I'M FINE

I'M FINE
Membuat Kekacauan.


__ADS_3

Zoya kembali terbangun dari tidurnya, kepalanya masih begitu pusing dan matanya sembab karena menangis. Menyadari Zoya masih ditempat yang sama, membuat ia langsung lemas. Zoya harus memutar otaknya agar bisa keluar darisini.


Tapi sebelum itu, ia harus membersihkan dirinya yang terasa sangat lengket. Mungkin dengan mengguyur kepalanya dengan air dingin, Zoya bisa berpikir jernih.


Cukup lama Zoya berendam untuk membuat tubuhnya yang sakit semua lebih rileks. Setelah itu dia membilas tubuhnya dan keluar kamar mandi. Zoya membuka lemari untuk mencari baju ganti, tapi ia lupa kalau dia tak punya apapun disini.


"Dasar Dewa Sialan!" umpat Zoya kesal.


Zoya pun memutar otaknya agar Dewa mau datang kesini dan menemuinya. Sedetik kemudian matanya berbinar saat menemukan ide di kepalanya.


*****


Dewa baru saja keluar dari kantor, ia membuka ponselnya dan melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari Bayu. Pria itu juga mengirimkan pesan yang banyak, tapi tak sedikitpun Dewa membukanya. Ia memang memerintahkan Bayu untuk mengerjakan pekerjaan lain yang tidak sama dengannya karena ia masih marah pada pria itu yang mencoba menghalanginya.


Saat ia ingin mengembalikan ponselnya, terlihat panggilan masuk dari penjaga Zoya. Dewa langsung mengangkatnya.


"Ada apa?"


"Tuan, Nona mengamuk dan membuang seluruh barang yang ada dikamarnya. Kami tidak bisa membujuk Nona karena beliau melempari semua barang itu Tuan"


Mata Dewa membesar mendengar hal itu, Zoya! wanita itu kelakuannya sama sekali tidak berubah.


"Aku akan kesana sekarang!" kata Dewa memutus panggilan itu lalu menyuruh pengawal pribadinya untuk menyiapkan keberangkatannya.


Butuh waktu sekitar 1 jam lebih untuk Dewa sampai ditempat itu. Dewa menuju tempat dimana Zoya berada. Saat ia sampai disana, ia melihat semua pegawainya berkumpul di depan pintu kamar Zoya, dan Dewa bisa mendengar suara benda-benda yang berjatuhan dengan kerasa dari dalam kamar.


"Bubar kalian! Untuk apa kalian semua ada disini!" teriak Dewa membuat para anak buahnya perlahan meninggalkan tempat itu, tapi juga ada yang masih tinggal beberapa karena penasaran dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Ken, ada apa ini?" kata Dewa pada Ken, kepala pengawal yang bertugas disini.


"Nona sepertinya mengamuk Tuan karena kami tidak membukakan pintunya" kata Ken melirik Dewa yang berwajah kesal itu.


"Buka pintunya, aku akan masuk" kata Dewa.


"Tapi Tuan, Nona melempar barang-barang itu dengan membabi buta, saya takut beliau akan melukai anda" kata Ken lagi.


Dewa langsung melirik Ken tajam, ia kemudian menarik baju pria itu. "Buka pintunya! Atau kau akan tau akibatnya!" kata Dewa mengeluarkan auranya yang mengancam.


Ken mengangguk perlahan, kalau Dewa sudah berkata seperti itu tidak ada gunanya dia mencegah. Ia pun mengeluarkan kunci dalam saku celananya dan membuka pintu kamar itu. Saat pintu itu terbuka, sebuah pajangan langsung melayang dengan keras hingga hampir saja mengenai Dewa, tapi untungnya dia masih bisa mengelak.


Semua anak buah Dewa tampak kaget melihat hal itu, mereka berpikir darimana Tuannya mendapatkan wanita yang bar-bar itu.


Zoya langsung menatap Dewa tajam, ia tau jika tangisan dan permohonannya tak akan membuat Dewa luluh, maka jika dia membuat keributan Dewa pasti akan datang, karena dari dulu Dewa paling tidak suka jika dia bersikap seperti ini.


"Kenapa?! Akhirnya kau datang kan? Aku hanya ingin kau datang kesini" kata Zoya berteriak dan menantang. Masa bodoh apa yang akan dilakukan Dewa, jika pria itu macam-macam, dia akan memukulnya dengan barang-barang yang ada disini.


"Hentikan ini atau kau akan menyesal" kata Dewa mencoba menahan dirinya.


"Memangnya kau mau apa brengsek! Aku tidak takut padamu!" kata Zoya langsung mengambil pajangan yang tampak berukir kayu dan langsung melemparkannya pada Dewa.


Zoya pikir Dewa akan mengelak, tapi pria itu hanya diam hingga pajangan itu mengenai pipinya dan langsung tergores hingga mengeluarkan darah. Zoya menutup mulutnya tak percaya jika dia bisa membuat Dewa terluka.


Mata Dewa semakin merah karena amarahnya, ia mengusap pipinya yang berdarah. "Kau sama sekali tidak berubah" kata Dewa geram dan langsung mendekati Zoya.


"Jangan mendekat! Jangan mendekat! Kalau kau berani menyentuhku, aku akan memukulmu dengan ini!" kata Zoya melirik kesana kemari untuk mencari senjata. Ia bingung saat Dewa mendekatinya.

__ADS_1


"Oh sh it!" umpat Zoya lupa kalau tempatnya sangat sempit dan tidak bisa bergerak.


Zoya langsung berlari menjauh dari Dewa, tapi tentu saja hal itu percuma karena Dewa dengan mudah mendapatkannya. Dewa menahan tubuh Zoya dengan memeluknya dari belakang. Zoya berontak dengan memukul tangan kekar Dewa.


Tapi karena hal itu, jas mandi yang dikenakannya jadi tersingkap hingga Dewa bisa merasakan perut halus Zoya. Dewa masih menahan tubuh Zoya dan memutar tubuhnya. Zoya berganti memukuli tubuh Dewa yang mulai kewalahan menghadapi kelakuan bar-barnya.


Walaupun sempat kewalahan, Dewa berhasil menangkap tangan Zoya yang sebenarnya memiliki tubuh yang tidak terlalu kecil, tapi kekuatan Zoya tak sepadan dengannya. Dewa langsung melempar Zoya ke ranjang yang ada disampingnya dengan sangat keras.


Zoya langsung terhempas, meskipun kasur itu begitu empuk, tapi Dewa melemparkannya dengan sangat keras hingga ia cukup pusing. Jas mandi yang digunakannya pun terlepas ikatannya dan memperlihatkan bagian depan tubuhnya yang tidak tertutup apapun.


Zoya beralih menatap Dewa yang tampak sangat marah padanya itu, tapi juga ada hal lain di sorot mata itu. Zoya beringsut menjauh, ia salah karena sudah mematik emosi Dewa yang kini menatapnya lapar. Zoya merasa ketakutan, ia tidak pernah takut kepada siapapun, tapi bagaimana Dewa yang biasanya menatapnya teduh, kini berubah seperti iblis yang sangat mengerikan, apalagi dengan pipi yang berdarah, Dewa malah semakin menyeramkan.


"Pergi!" kata Zoya takut.


Dewa menyeringai, ia langsung menarik kaki Zoya sebelum wanita itu menjauh. Dengan gerakan cepat ia langsung menghimpit tubuh Zoya hingga kesusahan bergerak.


"Pergi! Jangan menyentuhku!" teriak Zoya segera melakukan perlawanannya.


Tapi tentu saja hal itu tidak terpengaruh pada Dewa. Semakin Zoya melawan, maka akan semakin semangat Dewa untuk menundukkan wanita itu.


"Diam! Bukannya kau sengaja mengundangku kesini? Bukannya kau yang menginginkanku datang malam ini? Sekarang! kau harus menyelesaikan ini semua!" kata Dewa kembali hilang akal sehatnya.


Kerinduan dan kehangatan yang sudah lama ia tahan begitu lama, akhirnya tidak bisa di bendung lagi. Wanita yang selama ini selalu mengganggu pikirannya, kini tergeletak tak berdaya dibawahnya.


"Aku tidak akan pernah melepaskan mu Zoya! Mengemislah, jika kau ingin lepas dariku"


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2