I'M FINE

I'M FINE
Kabar Baik.


__ADS_3

Pintu ruang rawat terbuka membuat, Zoya tersadar dari apa yang baru saja dilakukannya, ia segera melepaskan dirinya dari Aldin lalu mengusap air matanya dengan cepat. Apa yang baru saja dilakukannya? Kenapa dia malah berpelukan dengan pria lain sedangkan suaminya sedang berbaring disana. Tidak seharusnya dia melakukan hal seperti itu.


"Dokter, bagaimana keadaan suami saya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Zoya langsung menghampiri Dokter yang baru saja keluar. Aldin hanya berdiri menyimak di belakang Zoya.


"Saya ingin memberikan kabar baik Nyonya. Saat ini kondisi Tuan Dewa mulai membaik, berdasarkan respon motorik yang diberikan semuanya sangat baik. Sepertinya keinginannya untuk sembuh sangat kuat hingga beliau berhasil melewati masa kritisnya" kata Dokter mengulas senyum tipisnya.


"Maksud Dokter, suami saya sudah sadar?" tanya Zoya tak bisa menutupi rasa haru dan bahagianya.


"Betul Nyonya, silahkan jika ingin melihat" kata Dokter tau apa yang sudah di tunggu oleh keluarga pasien.


Zoya benar-benar sangat senang mendengar hal itu, ia sempat menoleh kepada Aldin sebelum langsung masuk kedalam untuk menemui suaminya.


Saat pertama kali melihat Dewa, air matanya langsung lolos begitu saja. Perlahan ia mendekati Dewa yang juga menatapnya dengan sorot mata penuh keharuan yang sama.


"Dewa..." ucap Zoya lirih memandang sendu suaminya.


"Maaf" ucap Dewa merentangkan tangannya kepada Zoya yang sangat tau artinya.


Tanpa membuang waktunya, Zoya langsung menghambur ke pelukan suaminya. Menangis tersedu-sedu, menumpahkan segala kesedihan dan juga kerinduannya kepada sosok pria ini.


Dewa pun begitu, ia memeluk Zoya sangat erat hingga rasanya kesusahan untuk bernafas. Setiap hari Dewa bisa mendengar apa yang Zoya katakan padanya. Semuanya ia mendengar sangat jelas, bagaimana Zoya yang menangis karena merindukannya, bagaimana Zoya bercerita tentang kesehariannya, dan juga saat Zoya mengatakan untuk menunggunya kembali.


Dewa mendengar namun tak bisa melakukan apapun, semua badannya terasa sakit hingga sulit di gerakkan. Matanya pun sangat enggan sekali terbuka. Lalu, yang terakhir kali, Dewa mendengar suara Aldin yang mengancam akan merebut istrinya. Dewa ingin sekali bangun namun dia benar-benar tidak berdaya.


Hingga pada saatnya, ia merasakan dadanya yang basah karena air mata istrinya. Hatinya sangat sakit mendengar tangis Zoya yang begitu menyayat hati. Namun karena wanita itu pula yang membuat Dewa bisa melewati semuanya.


"Maafkan aku, aku sudah membuatmu menangis" ucap Dewa mengusap air mata Zoya yang terus mengalir.


"Tidak di maafkan. Aku sangat marah karena kau lebih menyukai mimpimu dari pada aku" kata Zoya masih sesenggukan.


"Jangan marah," kata Dewa menyentuh lembut pipi istrinya.


"Dasar! Mana mungkin aku marah padamu! Aku sangat mencintaimu Dewa," kata Zoya mengambil tangan Dewa yang berada di pipinya lalu menciumnya lembut.


Dewa tersenyum, ia kembali merentangkan tangannya meminta Zoya agar masuk ke dalam pelukannya. Ia sangat bersyukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk bisa memeluk kembali wanita yang dicintai.

__ADS_1


Dewa lalu ingat sesuatu, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia bisa melihat Aldin yang berdiri di ambang pintu ruangannya. Dewa lalu memberikan senyuman manisnya pada Aldin dan dibalas senyum tipis oleh pria itu.


*****


Hari ini adalah hari kepulangan Dewa, sejak pagi Zoya sudah begitu sibuk karena harus mengurus Dewa dan juga persiapan di rumah untuk menyambut kepulangan suaminya. Zoya melarang saat Anderson ingin menjemput Dewa, karena Zoya ingin dia sendiri yang menyambut kepulangan suaminya.


"Semuanya baik, Tuan Dewa sudah bisa pulang hari ini. Obatnya jangan lupa di minum terus ya" ucap Dokter melakukan pemeriksaan sebelum pasien akan pulang.


"Terima kasih Dokter," kata Zoya menganggukkan kepalanya.


Dokter balas mengangguk lalu beranjak meninggalkan ruangan pasien. Zoya pun segera mengambil beberapa barang miliknya yang akan di bawa pulang.


"Anak-anak bagaimana di rumah?" tanya Dewa bangkit dari duduknya untuk menghampiri Zoya.


"Baik. Kakak malah seneng banget tau kalau kamu pulang hari ini. Dia antusias banget," ucap Zoya tersenyum tipis seraya melirik suaminya.


Dewa ikut tersenyum lalu memeluk Zoya dari belakang. "Terima kasih sudah menjaga mereka dengan sangat baik" kata Dewa lembut sekali.


"Itu memang tugasku" sahut Zoya mendongak menatap suaminya.


Dewa mendekatkan wajahnya, mencium bibir istrinya lembut, sangat lembut seolah meluapkan segala perasaan yang dirasakan saat ini. Zoya pun segera membalas tak kalah lembutnya, ciuman kali ini menemukan iramanya, penuh rasa rindu dan cinta.


"Ehm, sepertinya kita harus secepatnya pulang. Anak-anak pasti sudah menunggu," kata Zoya salah tingkah sendiri.


"Ya," sahut Dewa mengangguk singkat.


Dewa menggandeng mesra pinggang istrinya saat mereka berjalan keluar ruangan. Meskipun Zoya baru saja melahirkan, ternyata tubuhnya bisa dengan mudah kembali ke bentuk semula, mungkin karena efek banyak pikiran yang dialaminya belakangan ini membuat tubuhnya cukup kurus.


"Setelah pulang dari sini, kau harus banyak makan" ucap Dewa tiba-tiba.


"Kenapa memangnya?" tanya Zoya tak mengerti.


"Tidak apa, aku ingin kau tetap sehat untuk menjagaku nanti. Lagipula aku tidak suka wanita yang terlalu kurus" kata Dewa dengan wajah jahilnya.


"Jadi, kau suka wanita yang gemuk?" kata Zoya melirik malas pada suaminya.

__ADS_1


"Aku menyukaimu" kata Dewa dengan nada santainya.


"Ish, aku serius" kata Zoya melotot kesal, bisa-bisanya Dewa malah menggombalinya.


"Aku juga serius. Aku sangat menyukaimu. Oh, bukan. Aku menyukai semua yang ada dalam dirimu. Setiap bagian dirimu aku akan menyukainya" kata Dewa terdengar begitu menggombal, tapi dia sangat serius dengan perkataannya.


"Lain kali ajari aku menggombal ya?" kata Zoya menggelengkan kepalanya, suaminya ini memang sangat jago menggombal.


"Apa perlu aku tunjukkan dengan tindakan?" kata Dewa tiba-tiba menarik pinggang Zoya hingga keduanya saling berhadapan.


"Dewa! Apa maksudmu?" kata Zoya membesarkan matanya, bingung dengan sikap impulsif Dewa.


"Aku ingin membuatmu percaya kalau semua yang aku katakan tadi adalah sangat serius" kata Dewa dengan tatapan mata teduhnya.


Dewa lalu melepaskan Zoya dan menatap sekelilingnya yang tampak cukup ramai orang itu. Ia lalu melirik Zoya yang masih bertampang sangat bingung.


"Selamat siang semuanya. Maaf jika aku mengganggu waktu kalian. Aku disini ingin mengatakan kalau aku sangat mencintai seorang wanita yang saat ini berdiri di hadapanku" Dewa berteriak dengan keras hingga membuat semua perhatian jatuh kepadanya. Ia membuat pengakuan cinta di depan banyak orang tanpa rasa malu dan tanpa ragu sedikitpun.


Zoya semakin terkaget-kaget melihat tingkah Dewa itu, ia beberapa kali mencoba membungkam mulut Dewa namun pria itu sama sekali tidak perduli.


"Aku sangat mencintainya bahkan melebihi apapun di dunia ini. Ya benar, aku sangat mencintainya. Satu-satunya wanita yang aku cintai dan satu-satunya wanita yang ada dalam hidupku. Dia adalah istriku...."


"Dewa! Apa....." Zoya ingin memprotes tapi suara orang-orang keburu masuk di telinga hingga membuat dirinya bungkam seketika.


"Cieeee.....suit ..suit ....."


"Romantis banget sih....."


"Pengantin baru pasti nih...."


Wajah Zoya memerah saat melihat banyaknya orang yang menatap dirinya. Ia malu namun juga bangga dengan keberanian Dewa, ia lalu menatap suaminya yang hanya. tersenyum bangga padanya.


"Kau memang benar-benar ya!" ucap Zoya memukul pelan dada suaminya lalu menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang menyaksikan semua yang terjadi. Orang itu tak lain adalah Tara yang datang untuk berobat karena ia baru saja mendapatkan luka karena ulah suaminya. Namun saat Melihat bagaimana Dewa dan Zoya begitu bahagia membuat Tara sadar, kalau memang pada dasarnya Dewa hanya mencintai Zoya. Hanya wanita itu yang bisa membuat Dewa bahagia, bukan dia.

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2