I'M FINE

I'M FINE
Dewangga Clark.


__ADS_3

Malam sudah sangat larut, hembusan angin tampak menerpa Dewa dari sisi jendela yang terbuka. Kantor sudah terlihat sangat sepi karena semua karyawan sudah pulang, tapi Dewa masih duduk dengan serius di meja kerjanya. Dewa memang sering lupa waktu jika sudah bekerja begini, jadi tak jarang kalau dirinya dijuluki work holic karena dirinya hampir tak pernah libur sama sekali.


"Bos, ini kopi pesanan anda" kata Bayu yang malam itu setia menemani Dewa.


"Taruh saja disitu" kata Dewa tanpa melirik Bayu sama sekali.


Bayu menurut dan meletakkan kopi itu di samping Dewa. Ia kemudian menatap Dewa yang sangat serius itu. Pemandangan seperti ini sudah ia lihat selama lima tahun membuat Bayu sedikit tak enak perasaanya karena ia tau alasan Dewa menjadi pria seperti ini. Bayu memang belum menceritakan alasan kenapa Zoya pergi karena ingat janjinya pada wanita itu. Tapi sepertinya ia juga tak tega melihat Dewa yang terus menyiksa dirinya seperti ini.


"Apa kau masih lama?" tanya Bayu.


"Lumayan, kalau kau ingin pulang, pulang saja. Nanti biar aku pulang bersama Aldin" kata Dewa dengan mata yang terus terpaku dilayar laptop.


"Tidak, aku ingin mengatakan hal penting padamu" kata Bayu merasa ingin segera mengakhiri kesalahpahaman antara Dewa dan juga Zoya.


"Hal penting apa?" tanya Dewa sedikit mengerutkan dahinya. Ia kemudian mengalihkan pandangannya sejenak dari laptop.


"Ini tentang Zo....."


"Dewa!" ucapan Bayu terpotong saat Aldin tiba-tiba datang. Bayu menghela nafas panjang karena gagal untuk mengatakan hal penting itu pada Dewa. Jika sudah ada Aldin, itu artinya Dewa akan membahas hal yang serius.


"Tentang apa?" kata Dewa melirik Aldin sekilas lalu kembali memandang Bayu.


"Lain kali saja, sepertinya ada yang lebih penting yang akan Aldin sampaikan" kata Bayu.


Dewa masih mengerutkan dahinya, tapi ia tak mengatakan apapun dan menatap Aldin yang baru saja datang.


"Ada apa Al?" tanya Dewa langsung.

__ADS_1


"Aku sudah menemukan siapa bedebah sialan yang sudah membocorkan rahasia perusahan kita" kata Aldin dengan wajah seriusnya.


"Bagus, sekarang dimana pengkhianat itu?" kata Dewa tampak emosi saat mengingat kalau ada orang yang mengkhianatinya.


"Tenang saja, dia tidak akan lolos. Anak buah kita sudah mengamankan lokasinya. Sekarang dia ada di StarLight club" kata Aldin lagi.


"Baiklah, aku akan menemuinya sendiri. Seperti aku sudah lama tidak memukul orang," kata Dewa segera menutup laptopnya dan memakai jasnya. Aura dingin dan mengancam tampak sangat terlihat di bola matanya.


Ia juga mengambil sesuatu di dalam laci kerjanya. Yaitu sebuah pistol yang kini selalu menemaninya kemana-mana. Bayu yang menyaksikan itu semakin tak enak perasaannya. Ternyata benar kata pepatah yang mengatakan kalau orang jahat tercipta dari orang baik yang tersakiti.


Sosok Dewa yang saat ini terbentuk karena masa lalunya yang selalu mendapatkan penghinaan, ketidakadilan dan juga pengkhianatan seseorang yang dia kira meninggalkannya saat dalam kondisi terburuknya.


Dewa berjalan memasuki sebuah club malam yang tampak semakin ramai jika malam semakin larut. Aldin dan Bayu setiap berjalan di belakangnya. Semua orang tampak memberi jalan padanya karena mereka tidak ingin berurusan dengan seorang Dewangga Clark. Pandangan Dewa menyapu keseluruhan ruangan untuk mencari orang yang dimaksud.


"Tuan Dewa maaf, orang itu berhasil lolos dan melarikan diri saat kita lengah" kata anak buah Dewa melapor, wajahnya tampak sangat ketakutan karena Dewa pasti akan marah mendengar kabar itu.


"Baik Tuan" kata anak buah Dewa bergerak cepat untuk mengajar pengkhianat itu.


Wajah Dewa tampak masih sangat kesal, ia kemudian pergi ke dalam ruangan VIP untuk menunggu anak buahnya mendapatkan orang itu. Saat Dewa datang, dirinya sudah disambut seorang wanita dengan baju yang sangat seksi. Wajahnya pun sangat cantik dan bodynya sangat aduhai memancing birahi.


"Selamat malam Tuan Dewa" kata wanita itu dengan suaranya yang mesra.


Dewa tak menggubrisnya, ia segera duduk disofa panjang dan menikmati sebuah wine yang sekarang menjadi minuman favoritnya itu. Jika sudah begini, dia akan melupakan segalanya.


"Lagi..." kata Dewa sudah menghabiskan dua botol wine tapi dia masih cukup sadar.


"Anda sudah cukup mabuk Tuan"

__ADS_1


"Kau berani menantang ku? cepat lakukan saja tugasmu" kata Dewa membentak kesal.


Wanita itu menurut, ia menuangkan kembali wine itu ke gelas Dewa yang segera ditegak habis. Dewa terus melakukannya sampai berulang-ulang hingga kesadarannya hampir hilang. Dewa kemudian menarik wanita itu untuk menyentuh dirinya.


Wanita itu juga langsung tau tugasnya, ia membuka satu-persatu baju miliknya dan juga Dewa. Ia tampak begitu terpana saat melihat tubuh Dewa yang sangat berotot dan juga sangat indah. Ia kemudian menatap wajah Dewa yang semakin tampan diremangnya cahaya ruangan itu.


"Argh.....stttt......" Dewa mengerang saat wanita itu menciumi lehernya membuat ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh benda kenyal yang sejak tadi menggodanya.


"Ah.... Tuan...." wanita itu ikut men de sah saat Dewa menyentuh daerah sensitifnya. Ia ingin menci um bibir Dewa yang terlihat sangat indah tapi ia kaget saat tiba-tiba tubuhnya di dorong oleh Dewa.


"Brengsek! aku sudah mengatakan padamu jangan berani menyentuhnya!" teriak Dewa memang sangat tak suka jika ada wanita yang ingin mencium bibirnya. Dia sendiri tak tau apa alasannya, tapi Dewa tak pernah berciuman bibir bersama wanita yang melepas andrenalin dengannya.


"Maafkan saya Tuan" wanita itu ketakutan saat Dewa membentak dirinya sangat keras. Padahal sebelumnya ia sudah diberitahu kalau Dewa sangat anti jika berciuman bibir. Tapi ia yang sudah begitu terpesona dengan pria itu membuat ia melupakannya.


Dewa tak menggubrisnya, ia segera mengambil bajunya karena wanita itu sudah merusak suasana hatinya.


"Tuan, anda akan kemana? Kita belum selesai" kata wanita itu kaget melihat Dewa yang memakai bajunya.


"Bukan urusanmu!" kata Dewa ketus.


"Tapi kita belum menyelesaikan ini Tuan. Ayolah, saya pasti akan memuaskan anda" kata wanita itu tak rela jika harus kehilangan pelanggan seperti Dewa. Meskipun tak melakukannya, ia sudah cukup senang jika hanya menyentuhnya.


"Jangan berani menantang ku kalau kau masih ingin hidup tenang" kata Dewa memandang wanita itu dengan sangat tajam membuat wanita itu takut.


Dewa segera pergi dari tempat itu setelah ia memakai semua bajunya. Tubuhnya terasa sangat lelah dan harus beristirahat untuk persiapannya besok ke Jakarta. Untuk masalah pengkhianat yang melarikan diri itu, Dewa pasti akan mengejarnya sampai ke ujung dunia sekalipun.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2