I'M FINE

I'M FINE
Aku Juga Berhak Bahagia.


__ADS_3

Zoya masih meringkuk di dalam lemarinya, jantungnya berdetak kencang karena takut sewaktu-waktu ada yang datang. Apalagi Zoya sempat mendengar suara tembakan yang membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat.


Setelah tembakan itu terjadi, Zoya mendengar kalau ada orang yang masuk ke dalam kamar dan memanggil namanya, ia sangat mengenali suara itu yaitu suara Bryan.


"Sial! Dimana Zoya" umpat Bryan mengacak rambutnya frustasi, semua rencananya kacau balau, jika begini dia pasti akan habis ditangan Dewa pikirnya.


"Bryan!" Davies terlihat menghampiri Bryan, ia terbangun karena merasa ada yang tidak beres.


"Om, kapal kita diserang, Dewa juga sudah berhasil membawa Zoya pergi" kata Bryan.


"Benarkah? Apa kau sudah mencarinya disini?" kata Davies kaget tentunya, kenapa mereka lengah sampai Dewa bisa menemukan keberadaan mereka.


"Sudah, Dewa sepertinya membawa pasukan khusus" kata Bryan tadi sempat melihat beberapa orang tampak berkumpul di bawah dek kapal.


"Lalu dimana Zachary?" kata Davies ikut panik.


"Dia menemui Dewa Om, apa yang harus kita lakukan? Mereka pasti akan mendapatkan kita" kata Bryan lagi, ia masih sayang nyawanya jika harus melawan orang sebanyak itu.


"Kamu tenang, kita pasti bisa lolos dari sini, Dewa pasti belum tau semua bagian dari kapal ini, kita akan pergi tanpa sepengetahuan dia. Untuk saat ini biarkan saja dulu dia merasa menang, terlalu mudah pun tidak akan menyenangkan" kata Davies dengan senyum sinisnya yang mengembang.


Zoya yang berada di dalam lemari hanya bisa menahan nyeri di hatinya, air matanya kembali menggenang, kenapa? kenapa harus Ayahnya? Kenapa harus melakukan hal yang begitu kejam? Apakah jika menghancurkan hidupnya akan membuat Ayahnya ini senang?


Davies segera mengajak Bryan pergi meninggalkan kamar itu, namun dengan tatapan tajamnya, ia bisa melihat ada sebuah kain yang terjepit di pintu lemari. Davies tersenyum sinis dan menghentikan langkahnya.


"Kenapa om?" tanya Bryan bingung.


Davies memberikan gesturnya untuk Bryan agar melihat hal itu, Bryan sempat bingung, namun wajahnya berubah menyeringai. Davies mengangguk memberi kode kepada Bryan yang langsung sigap membuka pintu lemari itu dengan keras hingga membuat Zoya kaget.


"Ternyata kau disini istriku" kata Bryan tersenyum licik lalu menarik tangan Zoya dengan kasar.


"Keluar!" bentak Bryan memaksa Zoya keluar dari sana.


"Aku tidak mau! Lepaskan!" kata Zoya berontak tapi tentu saja tenaganya kalah kuat hingga ia dengan mudah ditarik oleh Bryan sampai keluar darisana.


"Tidak akan! Kau harus ikut denganku" kata Bryan tak melepaskan cekalan tangannya pada tubuh Zoya.

__ADS_1


"Ayah! Apa lagi yang Ayah rencanakan? Apakah ayah belum puas melihat aku menderita!" teriak Zoya menatap Ayahnya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tidak akan berhenti sebelum kau merasakan apa yang aku rasakan Zoya!" kata Davies tak terpengaruh oleh tatapan mata itu.


"Kalau begitu! Sekarang bunuh saja aku Ayah! Biarkan aku menyusul ibuku!" kata Zoya memberontak dengan kasar hingga terlepas.


Zoya langsung mendatangi Ayahnya dan berdiri tepat di hadapan pria itu. "Ayo bunuh aku Ayah! Puaskan rasa sakit hatimu padaku! Aku lebih rela mati daripada aku harus berpisah dari Dewa" teriak Zoya menggoncang lengan Ayahnya diiringi air matanya yang menetes.


"Berhenti melakukan hal bodoh ini Zoya!" kata Davies mendorong Zoya kasar.


"Bryan! Bawa wanita ini naik" kata Davies tak perduli Zoya yang terus menangis itu.


Bryan langsung menurut, ia mencekal kedua tangan Zoya agar berdiri lalu membawanya pergi.


"Aku tidak mau! Lepaskan aku" kata Zoya memukuli Bryan agar melepaskan dirinya.


"Diam!" bentak Bryan hampir saja ingin menampar Zoya karena emosinya.


Zoya menatap pria itu dengan tajam, ia lalu mengigit tangan Bryan dengan keras hingga Bryan melepaskan dirinya. Tak sampai di situ saja, Zoya juga mengambil salah satu pajangan disana lalu menghantam kepala Bryan dengan keras hingga pria itu langsung pingsan.


"Berhenti Zoya" teriak Davies mengejar Zoya.


Zoya cukup kebingungan karena tak mengerti tempat ini, semua jalan terlihat buntu dan hanya ada satu lorong yang begitu gelap, saat ingin berlari kesana, Ayahnya sudah lebih dulu menangkapnya.


"Hentikan ini Zoya! Kau tidak akan bisa lolos" kata Davies dengan wajahnya yang memerah.


"Ayah yang harus menghentikan ini semua! Berhenti menggangu kehidupanku bersama Dewa! Aku juga berhak bahagia!"


*****


"Dewa! Dewa! Jangan bunuh aku, kita akan berdamai, aku tidak akan mengganggumu lagi" kata Zachary di sergap ketakutan saat melihat sorot mata Dewa.


Dewa tersenyum mengejek. "Lucu, setelah semua yang terjadi, kau baru mengajak berdamai? Sayangnya aku tidak sebaik itu Zac" kata Dewa menendang kembali dada Zachary.


Melihat pria ini mengingatkannya pada kenyataan masa lalu yang begitu menyakitkan, dimana ia dipermalukan oleh Zachary, pria ini juga yang sudah menghancurkan semua mimpinya. Jika mengingat itu semua, amarah dalam diri Dewa kembali membara, ia langsung menarik baju Zachary lalu kembali menghantam wajahnya dengan keras.

__ADS_1


Bugh


"Ini untuk penghinaan yang kau berikan padaku"


Bugh


"Ini untuk kau yang sudah menjebak ku dengan Zoya"


Bugh


"Ini untuk kau yang sudah menghancurkan hidupku"


Dewa memukuli Zachary dengan membabi buta, tak perduli melihat wajah Zachary yang berlumuran darah, namun pria itu masih sadar. Dewa kembali menarik kerah bajunya.


"Dengarkan aku baik-baik, selama ini aku tidak pernah mengganggu atau mencari masalah denganmu. Tapi karena kau sudah lancang menculik wanitaku, aku tidak akan mengampuni mu" teriak Dewa memberikan pukulan telat di perut Zachary hingga pria itu tumbang seketika.


"Bangun! Lawan aku Pengecut!" Dewa meludahi Zachary yang menggeser tubuhnya menjauhi Dewa, ia tak mampu lagi jika Dewa akan menyerangnya.


Zachary lalu mengambil pistol miliknya yang sempat terjatuh, namun Dewa sudah lebih dulu melihatnya, ia segera menendangnya menjauh. Dewa menyeringai, ia kembali mengarahkan pistolnya ke arah Zachary, ia sudah bersiap untuk membunuh pria ini.


Zachary pun semakin ketakutan namun juga tak berdaya, ia hanya bisa menatap Dewa antara marah namun juga ngeri.


Duarr!!!!


Suara tembakkan terdengar menggema dimalam yang sepi itu. Jantung Zachary rasanya ingin lepas dari tempatnya namun ternyata tembakan itu tidak mengenainya. Dewa pun sama kagetnya mendengar suara tembakan itu, ia belum menarik pelatuk pistolnya.


Dewa membesarkan matanya saat tau jika suara tembakan itu berasal dari dalam kapal. Firasat buruk tiba-tiba menyergap dirinya.


"Zoya" Hanya satu nama itu yang terlintas dalam benaknya.


Dewa sempat memukul Zachary sampai pingsan sebelum berlari menuruni anak tangga menuju ruangan Zoya. Dewa tak akan mengampuni dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada Zoya.


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2