
Zoya kembali menarik panjang sebelum masuk kedalam rumah kontrakannya, ia menyentuh dinding kontrakan itu dengan hati tercabik. Di tempat inilah dia dan Dewa memulai segalanya, dimana mereka menghabiskan waktu bersama dan menumbuhkan cinta antara keduanya.
Zoya perlahan membuka pintu kamar mereka, bayangan saat mereka menghabiskan malam bersama dan juga saat Dewa sering menggodanya dengan gombalan recehnya langsung memenuhi otaknya.
"Apa kau mau melihat naga?"
Zoya tersenyum dan juga menangis saat mengingat kata-kata andalan Dewa yang selalu disukainya. Ia kemudian membuka lemarinya untuk mengambil semua baju-bajunya, lalu pandangannya bertumpuk pada sebuah mini dress yang diberikan Dewa sebagai hadiah ulang tahunnya. Zoya segera mengambilnya dan menciumnya dengan air mata yang terus mengalir.
Entah sudah berapa lama Zoya menangis tapi seolah air mata itu tak pernah habis, ia terus menangis hingga kepalanya terasa sangat pusing sekali. Zoya cepat-cepat memasukan semua barangnya kedalam koper dan ingin cepat-cepat pergi dari sana. Sesaat sebelum keluar kamar, Zoya menoleh kebelakang, menatap keseluruhan tempat yang menjadi saksi cinta mereka berdua.
"Selamat tinggal" bisik hati Zoya pergi membawa seluruh luka batinnya.
******
Sementara di rumah sakit, Dewa terlihat sudah siuman dan sedang diperiksa oleh Dokter. Semua operasi berjalan lancar, tapi seluruh tubuhnya masih sangat sakit seperti ditusuk-tusuk jarum hingga nyerinya tak tertahankan. Selain itu ada hal yang membuat Dewa hampir tak mempunyai harapan lagi.
"Apa nggak ada cara lain untuk memulihkan hal ini Dok?" Bayu yang saat itu setia menemani Dewa juga ikut sedih dengan kondisi Dewa.
"Masa pemulihan cidera kaki ini tergantung usaha pasien Dewa untuk sembuh, tapi biasanya bisa sampai 1 sampai 2 tahun, namun juga ada yang hanya enam bulan"
"Dengan cara medis lain mungkin? Untuk bisa memulihkan cidera itu lebih cepat?"
"Untuk saat ini belum ada cara lain karena itu sudah sangat maksimal, karena pasien Dewa mengalami kerusakan tulang belakang hingga menyebabkan kelumpuhan di kedua tungkai kakinya" kata Dokter lagi membuat Dewa mengepalkan tangannya.
Ucapan Dokter itu terdengar sangat mengerikan dan berhasil menggerus kepercayaan dirinya ketitik terendah. Ia kini sudah resmi menyandang predikat lelaki pesakitan tak berdaya dan tak berguna. Lalu apalagi yang bisa dilakukannya jika berjalan pun dia tak bisa.
"Aku udah nggak bisa apapun lagi Bay, gimana nanti aku akan menjaga Zoya, aku udah nggak bisa kerja lagi, aku suami nggak berguna Bay" kata Dewa menunduk penuh penyesalan karena jika seperti ini, dia tak bisa menjaga istrinya.
Bayu tersenyum penuh ironi, kalau saja Dewa tau jika Zoya sudah pergi meninggalkannya, Bayu tak bisa membayangkan betapa hancurnya pria itu.
"Lu kuat, lu pasti bisa melewati ini semua" kata Bayu mencoba memberi semangat kepada Dewa yang sangat terpukul itu.
__ADS_1
"Sekarang dia dimana?" tanya Dewa sejak tadi memang mencari sosok wanita yang terus memenuhi pikirannya.
"Dia....." Bayu bingung harus menjawab apa, ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya karena ingat janjinya pada Zoya untuk tidak mengatakan alasan wanita itu pergi.
"Dia nggak mau nemuin aku lagi ya? Dia pasti masih marah sama aku?" kata Dewa ingat apa yang terjadi sebelum kecelakaan ini.
"Gua nggak tau" kata Bayu.
"Dia beneran nggak mau nemuin aku?" tanya Dewa menahan rasa sakit hatinya karena Zoya tak berada disana.
Bayu menghela nafas sejenak. "Dia bukannya nggak mau nemuin elu, mungkin dia masih butuh waktu, lu mendingan istirahat aja biar luka operasi lu cepet sembuh, ntar lu bisa nemuin dia kan?" kata Bayu.
Dewa tak menjawab, ia benar-benar menyesal karena telah membuat Zoya menangis. Ia ingat hubungan mereka belakangan ini kurang baik dan ia juga sering mengabaikan wanita itu karena ia sibuk dengan rasa marah yang tak berkesudahan.
Saat ia sedang melamun, tiba-tiba pintu ruang rawat terbuka membuat pandangannya teralihkan. Dewa sangat berharap kalau itu Zoya tapi ia harus kecewa saat bukan wanita itu yang datang, melainkan seseorang yang sama sekali tak pernah terlintas dipikirannya.
"Aldin?" kata Dewa kaget dan juga bingung saat melihat sosok Aldin datang bersama orang yang berada di makam ibunya beberapa saat lalu.
Anderson menatap Dewa dengan mata yang berkaca-kaca, hatinya senang bisa bertemu putranya, namun ia juga sedih saat melihat kondisi Dewa yang tampak terluka dimana-mana.
"Kabarku kurang baik, ehm, apa kita punya urusan sebelumnya?" tanya Dewa cukup was-was, ia menebak apa yang membuat kedua pria ini menemui dirinya.
"Kau pasti bingung dengan kedatangan kami kesini, tapi ada hal penting yang ingin aku katakan padamu" kata Aldin melirik Bayu yang langsung mengerti posisinya.
"Aku akan menunggu di luar" kata Bayu mengangguk singkat pada Dewa lalu keluar ruangan.
Dewa semakin bingung dengan hal ini, ia kemudian menatap Aldin dan pria paruh baya itu bergantian. Apalagi sekarang pria paruh baya itu sudah menangis membuat Dewa semakin tak mengerti.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dewa penasaran sekali.
Aldin menghela nafas sejenak lalu melirik Anderson yang mengusap air matanya, ia berjalan perlahan mendekati Dewa yang hanya diam, sesaat kemudian Dewa kaget saat tiba-tiba Anderson memeluk tubuhnya seraya menangis.
__ADS_1
"Maafkan Ayah, Maafkan Ayah Dewa.....Maafkan Ayah....."
DEG
Dewa kaget mendengar hal itu, Apa dia tidak salah dengar? Pria yang ditemui di pemakaman ibunya ini adalah Ayahnya. Dewa lalu menatap Aldin yang tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Dewa tak bisa menyembunyikan binar kebahagiannya karena akhirnya bisa dipertemukan dengan Ayahnya.
"Ayah" kata Dewa memberanikan diri membalas pelukan Anderson hingga keduanya sama-sama menangis.
Aldin membuang pandangannya saat melihat pemandangan mengharukan itu.
Cukup lama mereka berdua berpelukan hingga Anderson melepaskannya dan kembali menatap Dewa.
"Dewa, hal ini mungkin terlalu mengejutkan dirimu, tapi kau harus tau kalau Paman Anderson adalah Ayah kandungmu?" kata Aldin menjelaskan.
"Benarkah?" tanya Dewa tak ingin terlalu berharap, bisa jadi mereka berdua hanya salah orang.
"Kamu memang putraku, tidak ada yang perlu di ragukan lagi nak" kata Anderson angkat bicara.
"Apa yang membuat anda begitu yakin?" kata Dewa benar-benar ingin memastikan kalau ini semua kenyataan.
"Kami pasti akan menjelaskannya padamu Dewa, tapi satu hal yang membuat kami yakin adalah kau memiliki tanda lahir naga yang sama persis seperti Ayahmu" kata Aldin ikut menyahut.
"Tanda lahir?" Dewa mengerutkan dahinya.
Anderson sedikit tersenyum melihat Dewa yang sepertinya belum percaya padanya. Ia kemudian memutar sedikit duduknya dan menunjukkan tanda lahir miliknya yang berada di leher bagian belakangnya.
Dewa yang melihat itu kaget karena tanda lahir itu memang sama dengan miliknya, hanya saja di tempat yang berbeda. Apakah itu artinya benar kalau pria ini adalah Ayahnya?
"Dulu Kakek mu juga memilikinya karena tanda lahir ini hanya keluarga kita yang punya. Dewa, kau memang putra kandungku"
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.