
Keesokan harinya, wanita yang bersama Aldin semalam tampak terbangun dari tidurnya. Matanya terasa sangat lengket dan badannya remuk redam. Ia membuka matanya lebar-lebar demi melihat sebuah tangan besar yang melingkar di perutnya.
Wanita itu pun hampir saja menjerit namun dia hanya menutup mulutnya, ia segera menyingkirkan tangan besar pria itu lalu menggeser tubuhnya dan mengingat apa yang sudah terjadi.
"Astaga Rere! Apa yang sudah lu lakuin," gumam Rere mengingat apa yang sudah terjadi semalam.
Ia mengingat semuanya, mengingat bagaimana Aldin menyentuhnya dan membuatnya terbang ke cakrawala berkali-kali. Sekarang saat dia sadar, ia menyesal telah menyerahkan kesuciannya kepada pria tak dikenal ini.
"Gue harus pergi, jangan sampai pria ini ngelihat gue," batin Rere langsung turun dari ranjang dengan buru-buru.
"Oh shittt!! Sakit.... what the fu ckk?" umpat Rere hampir saja menangis saat merasakan miliknya yang begitu perih luar biasa.
Pria itu benar-benar sudah merobeknya semalam. Sialan! Ia sekarang harus bejalan pelan-pelan untuk mengurangi rasa sakit itu. Rere segera memunguti baju-bajunya yang berceceran, ia harus secepatnya pergi sebelum pria itu bangun. Sudah itu saja yang ada dalam otaknya.
Aldin terbangun saat mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras, ia mengerjapkan matanya berkali-kali untuk mengurangi rasa lengket karena bangun tidur. Aldin sempat mengernyit saat mendapati dirinya tak menggunakan apapun.
Namun sedetik kemudian ia ingat apa yang baru saja terjadi. Aldin mengusap wajahnya dengan kasar, apa yang sudah dilakukannya? Ia sudah merusak masa depan seorang wanita. Tapi ia tak sepenuhnya salah kan? Wanita itu yang mendatanginya lebih dulu.
"Tapi kenapa wanita itu pergi?" batin Aldin sedikit heran karena wanita yang semalam bersamanya pergi begitu saja. Bukankah wanita itu seharusnya menangis atau paling tidak meminta pertanggungjawaban darinya?
Aldin lalu menyikap selimutnya dan melihat bercak merah yang tertinggal. Bukti nyata kalau memang dialah pria yang pertama kali menyentuh wanita itu. Tapi kenapa harus pergi begitu saja?
"Aku harus menemukannya"
*****
Hari ini adalah hari terakhir Dewa bersama keluarga kecilnya liburan di Pulau Bintan. Pagi itu langit sangat cerah sekali, semilir angin pun tampak menghiasi suasana pagi itu.
Dewa terlihat sudah rapi dengan pakaian santainya, sedangkan Zoya seperti biasa, menggunakan dress bunga yang panjang sampai ke mata kaki. Hari ini jadwalnya mereka akan pergi berenang bersama di Treasure Bay. Rayden yang sangat antusias itu terlihat begitu heboh sekali.
"Anak Ayah sudah siap?" tanya Dewa melihat Rayden yang sudah memakai baju renangnya. Padahal Zoya mengatakan untuk memakainya nanti saja, tapi anaknya itu tidak mau.
"Siap! Ayo Ayah, aku mau main seluncur, mau naik bebek" kata Rayden dengan tak sabar menarik Ayahnya agar segera masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
Zoya hanya tertawa kecil melihatnya, ia pun segera mengikuti mereka lalu berangkat ke tempat renang. Karena jarak Resort dan kolam itu cukup dekat, jadi tak membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai.
Disana ternyata sangat ramai sekali pengunjung, bahkan bukan hanya anak kecil saja yang berenang, tapi juga para anak muda lainnya juga ada.
Sama seperti di pantai kemarin, Zoya hanya duduk menunggu di bawah payung besar yang menutupi panas matahari. Disampingnya sudah ada berbagai macam makanan yang sudah Dewa siapkan. Padahal Zoya belum ingin makan, tapi Dewa selalu siaga sewaktu-waktu jika ia butuh.
"Yah! Ayo kesana Yah, aku mau kayak anak itu" ucap Rayden menunjuk sebuah bebek besar yang di gunakan anak-anak beserta orang tuanya.
"Oke, tapi kita bilang ke Ibu dulu ya, ayo sini" kata Dewa menuntun anaknya untuk berenang ke pinggiran.
"Dewa!"
Sayup-sayup ia mendengar seseorang memanggil namanya, namun Dewa tak menghiraukannya, tapi suara itu kembali terdengar membuat ia mengalihkan pandangannya.
"Dewa! Ya ampun, ternyata benar kau! Aku pikir salah orang" kata Tara dengan wajah berbinarnya melihat Dewa ada disana. Ia datang dengan menggunakan bikini one piece yang membalut tubuh seksinya.
Dewa mendengus kecil, kenapa harus bertemu dengan orang tidak penting ini, pikirnya.
"Siapa, Yah?" tanya Rayden menatap Tara dengan pandangan bingung.
"Rayden, ayo kita ke Ibu. Jadi minta naik itu kan?" Dewa memilih berbicara kepada anaknya daripada melanggati Tara.
"Dewa! Aku kok di cuekin sih, aku kaget banget loh waktu ketemu kamu di nikahan aku," kata Tara masih mencoba akrab dengan Dewa.
"Jangan menggangguku," kata Dewa melirik Tara dengan kesal.
Tara terlihat masih ingin berbicara, tapi urung tatkala melihat suaminya yang datang ke arahnya. Tara langsung merubah ekspresi wajahnya.
"Wah, ada Tuan Dewangga? Kebetulan sekali kita bertemu disini," kata Frans langsung merangkul mesra pinggang Tara.
"Ya, sangat kebetulan. Saya permisi dulu," ucap Dewa tak ingin berlama-lama ada disana, ia kini bahkan khawatir karena Zoya pasti melihat apa yang terjadi.
"Oh iya, Have Fun ya.." kata Frans melambaikan tangannya kepada Rayden.
__ADS_1
Tara pun hanya bisa menatap kepergian mantan kekasihnya dengan perasaan tak menentu.
"Dewa sangat beruntung," ucap Frans secara tiba-tiba.
"Apa maksudmu berbicara seperti itu?" kata Tara mengerutkan wajahnya.
"Aku ingin memiliki anak," kata Frans kini menatap istrinya.
"Ck, masalah itu lagi. Aku kan sudah bilang kalau kau harus sabar, bukankah Dokter mengatakan kalau semuanya baik-baik saja," cetus Tara sedikit kesal karena suaminya ini hanya berpikiran anak-anak dan anak terus.
Pernikahan mereka juga baru beberapa bulan, tapi entah kenapa ia belum hamil juga. Padahal ia sudah tak menggunakan kontrasepsi apapun. Tapi apa mau dikata, mereka juga belum dikaruniai anak sampai sekarang.
*****
"Siapa wanita tadi?"
Begitu Dewa sampai di tempat Zoya, pertanyaan itu langsung muncul begitu saja. Wajah Zoya sudah ditekuk karena melihat suaminya didatangi oleh wanita seksi.
"Bukan orang penting" kata Dewa cuek seperti biasa.
"Kalian terlihat akrab" kata Zoya menyindir.
"Dia Tara, aku tidak tau kenapa dia ada disini, tadi juga ada suaminya," kata Dewa jujur saja.
"Tara? Mantan kekasihmu,?" kata Zoya sedikit kaget.
"Entahlah, aku lupa. Aku kesini ingin mengatakan kalau Rayden ingin menaiki bebek itu, nanti kalau kau mencariku," kata Dewa benar-benar tak ingin ada masalah di dalam rumah tangganya yang aman tenteram.
"Baiklah, hati-hati" kata Zoya mengangguk saja.
"Jangan berpikiran apapun, aku sudah menjadi milikmu. Aku hanya mencintaimu sampai kapanpun. Hanya kau!" kata Dewa memandang Zoya sangat serius, ia ingin membuat wanita ini tak terpengaruh dengan kehadiran Tara.
"Iya aku tau, serius banget sih," kata Zoya tersenyum manis melihat wajah serius Dewa. Ia bukan meragukan cinta Dewa, tapi Zoya ragu kalau Tara itu sudah tidak lagi mencintai suaminya.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.