
Dewa membuka matanya perlahan, seluruh tubuhnya terasa sangat nyeri sekali. Ia melihat sekelilingnya yang tampak sangat kacau. Mobilnya juga sudah ringsek tak berbentuk, sedangkan supir dan Bayu juga terlihat tak sadarkan diri.
"Tuan, Anda sudah sadar, kami akan membawa Anda ke rumah sakit," ucap salah satu orang membantu Dewa untuk bangkit.
Dewa tampak sempoyongan, ia memegang kepalanya yang berdarah karena terjatuh tadi. Lutut dan sikunya pun ikut terluka hingga bajunya robek. Namun Dewa tak memikirkan hal itu sama sekali. Ia berjalan ke arah mobilnya, untuk mencari bunga yang sudah dibelinya tadi. Dewa bersyukur bunga itu masih cukup baik meski ada yang rontok.
"Anda mau kemana Tuan? Anda sedang terluka?" ucap orang itu menahan tangan Dewa yang akan pergi.
"Aku baik-baik saja, aku harus menemui istriku, dia akan melahirkan" kata Dewa menepis pelan tangan orang itu.
"Tapi Tuan.." Orang itu masih ingin berbicara, tapi Dewa tak menggubrisnya. Ia harus secepatnya pergi untuk menemani istrinya melahirkan. Tapi ia bingung saat akan pergi menggunakan apa.
Dewa menatap mobilnya yang rusak parah, jadi mustahil bisa digunakan. Ia butuh kendaraan untuk datang ke rumah sakit yang lokasinya masih cukup jauh dari sini.
Pandangan Dewa lalu menyapu keseluruhan tempat itu dan ia melihat ada seseorang anak muda yang menaiki sebuah motor. Dewa segera mendatanginya berniat untuk meminjam motor itu.
"Maaf, apakah aku boleh meminjam motormu? Aku harus secepatnya pergi sekarang" ucap Dewa langsung saja.
"Eh?..." Pemilik motor itu terlihat kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh Dewa.
"Aku harus ke rumah sakit, istriku akan melahirkan. Aku minta tolong padamu," kata Dewa lagi, ia lalu ingat sesuatu, ia mencari-cari dompetnya dan mengambil semua uang yang tersisa didalam sana.
"Ini, sebagai jaminan kalau aku akan mengambilkan motormu," kata Dewa menyerahkan uangnya.
"Bukan begitu Tuan, aku..."
"Kalau masih kurang, bawa saja jam tanganku, kau bisa menjualnya," kata Dewa tak memikirkan apapun lagi, ia melepas jam tangan mahal miliknya sebagai jaminan atas motor yang di pinjamnya.
Pemilik motor itu semakin kaget melihat jam tangan itu, ia tau kalau jam tangan itu sangat mahal, mungkin lebih mahal dari motor miliknya.
__ADS_1
"Baiklah Tuan, kau boleh meminjam motorku," kata pemilik motor segera turun dari motornya.
"Terima kasih, aku pasti akan mengembalikannya nanti," kata Dewa lega karena bisa mendapatkan kendaraan untuk datang ke rumah sakit.
"Tidak apa Tuan, semoga istri anda lancar melahirkan" ucap pemilik motor.
Dewa hanya tersenyum sedikit, ia meletakkan bunga yang dibawanya di depannya, lalu perlahan ia mengendarai motor itu menembus padatnya jalanan kota Bandung di siang yang cukup terik itu.
Perasaan Dewa kembali campur aduk, kegugupan dan kebahagiaan itu bercampur menjadi satu. Beberapa menit lagi saja, ia akan segera sampai di rumah sakit dan bunga Anyelir yang dibawanya akan segera sampai di tangan pemiliknya.
Dengan terpincang-pincang, Dewa memarkirkan motornya di parkiran rumah sakit, Lalu ia setengah berlari masuk kedalam lobby dengan keadaan yang bisa dibilang sangat berantakan karena beberapa bagian bajunya robek. Bahkan darah di pelipisnya masih terlihat sangat jelas meski sudah mengering.
*****
Didalam ruang persalinan, pembukaan Zoya sudah lengkap. Dokter dan beberapa perawat juga sudah siap untuk membantu proses persalinan itu.
"Nyonya sudah waktunya ya. Saya akan memberikan instruksi, jika saya bilang dorong, maka anda boleh mengejan. Tapi jika saya bilang tahan, jangan dulu ya Nyonya" ucap Dokter Obgyn memberikan instruksinya kepada Zoya.
"Nyonya jangan menangis, nanti bayi dalam kandungan anda bisa ikut menangis kalau ibunya menangis," ucap Dokter mencoba memberi penghiburan kepada Zoya.
"Sakit Dokter..." suara erangan dan detak jantung bayi terdengar sangat jelas saat Dewa masuk kedalam ruang persalinan.
Dilihatnya istrinya itu sudah berbaring dengan dikelilingi Dokter dan juga perawat. Dewa langsung menghambur mendekati istrinya yang sedang memejamkan matanya itu.
"Zoya, aku sudah sampai," ucapnya lembut, berdiri tepat disamping istrinya.
Mendengar suara berat yang sangat dirindukan itu membuat Zoya langsung membuka matanya, air matanya semakin menderas saat melihat sosok suaminya.
"Jangan menangis, aku sudah datang, kau sudah bisa melahirkan anak kita," ucap Dewa meletakan bunga di nakas lalu tangannya menggenggam lembut tangan Zoya yang berkeringat.
__ADS_1
Zoya mengangguk singkat, hatinya lega karena Dewa sudah datang. Memang sejak tadi hanya pria ini yang dibutuhkannya.
Dewa tak henti menciumi wajah Zoya dan sesekali memberikan semangat untuk istrinya yang berjuang untuk melahirkan anaknya. Dewa tak berani melihat apa yang dilakukan oleh para medis itu kepada istrinya, Seluruh tubuh Dewa rasanya ikut bergetar saat melihat Zoya berjuang keras untuk melahirkan anak mereka.
"Kamu bisa Sayang, aku mencintaimu" bisik Dewa menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Zoya. Ia menyembunyikan matanya yang memerah karena ingin menangis melihat perjuangan istrinya.
"Sedikit lagi Nyonya, kepalanya sudah terlihat. Ayo, sekarang dorong Nyonya" ucap Dokter kembali memberikan instruksinya.
Zoya kembali mengejan, kali ini dengan segala tenaga yang tersisa. Tangannya menggenggam erat tangan Dewa dan sekuat tenaga mengejan untuk melahirkan bayinya, hingga beberapa saat kemudian terdengar tangisan bayi yang pecah memenuhi ruang persalinan itu.
Dewa sangat kaget melihat bayi berlumuran darah yang diletakkan di dada Zoya. Itu adalah anaknya, darah dagingnya dan buah hatinya dengan Zoya yang lahir dengan selamat.
Zoya tersenyum dan juga menangis saat melihat anaknya yang begitu dekat dengannya. Semua rasa sakit yang dirasakan seolah terbayar lunas dengan melihat anaknya yang lahir dengan sehat dan selamat.
"Terima kasih sayang, terima kasih sudah melahirkan anak kita dengan selamat, aku mencintaimu" ucap Dewa mencium kening Zoya sangat dalam, rasa syukur dalam hatinya begitu meluap-luap karena keajaiban yang terindah ini.
"Tuan mohon tunggu diluar dulu ya, kami harus membersihkan Nyonya Zoya dan juga bayi anda" ucap perawat.
Dewa mengangguk singkat, ia lalu mengambil bunga yang dibawanya tadi.
"Ini untukmu, di hari spesial ini aku ingin memberikan ini padamu, terima kasih sudah hadir dalam hidupku sayang" ucap Dewa menyerahkan bunganya kepada istrinya.
"Terima kasih" kata Zoya menerima bunga itu dengan perasaan bahagia yang tidak bisa ditutupi.
"Aku akan keluar dulu, nanti aku kesini lagi," ucap Dewa enggan sebenarnya, namun ia harus mengikuti semua prosedur yang ada.
"Jangan lama," kata Zoya sama tak relanya.
"Tidak, setelah semuanya selesai, aku akan kesini lagi," kata Dewa kembali mencium kening Zoya sebelum keluar dari ruang persalinan itu.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.