
Zoya tak percaya akan diberi kepercayaan oleh Tuhan secepat ini. Ia sama sekali tidak menyangka kalau dirinya hamil. Ini semua terlalu mengejutkannya karena usia pernikahannya baru seminggu tapi ia sudah hamil enam minggu. Apa yang akan orang pikirkan nanti?.
"Mulai saat ini, kamu harus lebih berhati-hati lagi sayang. Jangan ragu untuk meminta apapun dariku. I'll give you everything" kata Dewa tak henti menciumi pipi Zoya yang masih terlihat syok itu.
"Bagaimana aku bisa hamil?" pertanyaan itu langsung lolos begitu saja dari mulut Zoya.
Dewa mengerutkan dahinya mendengar ucapan Zoya, pertanyaan apa itu? Bukankah Zoya tau jelas bagaimana wanita itu bisa hamil? Apa dia harus menjelaskan kalau mereka sudah bercinta dan bisa membuat wanita itu hamil?
"Tentu saja bisa, aku yang menghamili mu" kata Dewa asal saja.
"Lalu kenapa kau menghamili ku!" kata Zoya tiba-tiba merasa sangat kesal dan memukul lengan Dewa dengan keras.
"Zoya, eh?" Dewa kaget dan juga kebingungan tentunya karena perkataan Zoya itu, apalagi melihat reaksinya yang diluar dugaan.
"Kau jahat! Kenapa kau membuatku hamil? Sekarang kau harus tanggung jawab!" kata Zoya bersungut-sungut kesal.
"Aku pasti tanggung jawab sayang, dia kan anakku? Lagipula kita sudah menikah kan?" kata Dewa bingung menghadapi sikap Zoya ini.
"Tapi aku malu, apa kata orang nanti? Kita baru nikah, tapi aku udah hamil, ini semua gara-gara kamu pokoknya" kata Zoya dengan wajah cemberutnya.
"Kenapa harus malu? Kehamilan kamu itu bukan hal yang memalukan, tapi ini itu sebuah anugerah dari Tuhan untuk kita, Tuhan memberikan kehamilan untukmu karena Tuhan tau kalau bayi ini adalah saksi cinta kita berdua" kata Dewa dengan tatapan teduhnya pada Zoya.
"Iya aku tau, tapi ih kamu nggak ngerti maksud aku" kata Zoya bukan tak mensyukuri kehamilannya, tapi dia hanya merasa aneh saja.
"Udah, kamu nggak perlu mikir aneh-aneh. Ini hari bahagia kita, seharusnya kita menyambut hal ini dengan bahagia bukan? Rayden juga seneng loh mau punya adik" kata Dewa merangkul Rayden yang hanya sejak tadi berdiri di sampingnya.
"Iya ibu, aku seneng mau punya adik. Biar punya temen main" kata Rayden dengan senyum manisnya.
"Tuh kan? Rayden aja seneng banget, nanti Rayden harus sayang ya sama adik" kata Dewa ikut tertular dengan senyum manis putranya.
"Nanti kalau aku punya adik, adik aku panggilnya Kakak kan?" tanya Rayden.
__ADS_1
"Iya Kakak"
"Aku mau Ayah, aku mau dipanggil Kakak, aku sayang adik diperut ibu" kata Rayden memeluk ibunya untuk mengungkapkan perasaan bahagianya.
Zoya terdiam, matanya ternyata sudah basah karena hal ini. Ia mengingat bagaimana ia hamil Rayden dulu yang penuh rintangan dan juga hidup yang serba pas-pasan. Anak yang diperjuangkannya dulu itu, kini sudah besar dan menjadi anak yang sangat pintar dan juga menyayanginya.
Dan saat ini ia kembali diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk mengandung lagi namun dengan keadaan yang sangat jauh berbeda.
"Ibu jangan nangis, nanti adik bayi ikut nangis kalau ibu nangis" kata Rayden bukannya membuat tangis Zoya mereda tapi justru semakin keras.
Dewa tersenyum lembut, ia menepuk-nepuk lengan Zoya untuk menenangkan wanita itu karena Dewa tau pasti apa yang dirasakan oleh Zoya. Dewa merasakan rasa cintanya semakin meluap-luap kepada wanita ini.
*****
Kehamilan Zoya yang kedua ini ternyata sangat jauh berbeda dari kehamilan yang pertama. Dulu, Zoya tak mengalami yang namanya mual dan muntah di pagi hari, tapi sekarang Zoya justru mabuk parah dan selalu lemas karena tak bisa memakan apapun.
Hampir satu bulan lebih Zoya terus mengalami hal itu, ia bahkan tak bisa makan nasi banyak-banyak karena tak tahan akan baunya. Mungkin karena tau ditunggui oleh Ayahnya, bayi dalam perut Zoya seolah ingin mencari perhatiannya. Jika Dewa yang tidak menyuapinya maka Zoya pun tidak mau makan sama sekali.
"Kamu darimana aja? Kenapa baru pulang?" kata Zoya sudah memasang wajah bete-nya.
"Aku ada meeting, tadi kan aku udah kasih tau kamu" kata Dewa melepaskan dasi yang terasa mencekik lehernya.
"Kenapa lama?" kata Zoya lagi.
Dewa menghela nafas panjang, sudah menebak jika istrinya ini pasti akan kesal jika ia pulang ke rumah terlambat karena hal itu sudah seringkali dilakukan istrinya.
"Banyak hal yang harus dibahas sayang, kamu udah makan belum?" setelah melepas kemejanya, Dewa langsung mendatangi istrinya yang sedang dalam mode ngambek itu.
"Nggak laper" kata Zoya lagi.
"Makan dulu ya? Aku suapi, mau makan apa?" kata Dewa lembut membujuk istrinya.
__ADS_1
"Lagi nggak pengen apa-apa, aku ngantuk mau tidur" kata Zoya melirik malas pada suaminya.
"Jangan tidur dulu dong, ini masih jam sembilan, aku ajak makan keluar mau? Biasanya kamu lagi suka pengen cemilan kalau malam begini?" kata Dewa lagi, ia harus membujuk istrinya untuk menyelamatkan nasib ketentraman rumah tangannya.
Zoya awalnya malas-malasan tapi mendengar kata cemilan, mood-nya langsung naik. Ia tanpa ragu mengangguk cepat-cepat.
"Aku mau, tapi kamu yakin kan mau bawa aku jalan-jalan?" kata Zoya.
"Iya dong sayang, mana mungkin aku bohong" kata Dewa mencubit gemas pipi Zoya yang gembul.
"Baiklah, kita berangkat sekarang kalau gitu, aku ganti baju dulu" kata Zoya semangat sekali.
"Ya, aku juga mau mandi dulu" kata Dewa.
"Nggak usah mandi, aku lebih seneng kayak gini, asem-asem wangi" kata Zoya tiba-tiba memeluk Dewa dan mengirup harum tubuh khas suaminya.
Dewa tertawa kecil, inilah hal lain yang dilakukan Zoya selama masa kehamilannya, selain bertingkah manja kepada Dewa, kehamilan Zoya kali ini membuat Zoya menjadi lebih cinta kepada suaminya, bahkan sangking cintanya, terkadang membuat Dewa mati kutu karena kebucinan Zoya padanya.
Tapi meskipun begitu, Dewa tidak merasa risih atau bagaimana, dia justru senang karena sepertinya anak keduanya ini begitu mencintai Ayahnya.
"Yaudah, aku ganti baju aja kalau gitu, kamu jangan lupa pakai jaket biar nggak masuk angin" kata Dewa mencium dahi Zoya sekilas lalu mengambil pakaian santainya.
"Kita naik motor ya? Aku dari kemarin lihat motor kamu nganggur di rumah, aku pengen ngerasain naik" kata Zoya dibalas gelengan tak setuju dari Dewa.
"Jangan, ini udah malem, nggak baik buat kamu" kata Dewa tentu memikirkan keselamatan istri dan anaknya yang utama.
"Dewa??" kata Zoya langsung memasang wajah imut ingin dikasihani.
Dewa menghela nafas panjang, lihat kan? Hanya dengan begini saja ia sudah tidak bisa apa-apa. 3-0, dia kembali kalah telak.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.