
"Intinya sama-sama mendorong mu kan?" kata Dewa tak mengubah ekspresi wajahnya.
"Tapi kau tidak perlu memecatnya seperti itu, kasihan tau" kata Zoya meski masih kesal dengan sikap Vania, tapi ia juga tidak se tega itu membuatnya sampai kehilangan pekerjannya.
"Sudah jangan membahasnya, kau kenapa datang kesini? Kangen?" kata Dewa tak ingin memikirkan Vania, ia malah sengaja menguyel-uyel istrinya yang ia rasa sangat wangi.
"Enggak kangen sih, cuma pengen ketemu aja, sekalian ngirim makan siang" kata Zoya kegelian karena ulah Dewa.
"Bilang aja kamu kangen, hari ini ke salon lagi?" kata Dewa.
"Iya, aku habis cat kuku, coba kamu lihat, bagus nggak?" kata Zoya menunjukkan kukunya yang sangat cantik.
"Bagus, tapi sepertinya kau harus memotongnya, punggungku sakit kalau kau mencakar ku" kata Dewa terkekeh kecil.
"Apaan sih" kata Zoya mencubit pelan tangan Dewa.
"Hahaha...Apa kau tidak percaya? Lihat saja hasil karya mu di punggungku" kata Dewa semakin senang menggoda istrinya.
Wajah Zoya semakin memerah, apakah ia memang se liar itu kalau bercinta dengan Dewa sampai sering mencakar punggungnya.
"Enggak, kamu makan dulu deh, aku tadi bawain makanan kesukaan kamu. Pasti belum makan kan tadi?" kata Zoya tak ingin meladeni hal mesum suaminya.
"Tau aja" kata Dewa.
"Kebiasaan, kalau kerja itu harus ingat makan, kalau telat makan, ntar kamu sakit lagi" kata Zoya menggelengkan kepalanya, tak setuju dengan tingkah Dewa yang selalu lupa makan.
"Biar aja sakit, aku pengen di manja sama kamu" kata Dewa mengerlingkan matanya.
"Jangan ngomong gitu, kalau kamu sakit siapa yang bakalan jagain aku dan anak-anak kita. Sehat-sehat terus ya Ayah" kata Zoya tersenyum lembut kepada Dewa.
Dewa ikut tersenyum, lalu mengambil tangan Zoya dan menciumnya. "Kamu juga harus sehat-sehat, biar baby girl ini ikut sehat" kata Dewa mengelus perut Zoya penuh kasih.
"Baby girl? Emang kamu tau kalau dia perempuan?" kata Zoya.
"Instingku tidak pernah meleset Nyonya" kata Dewa tersenyum lebar, ia memang sangat yakin kalau anak keduanya ini pasti perempuan.
"Kenapa kamu yakin banget?" kata Zoya tak mengerti kenapa Dewa selalu menyebut anak keduanya ini perempuan.
"Alasannya yang pertama karena kamu makin cinta sama aku, makanya aku yakin kalau anak kita perempuan" kata Dewa membuka mulutnya agar Zoya menyuapinya makan.
__ADS_1
"Siapa bilang aku makin cinta sama kamu, biasa aja" kata Zoya menurut dan menyuapi Dewa.
"Nggak cinta nggak apa-apa, yang penting aku cinta sama kamu" kata Dewa santai saja.
"Bisa aja" kata Zoya mencibir pelan.
"Bagaimana kabarnya hari ini? Apa dia merindukan Ayahnya?" kata Dewa tiba-tiba saja berpindah duduk di depan Zoya lalu mendekatkan wajahnya ke perut Zoya, sebuah kegiatan yang sangat Dewa sukai.
"Eh? Aku baik-baik saja Ayah" kata Zoya menirukan suara anak kecil lalu mengelus lembut kepala Dewa.
"Kenapa dia belum bergerak?" tanya Dewa sudah tak sabar untuk merasakan tendangan ajaib dari anaknya.
"Bayi menendang itu kalau kehamilan berumur 7 bulan Dewa, sedangkan usia kehamilanku baru lima bulan" kata Zoya menjelaskan.
"Aku sudah tidak sabar menunggu dia lahir, kira-kira mirip siapa ya?" kata Dewa semakin menempelkan pipinya ke perut Zoya.
"Pastinya mirip kita berdua, nggak mungkin mirip Bayu" kata Zoya tertawa kecil, merasa tingkah Dewa ini lucu sekali.
"Kenapa harus mirip Bayu?" kata Dewa mendadak mengerutkan dahinya.
"Ya enggak, kan kamu nanya anak kita akan mirip siapa? Yang pasti mirip kita berdua" kata Zoya.
"Enggak, harus mirip aku, Rayden itu udah duplikat kamu, jadi yang kedua harus mirip aku" kata Zoya sedikit kesal karena Rayden memang plek ketiplek Ayahnya, sedangkan hanya bibirnya saja yang mirip dengannya.
"Itu artinya genku lebih kuat Nyonya" kata Dewa tersenyum bangga hasil karyanya memang sangat mirip sekali dengannya.
"Ini nggak adil, aku yang mengandungnya, jadi dia harus mirip sama aku lah" kata Zoya mengerucutkan bibirnya.
"Tau nggak itu artinya apa?" kata Dewa tersenyum jahil.
"Apa artinya?" kata Zoya tak mengerti.
"Kamu juga harus ikut andil dalam pembuatannya" bisik Dewa dengan seringai mesumnya.
"Apa? Nggak, Nggak, aneh-aneh aja" kata Zoya mencubit lagi lengan Dewa dengan gemas.
"Serius tau, selama ini aku kan yang bekerja keras, sekarang giliran kamu" kata Dewa semakin senang menggoda istrinya.
"Aku tidak mau" kata Zoya pura-pura ketus.
__ADS_1
"Serius nggak mau, padahal aku mau sekalian nengok baby girl" kata Dewa mulai nakal menyergap istrinya di sofa itu.
"Dewa! Jangan gila ya, ini di kantor" kata Zoya panik.
"Biarkan saja, aku bosnya, siapa yang akan melarang" kata Dewa semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Zoya.
"Aku yang melarangnya!" kata Zoya mendorong kepala Dewa menjauh.
"Kenapa? sebentar aja" kata Dewa ingin kembali menenggelamkan wajahnya tapi Zoya mendorongnya menjauh.
"Aku nggak percaya! Udah deh, aku pulang aja" kata Zoya benar-benar takut jika Dewa akan meminta hal itu disini.
"Nanti aja, aku beneran mau itu, kamu nggak kasihan lihat aku" kata Dewa menunjuk bagian dirinya yang sudah mode On.
Mata Zoya membesar melihat hal itu, dasar Dewa! Bisa-bisanya mau mesum di kantor. Ia baru saja ingin menolak, tapi Dewa sudah lebih dulu mencium bibirnya dengan tergesa. Otak Zoya langsung blank, antara menolak dan juga menikmati.
Tapi tubuhnya jelas selalu lemah jika sudah mendapatkan sentuhan dari tangan ajaib Dewa, ia hampir saja terlena sebelum....
Tok Tok Tok Tok.
"Ada orang!" kata Zoya panik hingga tanpa sadar mendorong Dewa dengan keras hingga pria itu jatuh dari sofa.
"Aduh...." pekik Dewa meringis kesakitan.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja" kata Zoya langsung membantu suaminya untuk bangkit.
Tok Tok Tok Tok.
Ketukan pintu kembali terdengar membuat Dewa begitu kesal, ia ingin sekali mengumpati siapa orang yang sangat kurang ajar menganggu dirinya, pinggangnya kini bahkan sakit karena posisi jatuhnya yang tak baik tadi.
"Dewa, cepat buka pintunya" kata Zoya membenarkan bajunya yang sempat di acak-acak oleh Dewa, untung saja mereka belum melakukannya.
"Biarkan saja, palingan juga Bayu" kata Dewa melepaskan dasinya untuk mengurai rasa panas dalam tubuhnya. Benar-benar sial! Ia pasti akan alamat sakit kepala karena gagal menuntaskan hasratnya.
"Cepat buka, mereka akan semakin curiga kalau kau tidak membuka pintunya" kata Zoya lagi.
Dengan menahan kesal yang luar biasa, akhirnya Dewa membuka pintu ruangannya yang sempat ia kunci. Ia langsung memberikan tatapan membunuhnya kepada Bayu dan juga Vania.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.