
Dewa sedang mengadakan rapat penting di kantornya, saat ini ia menjadi lebih sibuk dari biasanya karena semakin pesatnya kemajuan perusahannya. Belum lagi, perusahan yang baru saja didirikan di Jakarta, perkembangannya pun sangat pesat membuat Dewa cukup kesusahan membagi waktunya.
Mungkin dulu ia masih bisa dibantu Aldin, tapi sekarang hanya Bayu yang bisa diandalkannya.
"Bay, minggu depan ya kita berangkat ke Jakarta?" kata Dewa setelah kembali ke ruangannya.
"Iya Tuan, Tuan Rendra mengatakan kalau akan ada rapat umum untuk pembangunan mall baru" kata Bayu.
"Sepertinya kita perlu merekrut sekretaris baru Bay" kata Dewa menilai kalau saat ini Bayu cukup kewalahan jika harus menghandle semuanya sendirian.
"Kamu tolong hubungi bagian HRD untuk membuka lowongan sekretaris" kata Dewa lagi.
"Baik Tuan" kata Bayu mengangguk mantap, ia pun memang keteteran jika harus mengatur jadwal Dewa yang super padat.
"Oh ya sekarang udah jam berapa?" kata Dewa ingat untuk menjemput putranya.
"Jam 10" kata Bayu.
"Aku mau pergi dulu kalau gitu, meeting dengan Tuan Anjas undur saja jam 1 siang nanti" kata Dewa mengambil jasnya lalu memakainya.
Sesibuk apapun Dewa, ia tak pernah melewatkan waktu untuk menjemput anaknya, bahkan Dewa itu sangat jarang lembur karena selalu ingin sampai di rumah tepat waktu.
Saat Dewa memasuki lift, ia merasakan ponselnya bergetar pertanda ada panggilan masuk. Terlihat nomor tak di kenal membuat Dewa mengabaikannya, tapi ternyata penelepon itu tak menyerah membuat Dewa langsung mengangkatnya.
"Halo maaf, apakah benar dengan Tuan Dewangga?" terdengar suara seorang wanita diseberang sana.
"Ya benar?" kata Dewa mengerutkan dahinya.
"Ini saya bu Ulfa dari sekolahnya Rayden, saya mau mengabarkan kalau saat ini Nyonya Zoya pingsan, saat ini beliau sudah dibawa ke klinik bidan kurnia.."
Dewa tak mendengarkan lagi apa yang dikatakan oleh guru Rayden itu, ia langsung berlari menyeberangi lobby perusahaan yang sangat luas. Para pegawainya pun heran melihat bos mereka yang berlari-lari itu.
"Kunci mobil!" ucapnya langsung kepada satpam yang biasa memarkir mobilnya.
"Ini Tuan" kata Satpam itu langsung menyerahkan kuncinya dengan cepat, tau jika bosnya ini sangat terburu-buru.
__ADS_1
Secepat kilat, Dewa berlari menuju mobilnya dan langsung menancap gas mobilnya dengan kecepatan penuh. Hatinya kalut dan juga cemas mendengar istrinya pingsan, padahal pagi tadi Zoya masih baik-baik saja, kenapa sekarang tiba-tiba pingsan.
"Come on! Please..." Dewa mengetuk-ngetuk kemudinya tak sabar melihat kemacetan panjang yang tak kunjung usai.
Din Din Din Din.
Dewa juga tak henti mengumpat dan menekan-nekan klaksonnya agar pengemudi di depan cepat melajukan mobilnya. Akhirnya setelah kemacetan berkepanjangan, Dewa sampai di klinik yang dimaksud oleh bu guru tadi. Tempatnya ternyata tak jauh dari sekolah Rayden.
Dewa sudah bisa melihat Rayden yang menangis dan sedang digendong gurunya. Dewa pun segera menghampirinya.
"Ayah!" Rayden berteriak seraya turun dari gendongan wali muridnya.
"Ayah disini, Rayden jangan nangis ya" kata Dewa langsung menggendong Rayden, mencoba menenangkan putranya yang sedang menangis.
"Selamat siang Tuan Dewangga, saya Ulfa wali kelasnya Rayden" kata Ulfa memberikan senyumnya yang manis saat melihat Dewa.
"Ya terimakasih bu guru sudah menemani putra saya disini" kata Dewa menanggapi sekenanya karena ibu fokus menenangkan putranya.
"Itu sudah tugas kami sebagai wali kelas Rayden Tuan" kata Ulfa rasanya tak bisa melepaskan tatapannya dari Dewa.
Dewa mengangguk singkat, tak ada niat untuk banyak bicara karena pikirannya tak tenang memikirkan istrinya. Ia hanya bisa berharap kalau istrinya baik-baik saja.
"Bagaimana Dokter?" tanya Dewa to the point.
"Oh, apakah anda suaminya?" kata Bidan.
"Iya saya suaminya, istri saya baik-baik saja kan dok? Apa yang menyebabkannya pingsan?" kata Dewa langsung mencerca Bidan itu.
"Keadaan Nona baik-baik saja Tuan. Beliau pingsan karena tekanan darahnya rendah dari biasanya. Bila Ibu hamil mengubah posisi secara tiba-tiba, tekanan darah juga akan menurun dengan cepat. Secara bersamaan, aliran darah ke otak pun akan mendadak berkurang dan pada akhirnya membuat Nona jatuh pingsan"
Penjelasan Bidan itu membuat mata Dewa terbelalak lebar, apakah dia tidak salah dengar.
"Ibu hamil? Maksud dokter istri saya hamil?" kata Dewa tak menyembunyikan wajah kagetnya.
"Loh suaminya belum tau? Mau di buat kejutan ya mungkin, selamat Tuan untuk kehamilan istri anda. Saat ini sepertinya usianya sekitar 6 minggu, untuk jelasnya bisa melakukan USG ya nanti" kata Bidan itu tersenyum tipis.
__ADS_1
"Baik, Baik bu dokter terimakasih. Istri saya sudah bisa di jenguk kan?" kata Dewa dengan perasaan campur aduk, antara kaget, senang dan juga terharu karena mendapatkan kabar kehamilan istrinya.
"Sudah Tuan, beliau juga sudah siuman. Saya akan meresepkan vitamin untuk Nona ya, nanti tolong di minum secara rutin" kata Bidan itu lagi.
Dewa hanya mengangguk-angguk saja, ia lalu menatap Rayden yang juga bingung itu.
"Hamil itu apa Ayah?" tanya Rayden.
"Hamil itu, Rayden mau punya adik. Rayden seneng kan mau punya adik?" kata Dewa menatap putranya.
"Mau, aku mau punya adik biar ada temen mainnya" kata Rayden antusias sekali malahan.
"Kita temui ibu dulu" kata Dewa tersenyum lembut lalu mencium gemas pipi Rayden sebelum masuk kedalam ruangan Zoya.
Zoya terlihat berbaring lemah di ranjang, wajahnya tampak pucat dan lesu. Dewa menurunkan Rayden sebentar lalu menghampiri Zoya.
"Hei, bagaimana perasaanmu?" kata Dewa menyentuh lembut tangan istrinya, ia menatap lekat-lekat wajah Zoya dan entah kenapa rasanya Dewa ingin sekali menangis.
"Aku nggak apa-apa. Kamu kenapa bisa ada disini?" kata Zoya tak ingat apa yang baru dialaminya.
"Kamu pingsan tadi, nggak apa-apa? Mana yang sakit?" kata Dewa terus menggenggam tangan istrinya.
"Aku juga bingung kenapa aku tiba-tiba pingsan, kata Dokter aku sakit apa?" kata Zoya hanya ingat dia duduk lalu saat ia akan bangun, kepalanya tiba-tiba berdenyut pusing.
"Kamu nggak tau kamu sakit apa?" kata Dewa mengerutkan dahinya, apa Zoya juga tidak tau kalau dia hamil? pikirnya.
"Enggak, mungkin juga cuma kecapekan aja" kata Zoya.
"Mulai sekarang kamu nggak boleh kecapekan lagi, sekarang sudah ada nyawa lain yang harus kamu jaga. Dan sekarang, dia sedang tumbuh disini" kata Dewa mengelus lembut perut istrinya dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Maksud kamu? apa aku?" kata Zoya kaget tentunya.
"Iya, kamu hamil sayang. Terima kasih sudah memberiku keajaiban terindah di dunia ini Zoya..." kata Dewa tak bisa lagi menahan air matanya.
Tangisnya langsung pecah begitu saja karena Dewa ingat saat kehamilan Zoya yang pertama, ia sama sekali tidak tau dan juga tidak bisa mendampinginya. Melewatkan semua momen tentang kehamilan anak pertamanya, dan sekarang Dewa bersumpah akan memberikan semua waktunya untuk menemani Zoya melewati kehamilannya. Dewa bersumpah akan selalu menjaga Zoya meskipun nyawa taruhannya.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.