I'M FINE

I'M FINE
Ke Makam Ibu.


__ADS_3

Terkadang hidup memang tak memberikan apa yang kita mau, tapi jika kita berusaha dan tak pantang menyerah, kita pasti bisa mendapatkan apa yang kita mau. Segala sesuatu di dunia ini pasti memiliki sebuah makna, begitu pula kehidupan. Hidup itu seperti kita mengendarai sepeda, jika ingin menjaga keseimbangan kita harus terus berjalan, begitu pun hidup yang harus terus berjalan meskipun seberat apapun masalah yang kita hadapi.


Zoya sudah tak pernah memikirkan apa yang terjadi dengan kehidupannya sebelumnya, ia kini sudah menjalani kehidupan bahagia bersama Dewa. Meskipun tidak bisa dikatakan dengan kata cukup tapi Zoya senang karena bersama Dewa ia bisa mengerti arti hidup yang sesungguhnya.


Tak pernah ada ungkapan rasa cinta antara keduanya, Zoya juga tak pernah mempertanyakan atau membahasnya, ia sudah merasa nyaman dan senang dengan sikap manis Dewa yang selalu di tunjukkan padanya. Zoya merasa, Dewa mencintai dirinya dengan caranya sendiri.


"Kamu kenapa sih nggak pernah bangunin aku? Kenapa suka banget nungguin aja?" Kata Zoya memprotes tingkah Dewa yang tidak pernah mau membangunkannya tidur.


Hampir setiap hari Dewa selalu bangun lebih awal dari Zoya, tapi anehnya pria itu tak pernah membangunkannya. Dewa hanya akan diam menunggu dirinya sampai bangun tidur.


"Aku seneng aja, Orang bilang jika kita ingin tau wajah asli seseorang, kita harus melihatnya saat bangun tidur" kata Dewa memandang tak jemu pada Zoya.


"Kata siapa? Wajah bangun tidur semua orang pasti jelek, jadi wajah asli kita ya jelek gitu" kata Zoya merenggut. Tak mengerti kenapa orang bisa berpikiran seperti itu, dia pasti sangat jelek sekali sekarang karena belum mencuci muka.


"Kamu cantik" kata Dewa terus menerus menatap wajah Zoya yang semakin cantik saat bangun tidur.


Rambut wanita itu tampak acak-acakan, lehernya dan bahunya juga penuh bekas kemerahan karena ulahnya semalam, tapi meskipun dalam kondisi berantakan pun Zoya masih sangat cantik.


"Bullshit, Pasti ada maunya makanya menggombal" kata Zoya mencibir.


"Hahaha, enggak aku serius, kamu beneran cantik" kata Dewa tertawa kecil.


"Percaya deh" kata Zoya malas.


"Tapi kalau kamu kasih ya aku nggak akan nolak" kata Dewa melirik Zoya yang masih tertidur seraya memeluk selimutnya.


"Apa? enggak ada, Kamu ngapain masih disini aja? nggak kerja apa?" kata Zoya langsung menolak saat tau akal licik suaminya.


"Enggak, Aku udah ambil cuti, Sekarang tanggal dua kan, kamu bilang mau ngajak aku nemuin ibu kamu" kata Dewa membuat mata Zoya membesar.

__ADS_1


"Sekarang tanggal dua?" seru Zoya kaget hingga terduduk, ia mencari-cari ponselnya untuk melihat tanggal. Kenapa ia bisa lupa hari terpentingnya.


Karena gerakannya itu selimut yang dipakai Zoya melorot sampai ke perut hingga asetnya terpampang di depan Dewa. Ia tak menyadarinya karena sibuk membuka ponselnya.


"Astaga! Sekarang beneran tanggal dua" seru Zoya.


"Bagaimana kau bisa melupakannya, Kau harus memberiku hadiah karena sudah mengingatkanmu" kata Dewa perlahan mendekatkan dirinya dan menenggelamkan wajahnya di perut Zoya hingga membuat wanita itu kaget.


"Hadiah apa?" kata Zoya terkaku saat merasakan bibir basah Dewa menciumi perutnya.


"Apa saja" kata Dewa menyusuri perut halus istrinya.


"Apa?" Zoya mulai tak bisa berpikir jika Dewa sudah memberikan sentuhan yang membuat ia hilang akal rasanya.


"Berikan aku apa yang tak bisa kau berikan kepada orang lain" kata Dewa mengangkat wajahnya sebentar.


"Apa itu?" kata Zoya tak paham.


******


Dewa dan Zoya sudah berada di pemakaman ibu Zoya, mereka memang kesana terlebih dulu baru ke makam ibu Dewa. Kini pria itu sedang berjongkok di samping Zoya yang baru saja menaburkan bunga mawar merah hingga memenuhi pusara Ibunya.


"Hai Bu, Ibu apa kabar?" kata Zoya mengelus lembut nisan Ibunya, Dewa hanya diam saja, ia memberi waktu untuk Zoya melepas rindunya kepada ibunya.


"Sekarang aku sudah bahagia Bu, Aku sudah memiliki seseorang yang bisa membuatku bahagia. Namanya Dewa, Maaf aku baru sempat mengenalkannya kepada ibu. Dia suamiku sekarang, kalau ibu ada disini, ibu pasti akan menyukainya. Dia pria yang sangat baik. Aku ingin berterima kasih kepada ibu karena sudah memberiku kesempatan untuk menikmati hidup dan berkat ibu aku bisa mengenal Dewa, Terimakasih Bu, Aku sayang ibu"


Zoya meneruskan ucapannya di dalam hati, ia benar-benar sangat berterimakasih kepada ibunya yang sudah berjuang melahirkannya dan menukar nyawanya untuk dirinya. Dewa benar, di tidak seharusnya membenci kehidupan yang diberikan pada dirinya, itu sama saja dia tidak menghargai apa yang di lakukan oleh Ibunya.


Semilir angin lembut kembali menerpa Zoya membuat wanita itu tersenyum, ia yakin kalau itu ibunya yang menyapa dirinya. Dewa yang berada di sampingnya ikut tersenyum, ia ikut menyentuh nisan ibu Zoya.

__ADS_1


"Istirahatlah dengan tenang bu, Sudah ada aku yang akan menjaganya" bisik hati Dewa menyapa ibu mertuanya.


"Sudah?" tanya Dewa.


"Iya sudah, Kau bilang ingin ke makam ibumu juga, Ayo" kata Zoya membersihkan sedikit celananya yang kotor.


"Iya, Ayo" kata Dewa menggenggam tangan Zoya.


Zoya menatap genggaman itu, lalu menatap Dewa yang juga menatapnya, ia mengulas senyumnya dan mengeratkan genggaman tangan itu. Zoya sempat menoleh ke pusara ibunya sesaat sebelum meninggalkan pemakaman itu. Ia hanya ingin ibunya melihat kebahagiannya sekarang.


Setelah dari makam Ibu Zoya, mereka langsung me makam ibu Dewa, letaknya tak terlalu jauh membuat mereka tak banyak memakan waktu. Dewa membawa sebuah bunga kesukaan ibunya untuk di letakkan di makam ibunya, tapi sesampainya di sana Dewa mengerutkan dahinya saat melihat sosok pria baya yang sedang menunduk di makam ibunya.


"Dia siapa?" tanya Zoya ikut menatap pria itu.


"Aku tidak tau" kata Dewa mengangkat bahunya.


Ia mempercepat langkahnya untuk segera sampai di makam ibunya, ia sedikit cemas dan juga penasaran dengan orang itu karena mereka tak punya sanak saudara jadi mustahil jika ada orang yang menyekar ke makam ibunya.


"Maaf Tuan permisi" kata Dewa berdiri tepat di depan pria itu.


Pria paruh baya itu tampak kaget saat melihat Dewa, ia mengusap pipinya untuk menyembunyikan air matanya tapi ia terlambat karena Dewa sudah melihatnya. Dewa semakin penasaran, kenapa orang ini menangis, pikirnya. Zoya pun ikut memandang orang itu bingung.


"Anda siapa? Apakah anda mengenal ibu saya?" kata Dewa langsung.


Pria paruh baya tak menjawab, ia bangkit dari duduknya dan kembali menatap Dewa dan Zoya bergantian. Ia kemudian berjalan mendekati Dewa yang hanya bingung menatapnya.


"Sampaikan salam ku kepada ibumu" ucapnya menepuk pelan pundak Dewa sebelum pergi dari sana.


Dewa malah semakin tak mengerti, tapi berbeda dengan Zoya yang membesarkan matanya, benarkah dugaannya?

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2