I'M FINE

I'M FINE
Menikmati Momen Berdua.


__ADS_3

Saat Zoya masuk kedalam ruang rapat, semua mata langsung menatapnya tanpa sembunyi, Zoya sempat menahan nafasnya ketika matanya bertatapan langsung dengan sorot mata tajam Ayahnya. Pandangan pria itu seolah begitu mengintimidasinya, ditambah tatapan dari Zachary yang tak kalah tajamnya.


Dewa yang mengerti situasi itu langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Zoya membuat wanita itu menatapnya.


"Semua akan baik-baik saja" bisik Dewa lalu menuntun langkah Zoya mendekat ke arah Davies yang tak melepaskan tatapannya.


"Mohon maaf sebelumnya karena sudah membuang waktunya, perkenalkan wanita yang duduk di sampingku ini adalah calon istriku, namanya Zoya, mungkin Tuan Davies masih mengingatnya?" kata Dewa sedikit sinis.


"Hentikan basa-basimu, kau sudah banyak membuang waktuku" kata Davies mulai begah melihat tingkah Dewa.


Dewa hanya mengulas senyumnya, sepanjang rapat itu di adakan, ia sengaja menunjukkan kemesraannya dengan Zoya, Dewa ingin keluarga Zoya tau kalau wanita itu sudah bahagia bersamanya sekarang.


"Kau sangat cantik sekali hari ini" bisik Dewa menggoda Zoya yang sejak tadi menatap layar monitor dengan serius.


"Memangnya kapan aku tidak cantik?" kata Zoya mengulas senyum sombongnya.


"Kau memang selalu cantik, rugi sekali orang yang sudah menyianyiakan wanita secantik ini" kata Dewa kembali melirik Davies yang terus menatap interaksi keduanya.


Davies semakin benci saat melihat bagaimana Zoya bisa tersenyum begitu lepas seolah tidak mempunyai beban apapun. Sepanjang rapat itu berlangsung ia menahan kekesalannya karena tingkah Dewa yang terang-terangan menantang dirinya. Pria itu belum tau saja siapa dirinya sebenarnya.


"Baiklah, karena semuanya sudah jelas, pemimpin perusahaan ini tetaplah Tuan Zachary, namun dengan jaminan jika jangan sampai kasus seperti ini terulang kembali. Tuan Zachary juga sudah berjanji untuk mengembalikan kepercayaan klien kita dalam jangka waktu 3 bulan. Jadi jika itu tidak tercapai Tuan Zachary harus siap mundur dari jabatan itu" kata Marco selaku dewan direksi tertinggi di perusahaan itu mengambil keputusan yang sudah disetujui oleh semua pihak.


Zachary tampak begitu puas sekali, kini ia menatap Dewa dengan wajah angkuhnya. Setelah semuanya meninggalkan ruangan itu, Zachary mendatangi Dewa yang berdiri satu garis didepannya bersama Zoya.


"Bagaimana Dewa? Apakah kau pikir semudah mengalahkan ku?" kata Zachary memasukan tangannya di kedua saku celana.


"Yah aku akui kau memang hebat. Tapi kau harus ingat kalau diatas langit itu masih ada langit. Jadi sebaiknya jangan bertinggi hati Zac, semua perbuatan yang kau lakukan saat ini pasti akan mendapatkan balasannya, jika tidak sekarang, mungkin nanti" kata Dewa santai saja.


"Benarkah? Kita lihat saja nanti" kata Zachary juga mengulas senyumnya yang memuakkan.


"Ya, jika kau jatuh nanti, aku pastikan orang yang pertama kali bertepuk tangan atas kehancuran mu" kata Dewa segera mengajak Zoya untuk pergi meninggalkan manusia sombong itu.


Zachary menarik sudut bibirnya, ia membiarkan saja apa yang akan dilakukan Dewa, toh selama ini bukankah dia selalu menang?


*****


"Sekarang jam berapa?" tanya Dewa teringat sesuatu.


"Jam 11 siang, kenapa?" kata Zoya.

__ADS_1


"Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat" kata Dewa menatap Zoya dengan senyumnya.


"Kemana? Kita tidak langsung pulang?" kata Zoya.


"Masih terlalu siang, kata Ayah, Rayden baik-baik saja dirumah. Jadi, hari ini aku mau ngajak Ibunya Rayden pacaran" kata Dewa mengerlingkan matanya.


"Pacaran?" kata Zoya tersenyum, merasa ucapan Dewa itu lucu.


"Ya, kita kan tidak pernah pacaran dulu" kata Dewa juga geli sendiri dengan ucapannya.


"Memangnya sejak kapan kita pacaran?" kata Zoya.


"Terserah, pokoknya kau itu pacarku, titik" kata Dewa dengan seenaknya saja membuat Zoya tertawa kecil.


Dewa tersenyum seraya merapikan rambut Zoya, ia ikut bahagia jika melihat Zoya bisa tertawa lepas seperti itu. Dia berharap bisa selamanya membuat wanita ini terus bahagia.


Hari itu Dewa mengajak Zoya kesebuah restoran dengan gaya kuno namun juga sangat asthetic, banyak sepasang kekasih yang juga menghabiskan waktunya disana. Tapi Dewa memilih mengajak Zoya menuju bagian samping restoran yang merupakan sebuah danau, disampingnya ada pohon-pohon besar yang melingkupinya membuat suasana sangat sejuk.


"Taraaa....." kata Dewa tersenyum ceria menunjukkan sebuah karpet yang digelar dengan bebagai makanan di atasnya.


"Apa ini? Kita mau piknik?" kata Zoya tersenyum.


"Ya, kita sangat jarang menghabiskan waktu berdua, jadi aku mengajakmu kesini, suka nggak?" kata Dewa menarik tangan Zoya untuk duduk di karpet itu.


"Lain kali kita akan mengajak Rayden kesini" kata Dewa lagi.


"Ya dia pasti senang disini" kata Zoya.


"Ehm...sepertinya aku melihat sesuatu di kakimu" kata Dewa melirik kaki Zoya yang ditekuk.


"Sesuatu apa?" kata Zoya bingung dan meluruskan kakinya untuk melihat ada apa tapi ia kaget saat Dewa tiba-tiba merebahkan kepalanya di pangkuannya.


"Dewa! Dasar modus" seru Zoya mencubit pipi Dewa gemas karena pria itu hanya menipunya.


"Hahaha, aku pengen banget ngerasain tidur disini" kata Dewa tertawa senang.


"Kan bisa bilang?" kata Zoya mengelus lembut kepala Dewa.


"Kalau aku bilang, kamu pasti nolak" kata Dewa memejamkan matanya menikmati elusan tangan Zoya di rambutnya.

__ADS_1


"Ya enggak, kenapa sih kamu jadi manja gini?" kata Zoya terus menatap lekat wajah Dewa yang semakin tampan sekali, garis wajah yang begitu sempurna, dengan hidung mancung dan alis yang tebal, ternyata selama ini bagian itu yang paling Zoya sukai.


"Aku kangen" kata Dewa membuka matanya membuat ia bertatapan dengan Zoya.


"Tiap hari ketemu padahal" kata Zoya terperangkap oleh mata hazel itu.


"Aku ingin kita terus hidup seperti ini sampai kita tua nanti" kata Dewa menyentuh pipi Zoya lembut.


"Aku juga" kata Zoya ikut menyentuh pipi Dewa.


Dewa tersenyum lembut lalu meraih tangan Zoya untuk mengelus kepalanya kembali, menikmati momen indah mereka berdua yang sangat jarang mereka lalui.


"Ehm, apa kau sudah lapar?" kata Dewa setelah cukup lama keheningan antara keduanya.


"Lumayan"


"Baiklah, kita makan dulu kalau begitu" kata Dewa bangkit dari posisinya, terlalu nyaman sampai lupa segalanya.


"Aku akan ke toilet dulu" kata Zoya sejak tadi menahan dirinya karena tak enak menganggu Dewa.


"Aku akan mengantarmu" kata Dewa langsung sigap.


"Tidak usah Dewa, aku hanya ke toilet" kata Zoya mencegah.


"Tidak apa-apa, ayo" kata Dewa bersikukuh.


Zoya mengerutkan dahinya melihat kekeraskepalaan Dewa, tapi ia tak membantah karena Dewa pasti tetap akan memaksanya. Akhirnya dia membiarkan saja Dewa mengantarnya ke toilet.


"Sudah sampai disini saja, aku akan masuk" kata Zoya menyuruh Dewa berhenti agak jauh dari toilet.


"Aku akan mengantarmu sampai kesana" kata Dewa menunjuk pintu toilet wanita yang letaknya lima meter lagi.


"Kenapa tidak sampai masuk kedalam sekalian" kata Zoya melirik Dewa kesal.


"Sesuai keinginanmu Nyonya" kata Dewa malah kesenangan.


"Dasar! Sudah sampai disini saja, aku hanya sebentar" kata Zoya lagi.


Zoya segera masuk kedalam toilet untuk menuntaskan hajatnya, didalam toilet itu ada tiga pintu, Zoya langsung masuk kedalam pintu yang terbuka, setelah selesai ia langsung keluar namun ia kaget saat tiba-tiba tangannya ditarik dengan kasar oleh seorang pria, lalu dengan cepat pria itu melingkarkan sebuah pisau dilehernya.

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2