I'M FINE

I'M FINE
Alergi.


__ADS_3

"Sudah jangan menggombal terus, habiskan saja makananmu, apa mau aku tambah lagi? Sup Ikan disini sangat enak," kata Zoya tak ingin suaminya ini terlalu banyak yang menggombal.


"Aku tambah ya,?" kata Zoya mengambilkan sup untuk Dewa.


"Dewa tidak suka Ikan laut," celetuk Tara membuat semua pandangan tertuju padanya, termasuk Frans yang langsung menyipitkan matanya. Zoya pun ikut menekuk wajahnya mendengar hal itu.


Menyadari apa yang dilakukannya membuat Tara sedikit kikuk. "Maaf maksudku...."


"Aku suka semua makanan yang diberikan istriku," kata Dewa menatap Tara tajam, ia geram karena sikap Tara yang menurutnya sok tau.


Suasana langsung canggung setelah hal itu terjadi, semua orang tampak menekuni makanan masing-masing.


"Aduh! Ibu! Ibu! Badan aku panas! Sakit..." Teriak Rayden secara tiba-tiba membuat semua orang kaget.


"Rayden! Kenapa sayang?" Zoya langsung bangkit diikuti Dewa yang mengecek keadaan putranya.


"Panas Ibu! Sakit" Rayden terus berteriak dan menggaruk-garuk tubuhnya hingga memerah.


"Apa dia punya alergi makanan? Dilihat dari gejalanya sepertinya dia terkena alergi," ucap Frans cukup mengenali tanda-tanda orang alergi.


"Ya dia alergi udang" kata Zoya langsung.


"Astaga! Nasi goreng yang dimakan tadi ada udangnya, Ayah tidak tau kalau Rayden alergi udang," sahut Anderson dengan wajah cemasnya.


"Dewa, sebaiknya cepat bawa putramu ke rumah sakit," ucap Tara ikut menyahut.


Dewa mengangguk singkat, ia langsung menggendong Rayden yang terus menangis. Zoya segera mengikutinya, air matanya bahkan sudah meleleh tanpa bisa dicegah.


"Zoya kamu disini saja, biar aku bersama Ayah yang mengantar Rayden" kata Dewa mencegah istrinya yang akan ikut.


"Tapi Dewa, aku ingin melihat Rayden," kata Zoya sangat cemas dengan kondisi putranya.


"Nanti aku pasti mengabarimu, tolong mengertiah, kau sedang hamil dan butuh istirahat" kata Dewa mencoba membuat istrinya mengerti, jujur saat ini pikirannya terpecah antara anak dan istrinya.

__ADS_1


Zoya sebenarnya masih ingin ikut, tapi melihat tatapan mata suaminya ia akhirnya mencoba mengerti. Ia hanya bisa menatap kepergian mereka dengan perasaan tak menentu. Antara cemas dan juga sangat takut.


"Ya Tuhan, semoga putraku baik-baik saja" batin Zoya dengan hati yang kalut.


"Kenapa kau tidak ikut mengantar putramu,?" Tara terlihat datang mendekati Zoya, ia melipat tangannya di atas perut dan memasang wajah yang angkuh.


"Bukan urusanmu" kata Zoya ketus. Saat ini ia hanya ingin kembali ke kamar dan berdoa untuk kesembuhan anaknya.


"Apa kau tidak merasa kalau hal ini itu menandakan kalau kau tidak becus mengurus anak?" kata Tara sepertinya sengaja ingin mencari gara-gara dengan Zoya.


"Apa maksudmu berbicara seperti itu? Kau itu bukan orang yang mengenal kehidupanku, jadi kau tidak berhak mengatakan hal itu padaku!" kata Zoya menahan dirinya untuk tidak terlalu emosi menghadapi wanita didepannya ini.


"Kau memang terlalu sombong dari dulu. Aku hanya ingin mengingatkan padamu agar kau lebih berhati-hati menjaga anakmu. Kau sebagai seorang ibu seharusnya mengecek apa yang akan dimakan anakmu. Tapi apa yang kau lakukan? Kau membiarkan saja dia bersama Kakeknya sedangkan kau asyik berduaan bersama Dewa. Apakah menurutmu hal itu pantas dilakukan oleh seorang ibu," kata Tara langsung menohok hati Zoya.


Terbukti wajah Zoya berubah saat mengingat kalau sore tadi ia dan Dewa memang sibuk dengan urusannya sendiri sampai tidak memikirkan Rayden.


"Ini semua itu salahmu Zoya. Kalau saja kau lebih memberikan sedikit waktumu untuk putramu, hal seperti ini pasti tidak akan terjadi. Entah bagaimana keadaan Rayden sekarang, semoga dia baik-baik saja. Aku pernah mendengar kalau ada seorang anak yang sampai meninggal gara-gara alergi," kata Tara lagi, ia sengaja mengompori Zoya untuk melampiaskan kekesalannya yang sejak tadi mengendap dalam dadanya.


"Itu tidak akan mungkin terjadi! Putraku pasti baik-baik saja," bentak Zoya tak terima dan marah karena Tara berkata seperti itu.


Zoya tak lagi menggubris perkataan Tara, ia langsung kembali ke kamarnya agar bisa menghubungi Dewa. Ia harus secepatnya tau kabar Rayden.


Hingga telepon yang entah ke berapa, Dewa tak mengangkatnya sama sekali membuat Zoya semakin cemas.


"Dewa! Angkat dong" gumam Zoya mondar-mandir cemas di kamarnya.


Mungkin karena tekanan yang berlebih, tiba-tiba saja perut Zoya terasa sangat kencang. Zoya langsung meringis dan memegangi perutnya yang sangat nyeri.


"Akhh....sayang, maafkan Ibu" ucap Zoya mencoba mengatur nafasnya. Bayi dalam kandungannya pasti ikut tertekan jika ia juga tertekan.


Zoya sebisa mungkin menenangkan dirinya, bekali-kali ia mengatur nafasnya. Saat dirinya mulai tenang, ia kembali menghubungi Dewa. Untungnya kali ini langsung di angkat.


"Halo Dewa, bagaimana keadaan Rayden?" tanya Zoya langsung.

__ADS_1


"Rayden baik-baik saja. Sekarang sudah diberi obat untuk mengurangi rasa sakitnya"


"Syukurlah, aku sangat lega mendengarnya," ujar Zoya benar-benar sangat lega mendengar anaknya baik-baik saja.


"Ya, tapi Rayden baru bisa pulang besok. Harus di infus dulu karena dia habis muntah-muntah,"


"Aku harus kesana, Rayden pasti membutuhkan aku" kata Zoya kembali khawatir mendengar hal itu.


"Tidak usah sayang. Sudah ada aku dan Ayah, kamu istirahat saja, besok kita sudah pulang"


*****


Tara masuk kedalam kamarnya dengan ekspresi wajah penuh kepuasan. Ia sangat puas karena berhasil membuat Zoya menjadi merasa bersalah. Wanita sombong seperti dia, memang sangat pantas jika mendapatkan hal seperti itu.


"Kamu darimana saja?" Tara tersentak kaget saat mendengar suara suaminya.


"Oh, aku baru saja menemui istrinya Dewa untuk sekedar menguatkannya" kata Tara berbohong tentunya.


"Kau sepertinya sangat perduli sekali dengan keluarga mereka," kata Frans mengeluarkan sesuatu yang ada di pikirannya akhir-akhir ini.


"Tidak juga, bukankah dia salah satu teman kerja Ayah mertua" kata Tara membantah.


"Benarkah? Tapi kenapa aku curiga kalau kau sudah punya hubungan dengan mereka sebelumnya? Kau bahkan sampai tau kalau Dewa tidak suka ikan laut," kata Frans langsung skakmat. Ia bukan orang bodoh yang tidak bisa melihat bagaimana istinya ini terus memandang Dewa sejak saat mereka bertemu.


Wajah Tara seketika langsung kaget, ia sebisa mungkin menormalkan ekspresi wajahnya agar Frans tidak curiga.


"Apa yang kau bicarakan? Aku hanya asal menebak tadi" kata Tara mengelak.


"Tara, Tara, aku bukan anak kemarin sore yang mudah kau bohongi. Kau dan Dewa itu pernah ada hubungan kan? Katakan, apa dia pria yang membuatmu hamil dulu?" kata Frans kini menatap istrinya sangat tajam.


Tara semakin kaget mendengar hal itu, memang Frans sudah tau kalau dirinya dulu sempat hamil dan menggugurkannya. Sebenarnya Tara tidak bercerita, tapi saat melakukan pemeriksaan kandungan lah yang membuat hal itu terkuak.


"Apa tidak mengerti maksudmu, Frans. Sudahlah jangan membahasnya, aku sangat lelah dan ingin tidur"

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2