
Pagi menyingsing cepat, sinar matahari tampak menerobos masuk melalui kaca jendela kamar. Kicauan burung terdengar memecah kesunyian pagi membuat Dewa terganggu tidurnya. Ia membuka matanya perlahan dan melihat luar yang sudah sangat terang, sepertinya sudah cukup siang.
Selama lima tahun, Dewa jarang sekali bangun siang seperti ini, tapi kali ini berbeda, mungkin karena hatinya sudah diliputi kelegaan dan kebahagiaan yang membuncah. Dewa lalu melihat sosok mungkin yang masih tertidur damai dalam pelukannya, Dewa tersenyum lembut. Wanita ini yang akan menemaninya seumur hidupnya.
"Selamat pagi" bisik Dewa mencium lembut telinga Zoya tapi wanita itu hanya menggeliat saja.
Dewa semakin mengembangkan senyumnya, ia lalu melihat wajah Zoya yang tampak berkerut karena sinar matahari, melihat hal itu, Dewa langsung menggunakan tangannya untuk menutupinya agar tidak mengenai wajah Zoya. Ia membiarkan Zoya melanjutkan tidurnya hingga cukup lama sampai akhirnya mata indah itu terbuka.
"Dewa!" seru Zoya kaget karena melihat Dewa ada didepannya, ia menjauhkan dirinya namun dengan cepat Dewa menahan tangannya.
"Kau mau kemana? Disini saja" kata Dewa kembali memeluk Zoya, rasanya ia belum puas jika harus melepaskan pelukan rindu ini.
"Ehm, Ini jam berapa? Kenapa tidak membangunkan ku? Bukannya kita akan menjemput Dewa" kata Zoya sedikit canggung jika berdekatan dengan Dewa seperti ini, mungkin karena belum terbiasa.
"Nanti kita akan menjemputnya, Oh ya, kenapa kau memberi nama anak kita Dewa?" tanya Dewa.
"Waktu itu aku hanya terpikir nama itu" kata Zoya seadanya.
"Maafkan aku karena tidak bisa menemanimu waktu itu" kata Dewa kembali digelayuti rasa bersalah jika mengingat perjuangan Zoya.
"Tidak apa-apa, Dewa juga sangat baik sejak dalam kandunganku, dia tidak pernah merepotkan ibunya" kata Zoya dengan cuping hidung yang mengembang, merasa bangga dengan putranya itu.
"Kapan dia lahir?" tanya Dewa ikut bangga mendengarnya.
"15 oktober"
"15 Oktober? Berarti 2 minggu lagi dia ulang tahun" kata Dewa kaget.
"Ya, yang ke lima tahun" kata Zoya lagi.
"Kita harus merayakannya, Aku harus mengganti semua waktu yang sudah aku lewatkan selama ini. Apa putra kita mau menerimaku sebagai Ayahnya?" kata Dewa berubah suram pandangannya, ingat bagaimana kehidupan Zoya dan putranya yang serba kekurangan, bahkan Zoya harus bekerja keras untuk bertahan hidup selama ini.
"Kenapa tidak mau? Dewa pasti seneng ketemu sama Ayahnya" kata Zoya tersenyum menenangkan.
"Kau memang wanita yang luar biasa Zoya, kau mendidik putraku dengan sangat baik. Aku sangat beruntung memilikimu" kata Dewa mencium kening Zoya lagi, rasanya kini perasaan cintanya semakin meluap-luap pada wanita ini.
__ADS_1
"Aku lebih beruntung memilikimu" kata Zoya menatap Dewa yang sangat dekat dengannya.
Perlahan Dewa mendekatkan wajahnya bersiap untuk mencium Zoya, tapi Zoya segera memasang tangannya hingga ciuman itu hanya mengenai telapak tangannya.
"Kenapa?" tanya Dewa mengerutkan dahinya karena Zoya menolak ciumannya.
"Aku belum gosok gigi" kata Zoya tidak percaya diri.
Dewa tertawa kecil ingat dulu jika Zoya juga pernah menolak ciumannya dengan alasan yang sama.
"Tidak ada aturannya kan kalau berciuman harus gosok gigi dulu, lagipula aku tetap suka meskipun seperti apapun keadaanmu" kata Dewa menyentuhkan hidungnya ke hidung Zoya, merasa gemas sekali dengan Zoya.
"Gombal banget" kata Zoya mendorong tubuh Dewa dan melepaskan dirinya kemudian berlari ke kamar mandi.
Dewa tertawa kecil melihat tingkah Zoya ini, rasanya sudah lama sekali dia tidak tertawa selepas ini. Dalam hatinya Dewa tak henti mengucap rasa syukur kepada Tuhan karena masih memberinya kesempatan untuk bertemu dengan wanita yang dicintainya.
*****
Pukul delapan pagi, Dewa terlihat sudah sangat rapi dan bersiap untuk menjemput putranya. Namun sebelumnya ia mengajak Zoya untuk sarapan terlebih dulu. Dewa menemui Zoya yang sejak tadi belum keluar dari kamarnya.
"Ya, sudah" kata Zoya langsung menoleh saat mendengar suara Dewa.
Dewa terdiam sesaat ketika melihat tampilan Zoya yang sangat cantik sekali pagi itu. Setiap gaun yang dipilihnya pasti selalu pas di tubuh Zoya, atau memang Zoya yang pantas memakai baju apapun. Tapi Dewa sedikit menekuk wajahnya saat melihat sepatu Zoya yang sudah tak layak pakai itu.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa aku aneh?" tanya Zoya merasa salah tingkah ditatap sedemikian rupa oleh Dewa.
"Tidak, kau sangat cantik" kata Dewa mendekati Zoya lalu mengulurkan tangannya.
Wajah Zoya kembali memerah, Dewa ini memang sangat bisa membuat dirinya salah tingkah seperti ini. Ia kemudian menyambut uluran tangan Dewa lalu Dewa mencium tangannya.
"Kita akan menjemput putra kita, tapi kita harus sarapan dulu" kata Dewa menggandeng mesra tangan Zoya.
"Ya, apakah Ayahmu tidak marah?" kata Zoya.
"Marah kenapa?" kata Dewa tak mengerti.
__ADS_1
"Kau sudah punya anak dari wanita sepertiku" kata Zoya benar-benar minder rasanya.
"Memangnya kau wanita seperti apa?" kata Dewa mengerutkan dahinya.
"Ya kau tau sendiri kalau kita berdua itu berbeda Dewa, Ayahmu pasti ingin kau memiliki wanita yang setara denganmu kan?" kata Zoya menundukkan pandangannya.
Dewa semakin mengerutkan dahinya, ia sepertinya tau apa yang dirasakan oleh Zoya. Dewa lalu menyentuh dagu Zoya hingga wanita itu menatapnya.
"Jangan pernah berpikir kalau kau tidak pantas untukku karena kau adalah wanita yang paling hebat yang pernah aku kenal. Aku sangat mencintaimu dan tidak akan ada yang bisa merubah itu sampai kapanpun" kata Dewa memandang Zoya dengan mata hazelnya yang indah, mencoba meyakinkan Zoya kalau apapun yang akan terjadi nantinya, Dewa tak akan melepaskan Zoya.
"Benarkah?" kata Zoya merasa perkataan Dewa ini gombal sekali, tapi entah kenapa hatinya menghangat mendengarnya.
"Tentu, jadi jangan pernah lagi berpikir akan meninggalkanku, karena sejauh dan sekuat apapun kau akan pergi, aku pasti akan mengejar mu" kata Dewa mencubit hidung Zoya gemas.
"Aduh, sakit tau..." kata Zoya pura-pura kesakitan.
"Biar, itu hukuman karena kau berpikir seperti itu. Percayalah Zoya, Ayahku pasti menerima mu, dia pasti akan bangga memilki menantu sepertimu, sekarang ayo, aku akan mengenalkanmu kepadanya" kata Dewa kembali merengkuh mesra pinggang Zoya dan mengajaknya turun ke bawah menemui Ayahnya.
Zoya sedikit gugup, ia menatap Dewa yang hanya memasang wajah seriusnya. Rasanya perut Zoya kini dihinggapi ribuan kupu-kupu karena rasa bahagia yang membuncah.
"Ayah" panggil Dewa ketika mereka sampai di ruang makan.
Zoya semakin gugup dan mengeratkan genggamannya pada Dewa saat melihat sosok Anderson yang sudah duduk tenang seraya membaca korannya.
"Ya, apa kau jadi pergi hari ini?" kata Anderson melipat korannya lalu menatap putranya dan sosok Zoya.
"Jadi Ayah, aku ingin secepatnya menemui Putraku" kata Dewa langsung.
"Baiklah, ajak sarapan dulu, siapa namanya?" kata Anderson lagi.
"Zoya Ayah, calon istriku"
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1