I'M FINE

I'M FINE
Cara Lain.


__ADS_3

Zoya langsung mengangkat pandangannya saat mendengar suara orang lain. Ia sedikit kaget saat melihat sosok yang berdiri di depannya.


"Al.." ucap Zoya lirih, ia mengusap air matanya pelan lalu bangkit dari duduknya.


Aldin yang melihat keadaan Zoya yang cukup mengkhawatirkan itu hanya bisa berwajah miris. Mata lelah dan penuh kesedihan itu sangat jelas di mata Zoya. Hatinya ikut nyeri saat tau jika sosok wanita yang dicintainya ini sangat terpukul.


"Pulanglah, kau butuh istirahat. Tidak seharusnya kau membawa putrimu kesini," kata Aldin melirik bayi mungil dalam gendongan Zoya.


"Kapan kau datang?" tanya Zoya mengabaikan perkataan Aldin yang menyuruhnya pulang.


"Aku baru saja sampai" sahut Aldin seadanya.


Zoya mengangguk singkat, ia melihat anaknya yang mulai bergerak-gerak tak nyaman. Sepertinya anaknya itu mulai kehausan dan mengantuk. Dan benar saja, anaknya itu menangis sesaat kemudian.


"Sepertinya dia mengantuk Zoya, sebaiknya kau bawa saja dia pulang" kata Aldin.


Zoya menatap Aldin sekilas, dari tatapan matanya terlihat sangat tidak rela dan Aldin sangat tau apa yang membuat Zoya seperti itu.


"Pulanglah, aku yang akan menjaga Dewa disini" kata Aldin dengan sorot mata meyakinkannya.


"Terima kasih, maaf kalau aku merepotkan mu. Mungkin aku akan datang lagi nanti sore" kata Zoya sedikit memberikan senyumnya.


"Ya, hati-hati. Sampaikan salamku kepada Rayden," kata Aldin lagi.


"Apa kau tidak ingin menemuinya? Dia pasti senang bisa bertemu denganmu" kata Zoya.


"Ya, nanti aku pasti akan datang kesana" kata Aldin tak ingin berjanji apapun karena kedatangannya kesini hanya ingin menjenguk Dewa. Aldin juga tidak ingin di anggap sebagai pria yang mengambil keuntungan karena kondisi Dewa saat ini.

__ADS_1


Setelah Zoya pergi, Aldin masuk ke ruangan Dewa. Ia mematuhi semua prosedur yang ada untuk memakai baju khususnya. Saat semuanya sudah selesai, barulah Aldin mendekati Dewa yang tertidur damai. Benar-benar hanya seperti orang yang sedang tidur karena Dewa kini sudah tidak menggunakan alat bantu pernafasannya.


Awalnya Aldin hanya diam saja memperhatikan Dewa, namun dia ingat sesuatu.


"Dewa, apa kau bisa mendengar ku?" kata Aldin duduk tepat di samping Dewa.


"Aku tau kau pasti mendengarku. Itu bagus karena kedatanganku kesini ingin mengatakan satu hal padamu" ucapnya lagi dengan nada suara yang tegas.


"Hmm... Sepertinya aku tidak perlu mengatakannya padamu karena aku yakin kau sudah tau kalau sebenarnya kita ini seorang rival. Kita sama-sama orang yang ingin mendapatkan hatinya" kata Aldin menghentikan ucapannya sejenak.


"Ya benar, Aku memang masih sangat mencintai Zoya Meskipun dia sudah menjadi istrimu, rasa cintaku padanya tidak pernah hilang bahkan sampai detik ini. Kau tau Dewa? Aku dulu selalu berpikir kapan waktu yang tepat untuk aku bisa mendapatkannya kembali. Aku sangat berharap waktu itu akan segera datang, dan lucunya sekarang kesempatan itu sudah datang padaku..." kata Aldin dengan suaranya yang sangat sinis.


"Baiklah Dewa, kau masih ingin terus tidur bukan? Baik, tidurlah sepuasmu, bila perlu jangan pernah bangun! Biarkan aku menjaga istri dan anakmu, aku tidak keberatan untuk menjaga keduanya. Oh, bukan berdua, namun bertiga bersama putrimu. Bukankah itu menjadi keuntungan bagiku Dewa? Aku akan merebut semuanya! Kau dengar itu?!" kata Aldin mengepalkan tangannya erat saat Dewa sama sekali tidak merespon semua perkataannya.


Tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca, dia sengaja berbicara jahat untuk memancing kemarahan Dewa, namun hanya suara monitor yang menjawab semua perkataan Aldin.


"Bangun brengsek! Bangun sekarang juga! Apa kau tidak melihat istrimu? Lihatlah dia yang selalu menangisimu! Lihatlah dia?! Apa ini yang kau sebut sebuah kebahagiaan? Kau sama sekali tidak membuatnya bahagia! Bangun brengsek! Untuk apa kau dulu membuatnya jatuh cinta padamu jika kau seperti ini! Kau memang ba ji ngan!" Aldin berteriak dan mengguncang-guncang tubuh Dewa dengan kasar. Sangat berharap apa yang dilakukannya ini akan berhasil.


"AL! Apa yang kau lakukan!" Zoya berteriak kaget saat melihat apa yang dilakukan oleh Aldin kepada suaminya. Untung saja dia tadi berinisiatif untuk kembali kesini.


"Lepaskan suamiku Al! Kau tidak berhak melakukan ini pada suamiku" seru Zoya menarik tangan Aldin yang memegangi baju Dewa.


"Siapa yang kau sebut suami? Pria ini tidak pantas kau sebut suami! Dia hanya pria lemah dan tidak bertanggung jawab! Dia asyik dengan dunianya tanpa memikirkan anak dan istrinya yang sudah menunggunya!" kata Aldin masih dengan suaranya yang sangat keras, ia juga tak melepaskan tangannya dari baju Dewa.


"Aku tidak perduli kau menyebutnya seperti apa! Dia tetap suamiku apapun keadaanya! Dia....tetap suamiku...." ucap Zoya terisak-isak lalu mendorong Aldin dengan kasar dan ia memeluk Dewa erat.


"Dia tetap suamiku sampai kapanpun.." ucap Zoya sangat lirih dengan air mata yang terus mengalir membasahi dada Dewa.

__ADS_1


Aldin semakin teriris melihat Zoya seperti ini, tangannya mengepal erat karena tak berdaya saat melihat wanita yang dicintainya seperti ini. Aldin hanya bisa diam melihat Zoya yang menangis meraung di dada suaminya. Namun sesaat kemudian ia kaget mendengar suara monitor pemantau kehidupan Dewa bersuara sangat keras, disusul tubuh Dewa yang tiba-tiba kejang.


Zoya pun kaget saat melihat tubuh suaminya terhentak dan gemetaran.


"Dewa!" ucap Zoya tak bisa membendung air matanya.


Aldin bergerak cepat memanggil Dokter untuk mengecek kondisi Dewa. Sebisa mungkin menghalau rasa panik dan kekagetannya.


"Kenapa ini? Nyonya, mohon tunggu di luar dulu ya" ucap perawat langsung mengarahkan Zoya untuk pergi agar Dokter bisa segera mengecek kondisi Dewa.


Zoya masih tak rela dan tangisnya semakin menjadi-jadi, tapi ia juga ingin suaminya segera diselamatkan. Dengan berat hati Zoya menyeret langkahnya pergi meninggalkan Dewa.


Sesampainya di luar ruangan, Zoya langsung menampar Aldin dengan sangat keras. Wajahnya memerah penuh amarah.


"Puas kau sekarang? Puas kau melihat Dewa seperti ini? Ini semua gara-gara kau! Kau sangat jahat Aldin" teriak Zoya memukul-mukul dada Aldin untuk meluapkan semua emosi dan kesedihannya.


"Maafkan aku," ucap Aldin membiarkan saja Zoya memukuli dirinya.


"Aku tidak akan memaafkanmu! Kau jahat! Aku membencimu Al" Zoya masih berteriak dan terus memukuli Aldin, namun semakin lama pukulan itu melemah dan suaranya terdengar begitu lirih.


"Aku membencimu Al" ucap Zoya hampir saja ambruk kalau saja Aldin tidak memeluknya.


"Maafkan aku, Maafkan aku Zoya." kata Aldin memeluk Zoya erat, membiarkan wanita itu menumpahkan segala keluh dan kesahnya dengan sebuah tangisan.


Zoya yang memang sangat membutuhkan sebuah sandaran, tak lagi bisa menahan dirinya untuk tidak menangis di dalam pelukan Aldin. Ia tak sanggup lagi jika harus mendengar kabar buruk dari suaminya.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2