari spesial untuk istrinya, ia ingin memberikan sesuatu yang berkesan untuk wanita yang sudah berjuang untuk melahirkan anak mereka.
"Bay, agak cepet. Kita mampir ke toko Bunga dulu" kata Dewa ingin membawakan bunga untuk orang tercintanya itu.
Bayu mengangguk mantap, ia menambah kecepatan mobilnya agar secepatnya sampai di toko bunga terdekat.
Dewa melakukan semuanya dengan cepat, ia membelikan satu buket bunga kesukaan Zoya, yaitu bunga Anyelir merah.
"Udah Bay, kita ke Rumah Sakit sekarang" ucap Dewa memangku bunga yang akan di berikan kepada istrinya.
Perjalanan menuju rumah sakit itu entah kenapa terasa sangat lama untuk Dewa, kakinya bahkan bergerak tak sabar ingin secepatnya menemui istrinya, ingin secepatnya menemani istrinya melahirkan anak mereka.
Namun sesuatu yang tak terduga tiba-tiba saja terjadi, dibelakang mobil Dewa ada dua motor trail yang tiba-tiba mengejar. Awalnya tak ingin perduli, tapi kedua motor itu memepet mobil Dewa hingga membuat supir hampir saja oleng.
"Ada apa Bay?" tanya Dewa kaget.
"Sepertinya mereka mau menyerang kita" sahut Bayu juga kaget saat melihat dua motor yang kebut-kebutan di samping mobil mereka.
"Pepet saja mereka, kita akan tetap menang" kata Dewa memberi perintah kepada supirnya.
"Baik Tuan,"
Supir itu segera mempercepat mobilnya, kedua pengendara motor itu juga langsung mengikutinya. Saat menemukan lokasi yang cocok, supir memepet motor itu hingga terjatuh di trotoar.
Dewa tersenyum sinis melihat hal itu, apa pikir akan mudah menyerang dirinya. Namun saat Dewa melihat ke depan ia kaget saat melihat ada mobil truk yang ugal-ugalan menuju ke arahnya.
"AWAS!!!!" teriak Dewa memberitahu supirnya yang langsung kaget melihat hal itu.
__ADS_1
Karena mobil mereka sudah melaju begitu kencang, supir kesusahan untuk mengerem mobilnya hingga ia banting setir mobil ke arah kanan hingga mobil mereka keluar jalur yang salah dan langsung disambut mobil lain yang melaju dari arah berlawanan.
Suara tabrakan itu terdengar membahana dengan diiringi decitan ban yang sangat keras. Mobil Dewa terguling-guling beberapa kali hingga Dewa terlempar jauh dari mobilnya dan tak sadarkan diri.
Semua orang yang melintas pun segera memberi pertolongan kepada korban kecelakaan yang begitu dahsyat itu.
*****
Di Rumah Sakit, Zoya sudah siap di ranjang persalinannya, air ketubannya sudah pecah terlebih dulu namun dia baru pembukaan satu. Disana hanya ada Lusi yang menemani Zoya.
"Nyonya sabar ya, tarik nafas lalu hembuskan, rileks Nyonya" ucap Lusi yang baru pertama kali menemani orang yang akan melahirkan, mencoba sebisa mungkin membuat Nyonya-nya tenang.
"Kita cek pembukaannya dulu ya Nyonya, saya sudah memasang induksi, jadi Nyonya Zoya sudah tidak bisa turun dari ranjang," Dokter Obgyn kembali datang untuk melihat pembukaan jalan lahir Zoya.
"Sakit ..." Zoya mengerang saat gelombang rasa sakit itu kembali menyerang dirinya.
"Sudah pembukaan empat ini Nyonya, sebentar lagi lengkap. Mungkin kita bisa menunggu 1 sampai 2 jam lagi. Dibuat tenang ya Nyonya" ucap Dokter Obgyn itu menenangkan Zoya.
Zoya hanya memejamkan matanya rapat, ia sudah pernah melahirkan, tapi entah kenapa rasanya sangat berbeda dengan saat ia melahirkan Rayden dulu. Apa karena sekarang pikirannya tak tenang.
"Saya akan mengambilkan air untuk anda Nyonya," ucap Lusi langsung sigap untuk mengambil botol minuman yang sudah dibawanya.
"Mba, suami aku mana mba? Dia janji mau pulang mba?" ucap Zoya kembali ingat kalau suaminya belum datang.
"Saya akan mencoba menghubunginya lagi Nyonya, minum dulu," ucap Lusi membantu Zoya untuk minum.
Zoya hanya meminum sedikit air itu untuk mengurangi rasa kering di tenggorokannya. Namun karena ia minum, ia malah ingin muntah.
"Mba, aku pengen muntah," kata Zoya tak enak sebenarnya tapi ia tak bisa menahan dirinya.
"Muntah tidak apa-apa Nyonya, itu malah bagus untuk membantu pembukaan jalan lahir," ucap perawat yang menjaga Zoya.
"Tolong ambilkan wadahnya ya mba" ucap perawat itu kepada Lusi.
__ADS_1
Zoya langsung memuntahkan air yang baru saja diminumnya, perutnya justru semakin mulas jika dia baru saja muntah. Zoya beberapa kali merubah posisi tidurannya, namun rasa sakit itu semakin lama semakin menjadi-jadi karena memang pada dasarnya rasa sakit itu ada karena akan melahirkan.
"Wah, sudah pembukaan tujuh, sebentar lagi pembukaannya lengkap Nyonya" sesekali Dokter Obgyn mengecek kembali pembukaan Zoya.
Zoya hanya meringis, ia melampiaskan rasa sakitnya dengan memegang tangan Lusi. Entah pengasuhnya itu kesakitan atau tidak, rasa sakit itu bahkan semakin terasa karena sampai saat ini suaminya belum datang juga.
"Dewa, cepatlah datang, aku menunggumu..."
*****
Tara terlihat duduk termenung di kamarnya, ia melihat sebuah kalender yang sudah dia coret beberapa tanggal. Hal itu sengaja dilakukan karena menandai kalau dirinya belum selesai datang bulan.
Ya benar, dia kembali datang bulan dan belum bisa hamil juga. Entah apa yang sebenarnya terjadi padanya karena sampai saat ini belum bisa hamil. Tara kadang berpikir, apakah ini semua karmanya dulu yang telah tega mengugurkan bayi yang tak berdosa itu? Apakah sekarang Tuhan membalasnya dengan membuat Tara tidak bisa hamil.
"Tara!"
Tara tersentak kaget saat mendengar suara Frans, ia buru-buru bangkit untuk menemui Frans. Ia tak ingin hanya karena terlambat sedikit saja, Frans akan memukulinya.
"Ada apa Frans?" ucap Tara sedikit bingung saat Frans datang tidak sendiri, melainkan dengan seorang wanita.
"Siapa dia?" tanya Tara dengan tatapan tajamnya.
"Oh perkenalkan, dia Sherly, wanitaku" kata Frans dengan bangga merangkul kekasihnya didepan istrinya.
"Apa? Kau sudah gila? Aku ini istrimu! Kenapa kau malah membawa wanita lain ke rumah kita?" teriak Tara begitu berang.
"Jangan berani menggunakan nada seperti itu jika berbicara denganku!" bentak Frans kesal karena Tara berani berteriak di depannya.
"Kenapa? Aku masih istri sahmu! Jadi aku berhak melarang kau membawa wanita murahan ini pergi dari sini!" teriak Tara ingin menyerang wanita itu tapi Frans malah menghalanginya.
"Kau yang harusnya sadar diri! Kau mengaku sebagai istri sahku, memangnya apa yang sudah kau berikan kepadaku ha? Kau itu hanya wanita mandul" kata Frans begitu pedasnya membuat tubuh Tara rasanya gemetar seketika.
Tara tak bisa menahan air matanya saat suaminya sendiri tega menghinanya seperti itu. Namun ada hal yang lebih menyakitkan dari itu, yaitu Frans yang dengan tega bercinta didalam kamar mereka dan yang lebih parah, Tara mendengar suara-suara menjijikan itu dengan jelas. Benar-benar sangat menyakitkan.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.