I'M FINE

I'M FINE
Sore Hari Di Pulau Bintan.


__ADS_3

Zoya tak henti mengulas senyum dan tawanya saat melihat kesenangan Rayden yang bermain pasir bersama Ayah dan Kakeknya. Putranya itu tak henti tersenyum dan terlihat sangat bahagia sekali.


Cukup lama mereka bermain, lalu Dewa mengajak Rayden bersama Anderson untuk duduk bergabung dengan Zoya. Baju mereka semua terlihat basah dan kotor, namun meskipun begitu, entah kenapa Dewa malah terlihat sangat tampan dimatanya.


"Udahan mainnya?" tanya Zoya.


"Iya, Rayden udah capek. Ayah juga pasti capek," sahut Dewa mendudukkan dirinya di samping Zoya.


"Mau pulang sekarang atau bagaimana?" tanya Zoya lagi.


"Ayah katanya mau lihat Museum, tapi lokasinya jauh dari sini, apa kamu mau ikut?" ujar Dewa sempat menanyakan pada Ayahnya tadi.


"Kalau Zoya capek, nggak usah lah Nak. Ayah biar di temani Bayu saja, lagipula Zoya udah hamil besar, jadi enaknya buat jalan-jalan dekat sini aja," ucap Anderson.


"Nggak apa-apa kok, Yah. Kita bisa lihat bareng-bareng. Lagian kita kan naik mobil," kata Zoya tak keberatan jika harus ikut.


"Kamu yakin mau ikut? Kalau naik mobil bisa sampai dua jam sampainya. Ayah kesana mau sekalian mencari obat untuk kakinya yang sering kram. Katanya disana ada pijat refleksi seperti itu," kata Dewa bukannya tak ingin menemani Ayahnya, tapi ia juga memikirkan kesehatan istrinya.


"Iya Nak, Ayah bukannya tidak ingin kamu ikut. Kasihan cucu Ayah kalau kelelahan nanti. Besok Ayah juga sudah kembali, nanti biar ditemani Bayu saja. Dia juga nganggur tuh," kata Anderson menunjuk Bayu yang berdiri tak jauh dari mereka bersama para pengawal.


"Baiklah. Ayah hati-hati ya nanti. Apa nggak sebaiknya kita ikut aja?" kata Zoya lagi.


"Tidak usah. Ayah mau kembali ke resort dulu, Rayden juga harus mandi ini, nanti keburu kemalaman. Pulang sama Kakek aja ya, nanti biar Ayah sama Ibu" ujar Anderson pada cucu kesayangannya.


"Iya Kek," sahut Rayden menurut saja.


Zoya mengerutkan dahinya, kenapa sekarang Rayden sangat dekat sekali dengan Kakeknya. Zoya merasa sedikit terabaikan.


"Gimana kalau kita pulangnya jalan kaki aja? Aku pernah baca artikel, katanya kalau berjalan kaki itu sangat bagus untuk ibu hamil," kata Dewa mengingat tentang artikel yang pernah dibacanya.


"Boleh, kita bisa sekalian lihat pemandangan disini," kata Zoya setuju saja, ia malah senang kalau berjalan kaki karena selama ini ia juga jarang melakukannya.


"Ya pemandangan disini memang sangat bagus," kata Dewa menggenggam tangan istrinya lalu mengajaknya menyusuri jalan setapak menuju Resort tempatnya menginap.


"Ehm, Dewa, aku ingin mendengar mu bernyanyi" ucap Zoya tiba-tiba.


"Bernyanyi?" Dewa mengulangi perkataan Zoya.


"Ya, aku ingin kau bernyanyi. Ayo nyanyikan satu lagu untukku," kata Zoya merasa ingin sekali mendengar suara suaminya bernyanyi.


"Tapi aku tidak bisa bernyanyi sayang," kata Dewa menolak ide itu karena dia memang tidak bisa bernyanyi sama sekali.


"Bisa. Semua orang pasti bisa bernyanyi, mau ya? Ini anak kamu loh, yang minta" kata Zoya mengeluarkan jurus andalannya yaitu menggunakan anaknya sebagai senjata.


"Hahaha, mana ada? Itu hanya keinginanmu," ucap Dewa tertawa seraya menggelengkan kepalanya.


"Jadi kalau aku yang minta kau tidak mau menurutinya?" kata Zoya kini beralih memasang wajah ngambeknya yang imut.


"Bukan begitu, tapi aku tidak bisa bernyanyi, yang lain saja" kata Dewa benar-benar tak ada bakat untuk bernyanyi.

__ADS_1


"Tapi aku pengennya itu, Dewa" kata Zoya merengek manja.


"Aku serius tidak bisa bernyanyi, nanti telinga kamu malah sakit lagi kalau mendengar aku bernyanyi" kata Dewa lagi.


"Enggak. Ayo dong nyanyi buat aku. Kalau nggak mau aku ngambek nih" kata Zoya langsung menghentikan langkahnya hingga genggaman mereka terentang.


"Zoya" ucap Dewa menatap istrinya dengan raut wajah memohon.


"Dewa" Zoya juga balas menatapnya dengan tatapan yang selalu membuat Dewa luluh.


Dewa menghela nafasnya, Zoya itu memang sangat menyebalkan. Hanya karena tatapan dari mata bulat yang indah itu, dia sudah tidak bisa berkutik.


"Baiklah, aku akan bernyanyi. Tapi aku tidak pernah tau lagu bagus" kata Dewa mengalah.


"Apa saja, yang pastinya tentang cinta" kata Zoya senang sekali bisa membuat Dewa mau bernyanyi untuknya.


Dewa berdehem sebentar, seumur-umur Dewa tidak pernah bernyanyi selain waktu dirinya menjadi tim paduan suara di sekolahnya. Tapi sekarang, dia harus bernyanyi dengan alasan cinta?


Well, definisi bucin yang berkepanjangan memang sangat cocok untuk dirinya.


Our dreams are young and we both know.


(Mimpi kita masih muda dan kita berdua tahu).


They'll take us where we want to go.


Hold me now, touch me now.


(Pegang aku sekarang, sentuh aku sekarang)


I don't want to live without you.


(Aku tidak ingin hidup tanpamu)


Nothing's gonna change my love for you.


(Tidak ada yang akan mengubah cintaku padamu)


You oughta know by now how much I love you.


(Kamu harus tahu sekarang betapa aku mencintaimu)


One thing you can be sure of.


(Satu hal yang bisa kamu yakini)


I'll never ask for more than your love.


(Aku tidak akan pernah meminta lebih dari cintamu)

__ADS_1


Nothing's gonna change my love for you.


(Tidak ada yang akan mengubah cintaku padamu)


You oughta know by now how much I love you.


(Kamu harus tahu sekarang betapa aku mencintaimu)


The world may change my whole life through.


(Dunia dapat mengubah seluruh hidupku)


But nothing's gonna change my love for you.


(**T**api tidak ada yang akan mengubah cintaku padamu)


Judul lagu : Nothing's Gonna Change My Love For You


By: George Benson.


Zoya langsung bertepuk tangan senang setelah Dewa menyelesaikan lagunya. Ia tak menyangka suara suaminya sangat merdu.


"Wow! Suara kamu bagus banget," kata Zoya dengan senyumannya yang indah.


"Hahaha, benarkah?" kata Dewa tertawa kecil melihat reaksi Zoya.


"Iya aku serius, nanti kamu harus sering nyanyi lagi buat aku" kata Zoya lagi.


"Apa hadiahnya?" kata Dewa tersenyum jahil.


"Hadiah apa?" tanya Zoya mengernyitkan dahinya.


"Hadiahnya aku minta kalau sampai di Resort saja. Sekarang kita harus secepatnya pulang," kata Dewa menaikturunkan alisnya menjadi ekspresi genit.


"Emang harus itu ya? Kamu apa nggak bisa libur sehari gitu?" kata Zoya sedikit heran kenapa suaminya ini senang sekali melakukan hal seperti itu. Ya walaupun dia juga senang, tapi tidak seperti Dewa yang harus anytime and anywhere.


"Bisa aja, tapi kalau punya istri cantik dianggurin kan sayang banget" kata Dewa menjawab dengan santainya.


"Ish, padahal nanti kalau aku melahirkan, kamu harus puasa nggak begituan" kata Zoya tak bisa membayangkan jika suami mesumnya ini harus berpuasa selama itu.


"Alah cuma seminggu doang kan? Gampang itu mah" kata Dewa berpikir kalau orang baru saja melahirkan itu sama seperti orang menstruasi yang hanya seminggu saja.


"Seminggu gimana? 40 hari Dewa! Itu paling cepat"


"Ha?" Dewa ingin pingsan rasanya mendengar hal itu. Ia melirik bagian kebanggaannya, selama itu harus nganggur? What happened?


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2