
Zoya menjalin jari-jemarinya untuk menutupi kegugupan yang mendera. Saat ini ia sudah duduk berhadapan dengan Ayahnya yang menatapnya sangat dingin. Zoya bingung harus memulai percakapan darimana.
"Apa tujuanmu kemari?" tanya Davies menebak apa yang membawa putrinya yang pembuat masalah ini kembali pulang.
"Aku ingin minta tolong pada Ayah" kata Zoya memberanikan diri menatap Ayahnya.
"Untuk?" kata Davies mengalihkan pandangannya saat matanya tak sengaja bertatapan dengan Zoya. Ia selalu tak bisa jika harus bertatap mata dengan anak itu karena sorot mata Zoya selalu mengingatkannya pada mendiang istrinya. Itu juga yang membuat Davies selalu tak suka jika melihat Zoya.
"Aku ingin pinjam uang, aku janji akan mengembalikannya nanti" kata Zoya.
"Berapa yang kau butuhkan?" kata Davies.
"80 juta Ayah, Aku tau Ayah membenciku tapi tolong satu kali ini saja Ayah, aku benar-benar membutuhkan uang itu" kata Zoya menahan air matanya agar tidak tumpah. Hatinya miris sekali karena ia harus memohon kepada Ayahnya sendiri.
"Sudah aku duga, orang miskin sepertimu pasti membutuhkan uang, apakah suamimu itu tak bisa memberikanmu uang sampai kau harus meminta-minta seperti ini" kata Zachary melirik Zoya sinis.
Zoya tak menggubrisnya, ia hanya menatap Ayahnya, berharap pria itu akan membantunya.
Davies ikut menatap Zoya yang terlihat sekali sangat tertekan seperti itu, ia mengamati penampilan putrinya yang tampak sedikit kurus dan wajahnya pucat, sepertinya putrinya mengalami kehidupan yang cukup tidak baik.
"Ayah aku mohon, setidaknya jika tidak demi aku tolong lakukanlah demi rasa kasihan Ayah, Dewa harus menjalani operasi dan aku butuh uang itu sekarang" kata Zoya kembali memohon kepada Ayahnya yang hanya diam saja.
"Apa jaminannya jika kau tidak bisa mengembalikan uang itu?" kata Davies sedikit menarik sudut bibirnya.
"Aku akan melakukan apapun yang Ayah mau, bahkan aku akan pergi sejauh mungkin dan tidak mengganggu kehidupan Ayah" kata Zoya tanpa ragu sama sekali. Baginya Dewa yang terpenting dari apapun yang ada di dunia ini.
Davies kembali tersenyum licik menatap putrinya. "Baiklah, karena kau sudah berjanji, aku akan meminjamkan uang itu padamu, tapi kau harus melakukan satu hal untukku"
*****
Zoya setengah berlari saat dirinya masuk kedalam rumah sakit, ia beberapa kali harus mengusap air matanya yang terus berjatuhan. Ditangannya menenteng sebuah tas yang berisi uang yang dibutuhkan untuk operasi Dewa.
Zoya tak lagi membuang waktunya, ia segera mengurus administrasinya agar Dewa cepat ditangani. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi saat Dewa di dorong masuk kedalam ruang operasi, beberapa kabel dan alat bantu kehidupan tampak menempel di seluruh tubuh Dewa.
__ADS_1
"Kamu kuat, kamu pasti bisa, Berjuanglah untukku, aku sangat mencintaimu" bisik hati Zoya dengan mata yang kembali basah.
"Kita doakan yang terbaik untuk Dewa" kata Bayu yang malam itu masih setia menemani Zoya.
Zoya mengangguk karena tak kuasa menjawab, hatinya begitu sakit hingga nafasnya terasa sangat sesak. Sumpah demi apapun, tak ada yang menyakitkan dari apa yang Zoya alami. Malam ini benar-benar malam terkelam dalam hidup Zoya.
Operasi itu berjalan sekitar empat jam, hari pun sudah berganti pagi dan matahari sudah menampakan sinarnya membias seluruh muka bumi. Tapi Zoya masih tak beranjak sedikitpun dari tempatnya, ia hanya duduk termenung di depan ruang perawatan Dewa.
"Makan dulu Zoy" kata Bayu baru saja kembali membeli sarapan. Ia juga belum tidur sama sekali, tapi ia lega karena Dewa sudah berhasil di operasi dan tinggal menunggu pria itu siuman sekitar tiga sampai enam jam.
"Makasih, kamu makan aja dulu, aku belum laper" kata Zoya lirih, ia tak berselera untuk makan.
"Kamu juga harus makan, jangan sampai kamu ikut sakit juga, Dewa nggak ada yang jaga nanti" kata Bayu.
Zoya hanya tersenyum sedikit. "Kamu orang baik Bay, aku benar-benar berterimakasih padamu karena mau menemani Dewa" kata Zoya.
"Santai aja, itu kan gunanya seorang teman Zoy" kata Bayu menarik sudut bibirnya menjadi senyum tipis.
"Bay, aku mau minta tolong sama kamu, apa kau bisa membantuku?" kata Zoya.
"Jika aku bisa akan aku lakukan" kata Bayu siap-siap saja.
"Tolong jaga Dewa Bay" kata Zoya menggigit bibirnya, ia tak kuat saat mengatakan hal yang akan menyakiti hatinya.
"Apa maksud kamu? emangnya kamu mau kemana? pulang?" kata Bayu bingung.
Zoya hanya menggelengkan kepalanya, ia memandang Bayu dengan sendu. "Kamu pasti ngerti Bay, ini yang terbaik untuk Dewa" kata Zoya semakin membuat Bayu bingung.
"Sebenarnya ada apa Zoya?" kata Bayu menatap Zoya lebih serius. Ia memberanikan diri untuk menyentuh pundak Zoya seperti seorang kakak yang bertanya kepada adiknya.
Zoya semakin menangis tersedu-sedu saat mendapatkan perlakukan seperti itu. Ia menumpahkan segala keluh kesahnya kepada Bayu, ia tak kuat jika harus menahan beban ini sendirian.
"Apa kau serius Zoya?" seru Bayu sedikit kaget mendengar keputusan yang diambil Zoya.
__ADS_1
"Ini semua yang terbaik Bay, aku nggak mau lagi Dewa kena sial gara-gara aku, sudah cukup dia menderita selama ini" kata Zoya.
"Tapi dia pasti sangat sedih kalau kau pergi" kata Bayu.
Zoya hanya menggelengkan kepalanya dan mengusap air matanya. "Jangan katakan apapun padanya Bay, Aku pergi, tolong jaga Dewa" kata Zoya seraya bangkit dari duduknya dan pergi tanpa menoleh lagi.
Sebuah keputusan yang akan melukai hati mereka berdua, tapi sudah tidak ada pilihan lain. Mungkin benar kata orang-orang kalau dia memang hanya wanita pembawa sial bagi orang lain.
Kalau saja dulu ia tidak menolong Dewa dan membawa pria itu kerumahnya, mereka tidak akan digrebek warga dan dinikahkan secara paksa, Dewa juga tidak akan terusir dari rumahnya dan Dewa tak akan kehilangan ibunya.
Kalau saja ia tak nekat untuk mencari uang sendiri, Dewa juga pasti tak akan bekerja keras untuknya.
Kalau saja waktu itu dia mau mendengarkan penjelasan Dewa dan tidak bersikap egois, Dewa pasti akan baik-baik saja.
Semua ini memang dia sumber masalahnya, dia memang anak pembawa sial dalam kehidupan orang lain.
"Apa kau sudah selesai?"
Zoya segera mengusap air matanya dan melihat kesamping, dimana Zachary sudah siap dengan kemudi mobilnya.
"Ya" kata Zoya dengan suaranya yang serak karena terus menangis.
"Baiklah, kau harus ingat janjimu kepada Ayah, jangan pernah menemui pria miskin itu, kau mengerti" kata Zachary memandang Zoya tajam.
Zoya hanya mengangguk singkat, pikirannya menerawang jauh disaat bahagia mereka berdua, tapi itu semua kini hanya tinggal kenangan yang harus ia lupakan.
"Kita pulang sekarang" kata Zachary melajukan mobilnya.
"Tolong antar aku ke kontrakan"
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1