I'M FINE

I'M FINE
Mengatakan Kebenaran.


__ADS_3

Zoya masih begitu syok melihat apa yang terjadi, tapi ia semakin kaget saat tau jika peluru yang ditembakan Dewa tadi mengenai lengan Bayu. Mungkin hanya menyerempet, tapi tetap saja lengan Bayu terluka.


"Argh......" Bayu memegang lengannya yang terasa sangat nyeri, Dewa benar-benar tidak suka basa-basi, jika dia ingin menembak maka dia akan langsung melakukannya.


Dewa sendiri tak perduli saat melihat Bayu kesakitan itu. Dia sangat tidak suka saat tau kalau pria ini berani menyentuh Zoya. Baginya Zoya adalah miliknya seutuhnya.


"Apa yang kau lakukan? Kau melukainya!" kata Zoya marah pada Dewa, ia kemudian membantu Bayu untuk mengobati lukanya.


"Diam ditempat mu Zoya!" kata Dewa memandang Zoya dengan sorot mata dinginnya.


Zoya balas menantang tatapan mata Dewa. "Dimana sebenarnya hati nuranimu! Kau tidak lihat dia butuh pertolongan!" kata Zoya mengabaikan perkataan Dewa.


"Menjauh dari dia atau aku akan menghabisinya!" kata Dewa kembali mengacungkan pistolnya kepada Bayu.


Zoya menatap Dewa tidak percaya, apa yang sebenarnya yang ada dipikiran Dewa. Kenapa pria itu dengan mudah melukai seseorang tanpa sebab. Tapi saat melihat sorot mata Dewa yang sangat tajam itu, Zoya yakin kalau semakin dia menantang Dewa maka pria itu akan semakin menggila.


"Kau memang pria gila!" teriak Zoya begitu kesal dan segera pergi darisana.


Dewa hanya tersenyum sinis memastikan kalau Zoya sudah pergi dari sana lalu kembali menatap Bayu.


"Kau tau kesalahamu Bay?" kata Dewa berdiri angkuh di depan Bayu.


"Maafkan aku, tapi aku hanya ingin mengatakan padamu kalau Zoya tidak salah apapun. Dia melakukan itu semua karena menolongmu saat itu" kata Bayu berusaha menjelaskan disela kesakitan yang mendera.


"Kau pikir aku bodoh? Kau pasti sudah bersekongkol dengannya untuk mengatakan ini padaku kan? Apa dia menggodamu?" kata Dewa terkekeh sinis.


"Dia bukan wanita seperti itu Dewa. Dia itu wanita yang sudah berjuang untuk dirimu, bahkan dia rela menukar hidupnya agar kau bisa diselamatkan waktu itu" kata Bayu cukup emosi karena Dewa tak percaya padanya.


"Omong kosong!"


"Itu kenyataannya Dewa! Apa kau tidak berpikir siapa yang sudah membayar operasimu saat itu. Zoya yang melakukannya! Dia mengemis kepada Ayahnya agar memberinya uang untuk membayar tagihan rumah sakit!" kata Bayu.

__ADS_1


"Tapi buktinya dia meninggalkanku dan menikah dengan pria lain Bay!" kata Dewa masih tak percaya.


"Itu semua karena persyaratan dari Ayahnya! Dia akan meminjamkan uang pada Zoya tapi dengan syarat Zoya harus meninggalkanmu" kata Bayu berteriak untuk membuat Dewa sadar kalau dia mengatakan hal yang sebenarnya.


Dewa terdiam, apakah yang dikatakan oleh Bayu itu semua benar? Tapi kenapa rasanya begitu tidak mungkin?


"Aku tidak percaya padamu!" kata Dewa masih belum terima rasanya, karena ia sangat ingat perkataan Zoya yang sangat menyakiti hatinya.


Kau ingin tau kan apa alasanku menceraikanmu? Jawabannya mudah saja, karena aku tidak mau lagi hidup miskin bersamamu. Lagipula apa yang sebenarnya kau pikirkan? Aku juga tak mungkin menghabiskan hidupku mengurus pria cacat sepertimu bukan?


*****


Dewa duduk di kursi kerjanya, ia menghisap rokoknya lalu mematikannya dan kembali menyulut rokok yang baru. Ia terus mengulanginya hingga entah keberapa kalinya.


Pikirannya tampak tak tenang memikirkan apa yang dikatakan oleh Bayu. Kenapa seolah hatinya tidak bisa menerima jika Zoya memang melakukan hal itu? tapi kadang juga ia ingin sekali percaya namun otaknya seolah menolak itu semua.


Tok Tok Tok Tok


"Masuk!"


"Permisi Tuan, maaf mengganggu waktu anda. Nona Zoya sejak tadi tidak mau memakan apapun dan tidak mau keluar dari kamarnya" kata Ken melaporkan.


"Biarkan saja" kata Dewa acuh.


"Baik Tuan" kata Ken sedikit heran saat melihat hal itu.


Dewa kembali duduk di kursinya, tapi baru saja duduk, pikirannya malah tak tenang karena Zoya belum makan. Ia kemudian bangkit dan memerintahkan pelayan untuk menyiapkan makanan untuk Zoya, ternyata dia selalu tak bisa jika harus tidak memikirkan wanita dengan senyum manis itu.


Setelah makanan siap, Dewa membawa sendiri makanan itu ke kamarnya. Ia melihat Zoya yang tertidur di sofa panjang yang menghadap ke jendela. Dewa meletakkan nampan itu di meja lalu mendudukkan tubuhnya disamping Zoya yang masih tertidur damai.


Dewa menatap lekat-lekat wajah Zoya yang tertidur damai seperti malaikat. Tapi meskipun dalam tidurnya, ia bisa melihat kesedihan diwajahnya. Apakah Zoya sedih karena Dewa bersikap seperti ini.

__ADS_1


Dewa lalu mengambil tangan Zoya yang tampak terbuka, ia memegang telapak tangan Zoya yang cukup kasar seperti telah melakukan pekerjaan kasar. Padahal Dewa ingat bagaimana halus dan lembutnya tangan Zoya waktu dulu karena dia sangat senang jika Zoya mengelus rambutnya dengan tangan halus ini.


"Maafkan aku Zoya, aku terlalu mencintaimu sampai takut jika kau akan meninggalkanku lagi" batin Dewa mencium tangan Zoya penuh kasih.


Mungkin karena merasa ada yang memegang tubuhnya, Zoya jadi terbangun dan dia kaget saat melihat Dewa yang ada di dekatnya. Ia langsung menjauhkan tubuhnya karena takut Dewa akan macam-macam padanya.


"Aku tidak akan melakukan apapun padamu" kata Dewa menahan tangan Zoya pelan, tidak sekasar biasanya.


"Lalu untuk apa kau disini?" kata Zoya masih waspada.


"Pelayan bilang kau belum makan apapun, sekarang makanlah" kata Dewa bangkit dari duduknya lalu beralih ke sofa tunggal lainnya.


"Aku tidak lapar" kata Zoya ketus, tapi sedetik kemudian perutnya malah bersuara, sungguh tidak bisa diajak kompromi sekali.


Dewa menahan senyumnya saat mendengar itu. "Apa itu yang kau bilang tidak lapar?" kata Dewa tersenyum mengejek.


Wajah Zoya memerah, antara jengkel dan juga malu. Ia kemudian menatap makanan di depannya dan kembali menatap Dewa.


"Aku akan memakan makanan itu, tapi dengan satu syarat" kata Zoya tiba-tiba punya ide bagus dikepalanya.


"Syarat?" kata Dewa menekuk wajahnya, menebak apa yang direncanakan oleh Zoya.


"Ya, aku mau makan kalau kau membebaskan ku dari sini" kata Zoya tau jika Dewa di lawan, dia akan semakin beringas, jadi dia harus pintar mencari celah agar Dewa mau membebaskannya.


Dewa malah tertawa mengejek mendengar hal itu. "Apa kau pikir aku seperduli itu padamu? Kau tidak mau makan pun aku tidak perduli, untuk apa aku harus repot menuruti keinginanmu" kata Dewa dengan sinisnya.


"Baiklah kalau begitu, aku tidak akan makan dan aku pasti akan kehabisan tenaga. Kau tau kan kalau aku kehabisan tenaga, aku tidak bisa melayanimu disana?" kata Zoya menggunakan tubuhnya untuk memancing Dewa karena ia tau kelemahan pria ini sekarang.


"Jadi kau menggunakan tubuhmu untuk mengancamku? Apakah menurutmu posisimu sebanding denganku? Aku bahkan bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih darimu setiap harinya, untuk apa aku harus repot menuruti persyaratan itu" kata Dewa mendesis sebal.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2