
Kini dikediaman Matsdua hanya ada Mei, Bulter Yang dan beberapa para pelayan setelah kepergian Makto dengan pesawat pribadinya. Mei mengambil tas dan topinya, ia segera menuruni anak tangga menuju lantai satu. Ia akan pergi kesuatu tempat. Melihat Mei sudah siap Bulter Yang segera mengantar Mei menuju tempat tersebut, sebuah gedung tinggi perusahan Ainsoft milik Makoto.
"Nona apa kau akan pulang sendiri?"
"ya." jawab Mei, ia segera turun dari mobil tersebut. Setelah kepergian Mei, Bulter Yang melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut. Mei mengambil sebuah masker dan memakainya. Ia segera masuk kedalam.
"Hei kau!" seru seorang.
Merasa dipanggil Mei mencari sumber suara tersebut dan menatapnya dengan datar. Orang tersebut mendekati Mei.
"ini bukan tempat bermain," ucapnya.
Mei menghiraukan orang tersebut namun ia masih menatap dengan dingin dan datar. Orang tersebut merasa kesal dengan tatapan Mei yang begitu dingin dan datar. Ia memutuskan untuk memanggil security dan menyuruhnya untuk memngusir Mei. Mei dapat mengetahui bahwa kedudukan orangbtersebut lumayan tinggi, dengan sikapnya yang dapat melakukan apapun.
"Nona sebaiknya kau ikut denganku," ucapnya.
Mei tidak mengikuti perkataan security, ia justru melangkah menuju ruang keamanan sisitem. Sebuah gerbang yang hanya biaa dibuka dengan kartu karyawan, namun Mei hanya menatap sang penajaga gerbang tersebut dan terbukalah gerbang tersebut untuk Mei.
"Hey kau! Siapa kau sebenarnya?!" seru seorang. Membuat semua orang yang berada disitu refleks menatap mereka. Mei mengacuhkan mereka dan menuju ketempat ruang keamanan sistem. Ia mulai memasuki ruang tersebut membuat sepasang mata menatapnya.
"Apa anda utusan presdir yang ingin mengambil ponsel anda?" ucap seorang wanita lembut.
"ya," jawab Mei.
Wanita tersebut melangkah menuju Mei sembari memberikan ponsel Mei. Mei segera meninggalkan ruangan tersebut. Ia segera menuju keluar dari gedung tinggi tersebut. Ia sengaja melewati seorang yang menanyakan dirinya.
"Matsuda," ucap Mei sembari melintas melewati orang tersebut.
Orang tersebut membulatkan matanya, seolah-olah perkataan Mei menggema ditelinganya membuat orang tersebut terkejut. Setelah keluar dari gedung tersebut Mei melepas masker yang ia kenakan.
__ADS_1
Panasnya terik matahari membuat Mei menjadi haus, ia memilih untuk membeli es krim dikedai es krim terdekat. Mei mulai memasuki kedai tersebut. Ia duduk sembari menunggu pesanannya tiba. Namun seseorang tiba-tiba saja duduk dihadapannya. Orang yang selalu mengganggu Mei yang tidak mengerti rasa lelah.
"Apa yang kau lakukan disekitar sini?" Tanya Taki.
"Mengambil ponsel diperusahaan Ainsoft," jawab Mei.
Taki menutup mulutnya seolah-olah ia terkejut "Apa kau mencuri?" tanyanya.
"Menurutmu?" tanya Mei.
"Aku hanya bercanda,"
Seorang pelayan kedai mengantar pesanan Mei dan Taki. Setelah itu mereka pergi dari tempat tersebut. Mereka berjalan beriringan di trotoar sembari menyantap es krim ditangan mereka.
Mei memilih duduk dibangku bawah pohon sembari beristirahat sejenak dengan menikmati angin yang sejuk. Taki hanya mengikuti keinginan Mei. Ia duduk disebelah Mei dengan jarak sekitar tiga puluh centi meter. Es krim yang mereka santap telah habis, kini hanya ada kekosongan ditangan Mei dan Taki.
"aku tidak ingin."
Mudah sekali bagi Mei meminta Bulter Yang untuk menjemputnya, namun ia memiliki alasan tersendiri dibalik keputusannya.
"Apa kau tidak merasa kesepian?"
"Tidak,"
"bagaimana jika beristirahat sejenak dirumaku?" tawar Taki. "Aku akan mengantarmu pulang." ucapnya.
Jarak mereka dekat dengan kediaman Yoshida, itulah sebabnya Taki berada disekitar sini. Mei bangkit dari duduknya, ia hendak melajutkan langkahnya. Namun sepertinya terhenti oleh Taki yang menahan tangan Mei.
"Tunggu,kau tidak bisa berbohong dengan keadaanmu." ucap Taki yang melihat wajah Mei yang mulai pucat.
__ADS_1
****
Kediaman Matsuda.
Bulter Yang melihat sekeliling, iamelihat dan mengamati setiap pekerjaan para pelayan. Ia duduk sembari mencatat beberapa pekerjaan. Namun ponselnya berdering, seseorang menelponnya, tertera jelas nama sang penelpon adalah Tuan muda (Makoto).
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanyanya.
"ya, aku mendapat laporan bahwa ada seorang pelayan di Kediaman Matsuda adalah seorang mata-mata." jelas Makoto.
"Lalu apa yang anda inginkan?"
"Aku ingin kau mengurusnya dan memecat semua pelayan disana. Apa kau tidak keberatan menggantikam semua pekerjaan para pelayan, Kepala Pelayan Yang?"
"Tidak masalah tuan,"
Segera panggilan tersebut diakhiri oleh Makoto, banyanya urusan yang harus ia kerjakan membuatnya hanya dapat berbicara singkat pada Bulter Yang. Bulter Yang menghela napasnya. Ia beranjak berdiri untuk memenuhi perintah Makoto. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendapat sebuah pesan yang tertera jelas nama sang pengirim adalah Bos.
Dari: Bos.
Temui aku ditempat seperti biasa besok saat pukul delapan pagi. Pastikan kau memberi tahu semua informasi yang kau dapat.
Untuk: Bos
Baik bos.
ilustrasi:
__ADS_1