
Tingg!!
pintu lift terbuka, Mei memasuki lift tersebut. Mei sengaja memasang heandset agar tidak terganggu dengan aktivitas orang lain. Ia juga menyadari bahwa ada Taki di lift tersebut.
"apa kau baru saja menangis?" tanh Taki.
suara itu masih bisa terdengar oleh Mei, ia mengabaikan pertanyaan Taki dan fokus pada tujuannya yaitu berangkat ke sekolah.
"Mei, apa kau baru saja menangia? akh tahu kau mendengarku karena kau tidak memasang level volume yang keras," ucap Taki menghalangi langkah Mei.
Kini Mei melihatkan ponselnya pada Taki, dan meningkatkan volume musik. Mei segera mengambil sisi jalan lain. "apa kau menyukai orkestra?" tanya Taki yang sempat melihat lagu yang diputar Mei.
Taki segera merebut heandset dari telinga Mei. Gadis itu hanya memasang wajah dinginnya,
"gadis bodoh, telingamu bisa rusak!" ucap Taki.
"aku tidak akan mengganggumu, sampai ketemu di sekolah nanti." ucap Taki dan segera berlari mendahului Mei.
Mei menormalkan volume suaranya, dan mulai memakai alat itu kembali.
****
jam istirahat,
"Bagaimana dengan ujianmu?" tanya Taki.
"entahlah, aku sudah belajar dengan giat dan rajin ketempat les," jelas Daisuke.
"permisi," ucap sopan seorang gadis yang secara tiba-tiba duduk disebelah Taki.
"apa aku boleh bergabung dengan kalian?" tanya gadis, Keiko.
"tentu saja," jawab Daisuke cepat,
Taki menatap tajam Keiko, dan mengalihkan perhatian kesekelilingnya. Tepat dipojok ujung jendela ia menemukan Mei yang sedang menyendiri. Taki segera membawa napan makanannya dan pindah dekat Mei.
__ADS_1
"kau ingin kemana?" kompak Daisuke beserta Keiko, namun Taki hanya mengerakan bahunya.
Tidak ada respon dari Mei ketika Taki berada di hadapannya, gadis itu mefokuskan dirinya untuk makan. Mei mengabaikan pengganggu didepannya,
"Mei-chan, percayalah kau akan merindukanku suatu saat nanti," ucap Taki dengan percaya dirinya, Mei tidak merespon ucapan Taki tersebut.
"*wahh, apa mereka berdua pacaran?"
"mereka sangat cocok,"
"sangat cantik dan tampan,"
"apa Taki berhasil melelehkan hati Mei?"
"aku sangat iri padanya*,"
Mei kerap mendengar bisikan tersebut membuat telinganya panas. Ia meletakan sepasang sumpit dan membawa nampannya, juga ia bangkit berdiri meninggalkan Taki seorang diri.
"aw!" jerit Keiko kesakitan,
Mei mengetahui tindakan Keiko yang mengulurkan kakinya agar membuat dirinya tersandung. Seketika sepasang mata menatap dua gadis tersebut. Mei menatap tajam Keiko, membuat aura dingin di sekitarnya.
"minta maaflah padaku! kau sudah menginjak kakiku!" seru Keiko.
"Tidak akan, seharusnya kaki anda tidak berada di jalan bukan?" balas Mei dengan pertanyaan nada datar dan dingin.
Keiko beranjak berdiri, seketika emosinya meluap karena pertanyaan Mei. Ia mengangkat tangannya dan siap menampar Mei sembari berkata "beraninya kau!" Taki dibuat greget dengan dua gadis tersebut. Namun Mei menahan tangan Keiko sebelum ia menyentuh wajahnya.
"seharusnya andalah yang meminta maaf pada kobar yang sudah anda bully, simpan tenaga anda untuk menjaga diri anda," ucap Mei tenang dengan melepaskan tangan Keiko.
"hey Matsuda Mei! kau terlalu sombong! kau tidak pantas bersikap sok pahlawan." seru Yujin disebrang yang membela Keiko.
"hey! diamlah Keiko," seru seorang senior.
Mei mulai melangkah menjauh dari Keiko dengan membawa nampan makanannya,
__ADS_1
"Mei-chan!, apakau sudah tidak menemui psikiater lagi? apa kau sudah lupa kejadian dua tahun yang lalu? apa kau sudah sembuh Mei-chan?" tanya Keiko memnacing emosi Mei.
Keiko selalu iri dengan Mei, Keiko selalu ingin melebihi kemampuan Mei. Dan jika ada kesempatan dalam kesempitan ia akan menggunakannya untuk mempermalukan atau mengalahkan Mei. Mei menghentikan langkahnya, dan menghelai pelan napasnya agar merasa tenang.
"aku tidak bodoh, aku tahu kejadian dua tahun yang menimpamu di kapal verry, dan apa yang kau alami, apakau menangisi dirimu semalam?" ucap Keiko mendekat kearah Mei.
"Jaga bicaramu Watanabe Keiko!" teriak dari sebrang seorang guru yang menghampiri dua gadis tersebut.
"Matsuda Mei, apa kau baik-baik saja?" tanya guru tersebut.
"saya ingat detail kejadian itu, tapi apa hak anda mencampurinya?" tanya Mei.
Mei kembali melanjutkan langkahnya, mengembalikan nampan makanannya.
*****
ruang guru.
kelas barusaja selesai, para siswa dan siswi beramai-ramai untuj kembali pulang kerumah masing-masing sembari menunggu hasil ujian yang akan keluar minggu depan. Berbeda dengan Keiko dan Taki, karena kejadian tadi siang di kantin para guru memanggil Mei dan Keiko. Mereka mecoba membantu membereskan masalah antara Keiko dan Mei.
Mei beberapa kali menghelai napasnya memnandakan ia semakim capek mendengar celotehan yang dikeluarkan Keiko.
"Keiko, apa masalahmu dengan Mei?"
"Aku tidak mengerti kenapa kalian memperlakukan Mei sangat istimewa sekali," ucap Keiko.
"apa kamu iri padanya?"
"tidak, dia bukan levelku, bahkan aku lebih baik darinya!" seru Keiko,
"kembalilah kenegara asalmu, aku membenci mu, Matsuda Mei!" lanjut Keiko.
"anda tidak berhak mengatur saya," ucap Mei datar.
sudah dua satu lebih jam ia berada di ruang guru, jenuh dan capek mengurusi orang yang tidak jelas seperti Keiko. Mei bangkit berdiri, ia mulai meninggalkan tempat tersebut. Kalimat terakhirnya adalah sebagai kalimat pamitnya. Para guru mempersilahkan Mei kembali, karena Mei yang tidak memulai keributan di kantin.
__ADS_1
Mei melihat jam yang tertera di ponselnya, jam menujukan angka 18.43. Tampaknya jalan akan mulai sepi dengan para siswa maupun siswi SMA. Ia mengenakan heandset agar merasa sunyi sendiri. Mei mulai keluar dari gerbang sekolah.
"Mei-chan," panggil seorang.