
"Kamu baik-baik aja kan? Masih ada yang sakit nggak? Kalau iya kamu nginep disini dulu aja" kata Zoya masih mengkhawatirkan kondisi Dewa yang penuh luka itu.
Dewa hanya menggelengkan kepalanya pertanda tak ingin menginap di rumah sakit. Badannya memang masih sakit semua, tapi ada hal lain yang lebih penting dari itu.
"Kamu yakin nggak mau nginep aja?" tanya Zoya sekali lagi.
"Ya" sahut Dewa singkat lalu turun dari ranjangnya tapi ia hampir saja kehilangan keseimbangan saat kepalanya mendadak pusing.
"Astaga Dewa, kau sepertinya masih lemah, Aku akan membantumu" kata Zoya memegang tangan Dewa bermaksud membantu pria itu tapi Dewa malah menepisnya dengan kasar.
"Aku bisa sendiri" kata Dewa sangat dingin.
Harga dirinya terusik saat Zoya menyebut dirinya lemah. Selain itu ada sesuatu yang sejak tadi menggangu pikirannya, dan Dewa merasa harus segera pulang untuk menanyakannya langsung pada Zoya.
Zoya sedikit kaget dengan sikap Dewa itu, ia menatap pria itu bingung karena perubahan sikap Dewa yang tak biasa ini. Bahkan selama perjalanan pulang ke kontrakan pun Dewa tak berbicara sama sekali. Wajah pria itu tampak sangat tak ramah.
Zoya mengigit bibir bawahnya, sepertinya setelah ini ia harus menghadapi kemarahan Dewa.
"Dewa, apa kau mau ganti baju dulu atau ma...."
"Apa kau tidak ingin menjelaskannya?" Dewa langsung menyela begitu saja sebelum Zoya selesai bicara. Ia kini menatap wanita itu sangat tajam.
"Maafkan aku" kata Zoya menundukkan kepalanya seraya menjalin jari jemarinya takut.
"Jadi benar apa yang di katakan pria tadi? Kau sudah mencuri uangnya?" suara Dewa langsung meninggi.
"Tidak, aku tidak pernah mencuri uangnya Dewa, kau pikir aku wanita apa" sergah Zoya tak terima dirinya di sebut pencuri.
__ADS_1
"Lalu apalagi? Kenapa pria tadi bisa mengatakan seperti itu, apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku? Oh, aku ingat, dia pria yang waktu itu kau hindari kan? Iya kan?" kata Dewa sudah begitu emosi sekali rasanya.
"Iya, tapi aku tidak mencuri uangnya, Aku hanya mengambil uangku sendiri. Dia saja yang masih tidak terima" kata Zoya.
"Uangmu? Darimana kau bisa mendapatkan uang?" kata Dewa semakin mendesak Zoya.
"Aku...." Zoya tak berani melanjutkan ucapannya karena Dewa pasti akan sangat marah jika tau darimana asal uang itu.
"Kau dapat darimana?" bentak Dewa lagi lebih keras dari sebelumnya.
"Tidak penting aku dapat uang itu darimana, tapi yang jelas itu uang murni punyaku sendiri, aku tidak mencuri dari Leon" kata Zoya justru memancing emosi Dewa yang sejak tadi coba di redam.
"Kau dapat uang itu darimana! Jawab" teriak Dewa begitu keras hingga membuat tubuh Zoya terjingkat kaget.
"Aku bermain kasino, tapi aku sudah menang jadi uang itu sudah menjadi milikku"
"Tapi itu hanya satu-satunya cara untuk kita bisa mendapatkan uang banyak tanpa harus bersusah payah bekerja"
"Astaga Zoya! Apa yang di pikiranmu itu hanya ada uang, apa semua yang aku berikan selama ini tidak cukup untukmu sampai kau harus melakukan hal ini semua?" kata Dewa sedikit menurunkan nada suaranya namun tersirat kekecewaan dalam suaranya itu.
Dewa kecewa karena kerja kerasnya selama ini tak pernah berarti apapun untuk Zoya sampai wanita itu masih ingin mencari uang lagi.
"Bukan seperti itu Dewa, justru aku ingin merubah kehidupan kita, apa kita akan selamanya akan hidup seperti ini? Selalu menjadi orang miskin dan di hina orang? Aku hanya ingin kita memiliki kehidupan yang baik nantinya" kata Zoya.
"Kita pasti bisa memiliknya tanpa harus kau itu Zoya. Semuanya butuh proses dan aku sudah berapa kali mengatakan padamu kalau aku yang akan bertanggung jawab untuk ini. Tak bisakah kau menghargai ku sedikit saja? apa di matamu aku hanya pria lemah yang tidak bisa memberikan kehidupan yang baik untukmu nantinya?" kata Dewa.
"Mau sampai kapan proses itu selesai Dewa, Hidup kita terus berjalan dan kita harus memikirkan masa depan. Bukan memikirkan ada uang untuk makan besok" kata Zoya masih kekeh dengan pendiriannya.
__ADS_1
"Tapi caramu itu juga salah, tidak seharusnya kau berjudi untuk mendapatkan uang. Sekarang berikan uang itu padaku, aku akan mengembalikannya"
Dewa rasanya sudah lelah jika harus berdebat kembali dengan Zoya. Padahal Dewa sudah merelakan semua waktu dan tenaganya untuk memberikan kehidupan yang lebih baik untuk Zoya, tapi nyatanya semua itu masih tidak cukup. Bagi Dewa tak masalah jika hidup dalam kesederhanaan tapi sepertinya hal itu tak cocok untuk Zoya.
"Tidak bisa, Aku akan menggunakan uang itu modal usaha agar kau tidak harus bersusah payah bekerja, kenapa kau tidak mengerti juga" kata Zoya.
"Usaha apa yang kau maksud? Dengan uang haram hasil perjudian mu itu?" kata Dewa melirik Zoya sinis.
"Apa bedanya? Itu juga uang? Harus banget ya pakai haram halal segala, intinya sama-sama uang kan?" kata Zoya sedikit berdecak kesal merasa Dewa terlalu kolot.
"Jelas berbeda Zoya. Uang itu kau dapatkan dengan cara tidak baik dan tidak seharusnya kau menggunakan uang itu sebagai modal usaha" kata Dewa masih mencoba bersabar.
"Lalu mau pakai uang apa? Kita tidak mungkin kan punya uang sebanyak itu...
"Cukup! Jangan memancing amarahku Zoya. Apa kau tidak bersabar sedikit saja, aku udah kerja keras buat kamu Zoya. Aku hanya menyuruh kamu diam di rumah dan aku yang bekerja, itu semua aku lakukan demi kamu Zoya. Tapi sepertinya itu semua belum cukup untukmu. Kau ingin uang banyak kan? Baiklah, mulai besok aku akan bekerja lebih keras lagi agar bisa mendapatkan uang yang lebih banyak" kata Dewa berlalu begitu saja setelah mengatakan hal itu.
"Dewa, bukan seperti itu ..." Zoya mencoba mencegah Dewa tapi pria itu sudah pergi keluar rumah. Ia langsung menjatuhkan dirinya di lantai dan menangis tersedu-sedu melihat Dewa yang pergi begitu saja.
Zoya khawatir jika Dewa semakin sakit jika keluar malam begini. Luka pria itu juga belum sembuh dan seharusnya Dewa itu beristirahat di rumah. Zoya merasa sangat bersalah karena sudah membuat Dewa seperti ini. Ia ingat bagaimana tatapan mata Dewa yang sangat kecewa padanya. Apakah ia salah jika ingin membantu suaminya sendiri?
Zoya mengambil ponselnya untuk menghubungi Dewa tapi pria itu tak mengangkatnya sama sekali. Zoya semakin cemas karena malam sudah sangat larut namun Dewa belum pulang sama sekali.
"Dewa, kamu dimana?" batin Zoya kalut.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1