
keesokan harinya, hari pertama liburan musim panas.
drtt! drtt! drtt!
Ponsel Taki bergetar, menandakan seseorang penelponya. Ia tersenyum dan bersemangat, ia yakin itu adalah Mei.
"Halo?" sapa Taki dengan berbaring di sofa.
"Bagaimana keadaanmu?"
Senyumya seketika layu, ia menegakkan tubuhnya. Berharap sang penelpon adalah Mei, namun itu tidak akan terjadi melihat sifat Mei yang begitu dingin.
"aku baik-baik saja, bagamana keadaan mama sama papa,"
"kami baik-baik saja, maaf kami harus menutup telponnya, kami merindukanmu sayang,"
tuut!
Pastinya setelah mendapat kabar dari Bulter , Nyonya Yoshida menelpon Taki. Taki berjalan menuju dapur dengan hati yang kecewa, ia mulai mengambil potongan buah dan memakannya.
drtt! drtt! drtt!
ponsel Taki bergetar tak lama setelah ia memakan buah, ia mengangkat telpon tersebut dengan kecewa, tanpa ia melihat sang penelpon dan menebak yang menelponnya adalah Nyonya Matsuda.
"apalagi?!" tanya Taki kesal.
Namun tidak ada suara dari sebrang sana, Taki bingung dan ia melihat kelayar ponselnya, nomor yang tidak ia simpan telah menelponnya.
"ini saya, Matsuda Mei"
Taki terkejut mendegar kalimat tersebut, senyumnya yang layu seketika bermekaran kembali.
"maaf, aku kira yang menelpon aku, orang tuaku," jujur Taki.
"kenapa anda ingin menolong saya?"
"karena sudah hal yang normal jika kita saling tolong-menolong, itu juga gunanya teman." ucapnya"apa kamu sudah memikirkannya?" tanya Taki.
Walaupun Mei agak takut jika ia menerimanya, namun ia tidak ingin bergutang budi pada Taki.
"sudah," jawab Mei.
"apa keputusanmu?"
"kita teman,"
"jika kita teman, mungkin lebih baik kamu tidak usah memakai bahasa yang formal,"
"ya,"
"kapan kamu ada waktu yang santai?"
"mungkin besok saya bisa,"
__ADS_1
"saya?"
Mei tidak terlalu nyaman jika ia menggunakan bahasa yang tidak formal selain kepada Makoto dan bulter Yang.
"mungkin besok aku bisa," ulangnya menggunakan kata 'aku'
"baiklah, aku akan pergi ke kediaman Matsuda,"
"hem."
pembicaraan tersebut dimatikan oleh Mei. Sedangkan Mei, ia duduk diruang tengah sembari memakan potongan buah apel. Ia segera menelpon Makoto,
"apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Makoto.
"aku ingin ke kediaman Matsuda sekarang,"
"apa kau sudah berubah pikiran?"
"ya,"
"baiklah, aku akan menjemputmu, dan kau segera mengemasik barangmu,"
"ya,"
setelah telpon tersebut di matikan oleh Mei, ia segera mengemaskan barang-barangnya, ia mengganti pakaiannya. Memakai kaos putih dan jaket jeans serta rok hitam yang ia kenakan, tak lupa dengan sepatu sport yang terlihat santai.
Ting! Tong!
"kenapa pikiranmu berubah?" tanyanya.
"ada teman yang akan datang besok," jawab Mei.
Apa?! teman, satu kata yang mengejutkan Makoto.
"siapa?"
"teman," jawab Mei.
"temanmu siapa?" tanya Makoto sedikit kesal jika harus mengulangi pertanyaannya.
"teman, kau akan tahu besok."
Mereka segera melaju. Di dalam mobil hanya ada musik orkestra yang berbunyi. mengingat Mei sangat menyukai orkestra.
"apa kau sudah makan?" tanya Makoto.
Mei menggelengkan kepalanya, ia terkejut Makoto membawanya di restoran daging terkenal di ibukota tersebut.
tring!!
Suara lonceng pintu berbunyi, membuat Makoto bersama Mei menjadi pusat perhatian mata, berbagai macam bisikan dan gosip yang dilontarkan para pelanggan lainnya,
"*wahhh, bukankah dia presir yang terkenal,"
__ADS_1
"kyaa, dia seperti dewa, bersinar didalam terang."
"bukankah dia adiknya, mereka sangat tampan dan cantik,"
"apa dia memiliki seorang adik, who aku baru tahu."
"mungkin bisa saja wanita itu pacarnya*,"
Mereka duduk disalah satu bilik pemanggangan daging. Makoto mulai memanggang daging.
"apa kau tidak takut jika mempunyai seorang teman lagi?"
"sedikit, aku tidak ingin berhutang budi padanya,"
"Taki? apa temanmu itu Taki?"
"hem,"
Makoto bersorak bahagia didalam dirinya, mungkin Taki bisa mengobati trauma Mei.
"makanlah," ucap Taki memberi sepotong daging panggang.
Ingin sekali Makoto membahas masa lalu Mei, tetapi niatnya ia urungkan demi kebaikan Mei. Namun anjukaran psikiater, lebih baik jika ingin membahas masa lalu Mei, lebih baik jika Mei yang memulai duluan.
****
Kediaman Matsuda,
Seorang pelayan segera mengambil alih koper milik Mei, dan meletakan di kamar Mei. Bulter Yang segera menyambut Mei dengan hangat.
"nona," sambutnya
Mei segera berjalan menuju lantai atas, tepatnya di ruang kamarnya. Bulter Yang juga mengikuti Mei.
"nona kenapa anda berubah pikiran?"
"ada teman,"
"apa teman anda ingin kesini?"
"besok,"
Mei duduk di salah satu sofa kamarnya, dan menyuruh Bulter Yang untuk pergi meninggalkannya sendirian. Ia menatap seorang pelayan yang sedang membereskan isi kopernya. Pelayan tersebut merasa canggung, walau ia sudah lama bekerja di kediaman Matsuda, menghadapi Mei seperti pergi ke kutub utara.
"nona ada yang bisa saya bantu?"
"tidak,"
Pelayan tersebut segera keluar sesudah menyelesaikan tugasnya. Mei memberi kesempatan pada dirinya, ia menerima Taki sebagai temannya. Jika Taki meninggalkannya, entah apa yang terjadi pada dirinya.
Bulter Yang datang dengan sepiring potongan buag apel untuk Mei,
"keputusan yang bagus jika anda menerima sebuah teman nona," ucap Bulter Yang,"aku dengar teman anda itu Taki, dia sudah menolong dan membantu anda bukan? yang pertama membantu anda menghadapi para repoter dan yang kedua, ia menyelamatkan nyawa anda," segera Bulter Yang berpamitan dan meninggalkan Mei.
__ADS_1