I'M FINE

I'M FINE
I Am Yours And You Are Mine.


__ADS_3

"Sudah, turunkan aku, kepalaku pusing" kata Zoya menepuk lengan Dewa agar menurunkannya.


Dewa menurut dan menurunkan Zoya namun tak melepaskan genggaman tangannya barang sedikitpun.


"Oh ya, aku ingat sesuatu" kata Dewa tiba-tiba.


"Ingat apa?" kata Zoya menekuk wajahnya.


"Sebentar" kata Dewa berjalan menjauh dan seperti mencari sesuatu, tak lama ia kembali lagi menghampiri Zoya.


"Sini" kata Dewa mengambil tangan kiri Zoya lalu memasangkan sebuah cincin dari rumput yang terlihat lucu sekali.


"Apa ini?" kata Zoya tersenyum melihatnya.


"Maafkan aku belum bisa membelikan mu cincin, sebagai gantinya aku memberikan ini dulu padamu tidak apa-apakan? Ini adalah simbol kalau kau sudah menerima lamaran dariku" kata Dewa mencium tangan Zoya lembut.


"Bisa aja" kata Zoya mencubit gemas lengan Dewa.


Dewa hanya tertawa lalu menarik Zoya kedalam pelukannya. Malam itu mereka berpelukan cukup lama seraya memandang bintang-bintang yang bertaburan di langit, hingga malam sudah cukup larut barulah Dewa mengajak Zoya masuk kedalam rumah dan ternyata Rayden sudah tertidur bersama kakeknya.


"Ehm...aku akan langsung ke kamar kalau begitu, masih kamar yang kemarin kan?" kata Zoya.


"Tidurlah bersamaku" kata Dewa.


"Apa? Enggak, ini di rumahmu, nanti bagaimana kalau Ayahmu melihat" kata Zoya masih punya sopan santun.


"Tidak akan ada yang melihat, ayo" kata Dewa sudah lebih dulu membawa Zoya masuk kedalam kamarnya sebelum wanita itu memprotes.


"Dewa, kau ini gimana sih? Kita itu belum menikah, jadi tidak boleh melakukan ini" kata Zoya gugup saat melihat Dewa mengunci pintu kamarnya.


"Melakukan apa? Aku hanya ingin mengajakmu tidur" kata Dewa santai saja, ia membuka kemejanya hingga bertelanjang dada.


"Tapi tetap salah ini tidak sopan, biarkan aku tidur di kamar tamu saja" kata Zoya risih, meskipun sudah sering melihat tubuh Dewa tapi tetap saja dia malu.


"Tidak, aku masih merindukanmu" kata Dewa manja.


"Kita kan besok sudah bisa ketemu" kata Zoya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Dewa.


"Kau pikir rindu yang aku tahan selama lima tahun bisa langsung hilang dalam waktu sebentar, ah yasudahlah kalau kau tidak mau tidur denganku" kata Dewa uring-uringan sendiri, ia duduk di ranjangnya membelakangi Zoya.


Zoya menahan senyumnya melihat tingkah Dewa yang seperti anak kecil, ia kemudian mendekati Dewa lalu memeluknya dari belakang.


"Sabarlah, kita akan segera menikah bukan? kita akan bersama-sama terus nantinya" kata Zoya lembut menenangkan Dewa yang sedang gusar itu.

__ADS_1


"Aku mengerti, tapi malam ini tidurlah disini ya" kata Dewa menoleh kebelakang hingga wajahnya berdekatan dengan Zoya.


Zoya tersenyum kecil, ia mengangguk sebagai jawaban. Dewa pun begitu senang, ia kembali memeluk Zoya dan mengajaknya tidur bersama.


*****


Dewa terbangun dari tidurnya, ia melihat ke sampingnya dan tidak menemukan Zoya disana membuat Dewa langsung panik. Ia segera membuang selimutnya lalu berjalan keluar kamarnya. Dia sangat takut jika Zoya akan meninggalkannya lagi.


"Zoya?" kata Dewa mencari Zoya ke kamar tamu namun tidak ada tanda-tanda wanita itu disana.


"Zoya?" Dewa kembali dilanda kepanikan dan ketakutan karena tak menemukan Zoya disegala penjuru rumah.


"Zoya! Kau dimana?" teriak Dewa hampir frustasi rasanya, apa Zoya sudah pergi lagi?


"Dewa! Ada apa?" Zoya muncul dari dapur dengan tampilan acak-acakaan, rambutnya yang panjang ia ikat asal-asalan.


"Zoya?" kata Dewa langsung memeluk Zoya erat begitu wanita itu ada didekatnya.


"Jangan tinggalkan aku lagi" kata Dewa tiba-tiba menangis seraya menenggelamkan wajahnya di perut Zoya


"Eh? Aku hanya ke dapur untuk membuat sarapan, kenapa kau menangis?" kata Zoya merasa Dewa ini lucu sekali, ia mengangkat wajah Dewa yang sudah basah karena air matanya.


"Saat aku bangun tidur kau tidak ada, aku takut kau akan pergi meniggalkan aku lagi" kata Dewa tak menghentikan tangisnya. Ia sepertinya baru saja mengalami mimpi buruk dan masih trauma jika Zoya akan pergi lagi.


"Aku benar-benar takut" kata Dewa lagi.


"Seorang Dewa takut? Apakah itu tidak lucu? Sudah, jangan menangis lagi, kayak anak kecil aja" kata Zoya mencubit pipi Dewa gemas.


"Ya, kau sedang apa di dapur?" kata Dewa malu sendiri jika mengingat tingkahnya tadi.


"Aku sedang membuat sarapan, kau mandilah dulu, aku akan menyiapkannya sebentar" kata Zoya melepaskan dirinya.


"Kenapa harus memasak? Sudah ada pelayan kan? Aku tidak suka kau terlalu sibuk" kata Dewa tak ingin melepaskan Zoya.


"Tidak apa, sudah hampir jadi kok" kata Zoya lagi.


Dewa mengerutkan dahinya, entah kenapa ia tak suka jika Zoya terlalu mandiri, ia lebih senang jika Zoya sangat manja padanya seperti dulu, Dewa tersenyum kecil jika mengingat bagaimana tingkah Zoya yang tidak bisa menyapu, tapi wanita manja itu kini sudah berbuah 180 derajat.


"Jangan mengacuhkan ku" kata Dewa ikut menyusul Zoya ke dapur, ia langsung memeluk tubuh Zoya dari belakang.


"Aku tidak mengacuhkanmu, aku hanya memasak" kata Zoya tertawa kecil melihat tingkah Dewa yang manja sekali ini.


"Mau masak apa?" kata Dewa masih memeluk Zoya.

__ADS_1


"Nasi goreng, kau tunggu saja di ruang makan, ini akan segera jadi" kata Zoya malah tidak konsen karena Dewa menempeli dirinya.


"Kenapa kau senang sekali mengusirku?" kata Dewa cemberut.


"Hahaha, bukan begitu, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat ya..." kata Zoya lagi.


"Ck,.baiklah aku akan mandi dulu kalau begitu" kata Dewa setengah menggerutu pergi dari sana, tapi ia ingat sesuatu.


"Zoya" kata Dewa.


"Ya?" Zoya langsung menoleh.


Cup


"Morning kiss" Dewa mencium bibir Zoya sekilas lalu ngeloyor pergi begitu saja.


Zoya mematung, wajahnya memerah dan mendadak memanas karena tingkah Dewa itu namun tak bisa di pungkiri kalau hatinya seperti dihinggapi ribuan kupu-kupu yang membuat perasaannya membuncah.


*****


Dewa berjalan menuju kamarnya, tapi saat melewati ruang tengah ia melihat Rayden dan ayahnya baru saja kembali dari halaman rumah samping.


"Ayah" kata Rayden berlarian menuju Ayahnya.


"Anak Ayah sudah bangun?" kata Dewa tersenyum.


"Udah dong Yah, aku habis di ajak lihat ikan di belakang sama Kakek" kata Rayden tampak begitu senang.


"Oh ya? Udah mandi belum?" kata Dewa ikut senang melihat Rayden.


"Belum, ibu mana Ayah?" kata Rayden lagi.


"Ibu sedang masak, Rayden nanti mandi sama Ayah aja" kata Dewa dibalas anggukan kecil oleh Rayden.


"Kenapa harus memasak?" tanya Anderson mengerutkan dahinya.


"Aku sudah melarangnya, tapi dia tetap mau memasak. Aku akan memandikan Rayden dulu" kata Dewa seadanya.


"Ya, nanti temui Ayah di ruang kerja, ada beberapa hal yang ingin Ayah katakan"


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2