
Ini adalah hari ketiga Dewa di Jakarta. Ia sudah memberikan santunan kepada beberapa korban dalam sabotase proyek itu. Namun ada beberapa yang menolak dan malah melaporkan Dewa ke polisi dengan tuduhan kalau Pemimpin perusahaan mereka sengaja melakukan hal ini untuk digunakan sebagai tumbal.
Bahkan tak jarang beberapa media meliput berita tersebut agar nama Dewa semakin jatuh. Dewa sudah menyelidiki semua orang yang kemungkinan besar mengkhianatinya, tapi masih belum menemukan titik terang karena orang ini bekerja sangat bersih.
Dewa juga sudah mencoba membungkam beberapa media yang menyebarkan berita tidak benar tentang dirinya itu. Mungkin para klien setianya masih berada di pihaknya hingga membuat Dewa tak terlalu khawatir. Tapi ia justru lebih mengkhawatirkan istrinya jika sampai melihat berita itu.
"Halo, Bagaimana kabarmu?"
Malam hari ketika ia beristirahat, Dewa langsung menghubungi istrinya lewat panggilan video.
"Aku baik, bagaimana denganmu?" sahut Zoya di seberang sana. Ia tampak tiduran dengan memakai baju suaminya untuk mengobati rindunya akan sosok pria itu.
"Aku sangat lelah sekali hari ini. Apakah semuanya baik-baik saja?" kata Dewa tersenyum saat menyadari istrinya sedang menggunakan kaos miliknya.
"Ya baik, Ayah dan Rayden sangat sehat" kata Zoya memandang tak jemu pada suaminya.
"Lalu bagaimana dengan my Baby? Apakah dia nakal?" tanya Dewa lagi.
"Dia baik-baik saja, tapi..."
"Tapi apa?" Dewa langsung menyela cepat.
"Sepertinya dia merindukan Ayahnya," kata Zoya benar-benar sudah merindukan suaminya ini, padahal mereka baru berpisah beberapa hari.
Senyum Dewa kian lebar mendengar hal itu. "Anak kita yang merindukanku, atau ibunya?" goda Dewa seraya mengerlingkan matanya.
Zoya hanya tersenyum, pandangan penuh kerinduan itu sangat tampak hanya dari sorot matanya. "Kapan kau akan pulang?" tanya Zoya.
"Belum tahu, masih ada banyak hal yang aku urus. Nanti aku akan langsung pulang jika semuanya sudah selesai" kata Dewa juga sangat rindu dengan istrinya ini.
"Aku menunggumu pulang Ayah," kata Zoya hampir saja membuat Dewa tak lagi bisa menahan dirinya. Kalau saja dekat, ia pasti akan langsung pulang malam ini juga.
"Aku pasti pulang sayang, jangan terlalu banyak pikiran ya, ini sudah cukup larut, sebaiknya kau tidur" ucap Dewa.
__ADS_1
"Aku belum bisa tidur," kata Zoya jujur saja.
"Kenapa? Mau aku peluk?" kata Dewa.
"Pengennya gitu, tapi kamu jauh"
"Aku peluk online aja kalau gitu, kamu bayangin kalau aku ada disana dan memelukmu," ucap Dewa membuat Zoya tertawa.
"Aku akan tidur kalau kau menyanyikan satu lagu untukku" kata Zoya.
"Bernyanyi lagi? Kan aku sudah bilang tidak bisa" kata Dewa menggelengkan kepalanya, menyanyi sungguh ide yang sangat buruk menurutnya karena suaranya terdengar begitu sumbang.
"Kemarin aja bisa, ayo nyanyikan lagu itu lagi untukku" kata Zoya memaksa, ia menata ponselnya disamping bantalnya dan ia memposisikan dirinya agar nyaman menatap suaminya.
"Baiklah Nyonya, aku akan menyanyikan lagu itu. Tapi janji kau harus tidur ya?" kata Dewa lagi.
Zoya mengangguk-anggukan kepalanya mantap. Ia memasang telinganya tajam agar bisa mendengar suara suaminya yang perlahan mengalun lembut. Zoya tersenyum saat Dewa benar-benar menyanyikan lagu itu untuknya.
Dewa terus bernyanyi hingga Zoya terlelap dalam tidurnya. Ia menarik sudut bibirnya saat melihat Zoya yang sudah terlelap itu.
*****
Zoya terbangun dari tidurnya saat hari masih cukup pagi. Hal pertama yang dilakukannya adalah mencuci mukanya dan berjalan-jalan di taman belakang rumah untuk membuat otot-otot kakinya menjadi lemas. Biasanya setelah itu, ia akan membuatkan sarapan untuk Rayden dan menyiapkan putranya untuk berangkat sekolah.
Sekarang Dewa sudah memperkerjakan satu orang baby sister untuk menjaga Rayden. Hal itu dilakukan untuk membantu Zoya agar tidak terlalu capek mengurus Rayden yang pasti masih sangat aktif-aktifnya.
"Mba, ini nanti bekalnya Rayden masukin tas ya. Aku mau bangunin anaknya bentar," ucap Zoya kepa Lusi baby sisternya.
"Baik Nyonya,"
Zoya langsung berjalan menuju kamar putranya yang letaknya berada di lantai satu bersebelahan dengan kamar Ayah mertuanya. Saat melewati ruang tengah, ia tak sengaja melihat Ayah mertuanya itu menelepon dengan wajahnya yang serius.
"Jadi belum ada titik terang sama sekali? Orang ini pasti sangat licik," itu hal pertama yang Zoya dengar.
__ADS_1
"Fokus saja dengan tujuanmu. Mengenai berita biarkan saja dulu, seiring waktu pasti beritanya akan hilang," ucap Anderson lagi membuat Zoya mengerutkan dahinya.
"Ya Zoya baik-baik saja. Dia belum melihat berita apapun" ucapan Anderson kali ini membuat Zoya semakin mengerutkan wajahnya.
Anderson sepertinya tidak tau kalau Zoya ada disana, ia baru sadar saat melihat bayangan Zoya dari salah satu kaca yang ada disana. Anderson langsung memutuskan panggilan itu.
"Zoya, sejak kapan kamu disitu?" ujar Anderson menebak apakah Zoya mendengar semua yang di ucapkan tadi?
"Baru saja, Ayah baru telepon siapa? Dewa ya?" kata Zoya dengan nada biasa saja.
"Oh iya, Dewa bilang ingin menghubungimu tapi kau tidak mengangkatnya," kata Anderson lega karena Zoya sepertinya tak mendengar percakapannya.
"Ponselku ada di kamar Ayah. Aku akan menghubunginya nanti setelah menyiapkan Rayden," kata Zoya lagi.
"Baiklah," ucap Anderson mengangguk singkat.
"Ayah kalau mau sarapan langsung aja, semuanya udah aku siapin, aku ke kamar Rayden dulu" kata Zoya lagi.
Setelah mengatakan hal itu, ia segera masuk kedalam kamar anaknya untuk membantu bersiap akan berangkat sekolah. Rayden sudah lebih mandiri sekarang, ia sudah bisa mandi sendiri dan juga memakai bajunya sendiri. Jadi hal itu memudahkan Zoya yang hanya bisa membantu merapikan sedikit penampilan anaknya.
"Hari ini sekolahnya sama Mbak Lusi lagi ya Kak, Ibu nggak bisa nemenin," kata Zoya mengantarkan anaknya sampai ke mobil setelah mereka semua menyelesaikan sarapan.
"Iya Bu," kata Rayden mengangguk lalu mengambil tangan Zoya dan menciumnya sebelum berangkat ke sekolahnya.
Zoya masuk kedalam rumahnya setelah memastikan putranya berangkat ke sekolah. Ia langsung masuk kedalam kamar dan melihat ponselnya. Ternyata memang benar kalau suaminya sudah menelepon beberapa kali.
Zoya lalu ingat perkataan Ayah mertuanya di telepon tadi. Ia tentu mendengar jelas apa yang Ayah mertuanya katakan, namun Zoya sengaja berpura-pura tidak tau karena ia bisa menebak, jika ia bertanya, Ayah mertuanya pasti akan menyembunyikan semuanya.
Zoya pun langsung menghubungi Dewa untuk menanyakan hal ini langsung. Tapi Dewa sama sekali tidak merespon sama sekali panggilannya.
"Apa mungkin dia sudah bekerja? Lalu berita apa yang sebenarnya di maksud oleh Ayah mertuanya itu?" batin Zoya menerka semuanya.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.