I'M FINE

I'M FINE
Periksa Kandungan.


__ADS_3

Sore harinya, Dewa pulang lebih awal. Ia memenuhi janjinya untuk mengantar Zoya pergi ke dokter kandungan. Selain itu, Dewa ingin bertanya kepada dokter tentang masalah kenapa istrinya sering berfikir negatif akhir-akhir ini. Apakah ada hubungannya dengan kehamilannya atau ada faktor lain.


Dewa langsung masuk kedalam rumah, di lihatnya Rayden yang sedang belajar di temani oleh ibunya di ruang tengah. Dewa tersenyum tipis melihat pemandangan yang membuat hatinya menghangat itu. Dewa lalu melepaskan sepatunya dan bergabung bersama mereka.


"Ini kan gampang kak, 12 di tambah 12 belas, Kakak ambil buat garis ini sebanyak 12 kali, terus buat lagi 12 kali, nah kalau udah gini, Kakak hitung deh semuanya, nanti pasti ketemu jawabannya," ucap Zoya menjelaskan kepada Rayden yang masih bingung dengan perhitungan angka-angka yang melebihi 10.


Dewa langsung memeluk istrinya dari belakang. "Lagi belajar apa sih? Serius banget kayaknya?" tanya Dewa mengintip apa yang sedang di kerjakan oleh putranya.


"Ini lagi ngajarin Kakak tambah-tambahan, dia masih bingung kalau angkanya terlalu banyak," kata Zoya menjelaskan.


"Ya nggak apa-apa. Namanya juga anak kecil sayang. Nanti juga bisa" kata Dewa tak ingin putranya terlalu tertekan dalam masalah pembelajaran.


"Justru karena masih kecil harus di ajarin biar nanti besarnya makin pinter. Lagian tahun depan Kakak kan masuk SD Ayah, jadi harus banyak-banyak belajar" ujar Zoya seraya mengelus rambut anaknya lembut.


"Iya Ibu, aku mau banyak-banyak belajar biar pinter," kata Rayden sambil menulis di bukunya.


Dewa tersenyum kecil melihat semangat anaknya itu, ia teringat saat dulu masih seumur Rayden, dia juga sangat rajin belajar. Bahkan ia selalu mendapatkan juara umum semenjak duduk di bangku SD.


"Kamu tumben udah pulang jam segini? Pekerjaannya udah selesai?" tanya Zoya melirik Dewa yang bergelayut manja di lengannya.


"Sudah, aku kan mau nganterin kamu ke Dokter. Sekalian aku mau lihat anak kita," sahut Dewa seraya mengelus perut istrinya.


"Yaudah kamu mandi dulu gih, nanti habis itu kita langsung berangkat," kata Zoya lagi.


"Aku siapa yang mandiin?" ujar Dewa sengaja menggoda istrinya.


"Mau aku mandiin?" kata Zoya balas menggoda suaminya.


"Sangat mau kalau itu," kata Dewa menaikturunkan alisnya.


"Dasar mesum! Mandi sendiri sana, aku mau nemenin Kakak belajar dulu, nanti kita ajak sekalian, sama jalan-jalan gimana?" kata Zoya.


"Boleh, Rayden selesaikan belajarnya cepat. Habis ini kita jalan-jalan," kata Dewa.

__ADS_1


"Jalan-jalan kemana Yah?" tanya Rayden dengan wajah ingin taunya.


"Kita mau nengok adik bayi, Rayden mau lihat kan?" kata Dewa lagi.


"Mau Ayah, tapi nanti Kakek nggak ada temennya di rumah," kata Rayden terlihat bimbang karena akan meninggalkan Kakeknya.


Dewa dan Zoya saling pandang, putranya ini sepertinya memang lebih menyukai Kakeknya ketimbang ibu dan Ayahnya.


"Kakek diajak juga ya Yah?" pinta Rayden.


"Eh? Sayang, kita kan mau ke rumah sakit juga. Nanti masak Kakek harus ikut lihat Ibu," ujar Zoya memberi penjelasan pada anaknya.


"Berarti Kakek nggak bisa ikut ya?" kata Rayden terlihat kecewa kalau Kakeknya nggak ikut.


"Sekarang Kakek nggak ikut dulu, tapi nanti kalau Rayden libur sekolah, kita ajak Kakek jalan-jalan ke pantai, gimana?" kata Dewa mencoba bernegosiasi dengan putranya.


"Ke Pantai Yah?" mata Rayden langsung berbinar cerah membayangkan kata pantai.


"Iya, dua minggu lagi Rayden libur kan? Nanti kita kesana sama-sama. Kita liburan" kata Dewa lagi.


"Nah gitu dong anak Ayah, sekarang selesaikan dulu ya tugasnya, Ayah mau mandi dulu, kita mau nengok adik bayi," kata Dewa mengulurkan tangannya untuk ber give five dengan putranya.


Zoya tersenyum manis, hatinya selalu menghangat jika melihat kedekatan Ayah dan anak itu. Zoya merasa sangat beruntung memiliki kedua pria itu.


*****


Zoya sudah duduk bersama barisan para ibu-ibu hamil yang akan memeriksakan kadungannya. Disampingnya sudah ada suaminya yang dengan sabar menjawab berbagai hal yang ditanyakan oleh putra mereka. Di umurnya yang ke 5 tahun ini, Rayden memang sedang besar keingintahuannya tentang hal yang baru dilihatnya.


"Yah, orang itu kenapa menangis? Apa dia sakit?" tanya Rayden saat melihat beberapa orang yang tampak menangis di depan ruang persalinan.


"Ya mungkin mereka sedih karena keluarganya ada yang sakit," sahut Dewa asal saja, ia pun tak tau apa yang membuat keluarga itu menangis.


"Rayden doakan saja semoga keluarga orang itu di beri kesembuhan," sambung Zoya ikut menyahut

__ADS_1


Rayden menganggukkan kepalanya, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, tapi ternyata pintu ruang bersalin itu terbuka membuat semua perhatian langsung terlihat.


Seseorang terlihat di dorong di ranjang rumah sakitnya, namun orang itu dalam keadaan tertutup kain putih, menandakan jika orang itu sudah meninggal. Orang itu di dorong keluar perlahan-lahan hingga lewat di depan Zoya, bisik-bisik pun terdengar mampir di telinga Zoya.


"Dia baru aja melahirkan..."


"Iya kasihan, anaknya selamat..."


"Sayang banget nyawa ibunya nggak tertolong...."


Zoya mendadak langsung gemetaran, tangannya tanpa sadar me re mas tangan Dewa yang menggenggamnya. Ia sangat takut setelah melihat orang itu tadi.


"Zoya, hei, lihat aku?" ucap Dewa menyentuh lembut tangan istrinya.


"Orang itu meninggal setelah melahirkan," kata Zoya dengan bibirnya yang bergetar.


"Tidak apa-apa. Itu semua sudah takdirnya, tenangkan dirimu ya, semuanya akan baik-baik saja," kata Dewa mencoba meyakinkan Zoya kalau tidak akan terjadi apapun nantinya.


Zoya hanya diam saja, pikirannya mulai tak tenang hingga pada saatnya ia di panggil masuk kedalam ruang pemeriksaan. Zoya berbaring di ranjang seraya menatap langit-langit.


"Nyonya Zoya tekanan darahnya tinggi sekali, jangan banyak pikiran ya Nyonya, ibu hamil harus rileks agar mejalani kehamilan yang sehat," ucap Dokter Obgyn pada Zoya.


"Setelah ini kita akan melakukan usg ya Nyonya. Tuan dan Kakaknya silahkan kalau mau melihat," kata Dokter Obgyn itu lagi.


Dewa tersenyum tipis, ia mengajak Rayden untuk duduk di samping Zoya. Tak lupa ia mengulurkan tangannya kepada Zoya dibalas senyum tipis oleh wanita itu.


Dokter segera membuka baju Zoya lalu mengoleskan gel khusus untuk USG, ia lalu memutar-mutar sebuah alat di perut buncit Zoya.


"Wah, bayinya sehat sekali. Hidungnya juga sangat mancung, sekarang bb-nya sudah 1700gr, tungkainya juga sangat tinggi. Air ketuban cukup dan posisi bayi juga sudah tepat ini. Satu bulan lagi, kita akan bertemu adik bayinya,"


Penjelasan dokter itu menguap begitu saja dalam telinga Dewa, bibirnya bahkan tak henti mengembangkan senyum manisnya saat melihat mahakarya terindah dari Tuhan yang tumbuh di rahim istrinya.


Apalagi saat Dokter mendengarkan detak jantung anaknya, dunia seolah hening dan hanya irama indah yang mengalun lembut di telinga Dewa.

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2