I'M FINE

I'M FINE
Rencana Dewa.


__ADS_3

Dewa tampak begitu puas sekali melihat saham perusahaan milik keluarga Zoya turun ketitik terendah, para media bahkan memberitakan tetang isu-isu yang membuat nama perusahaan itu cukup tercemar. Dewa sengaja melakukannya, selain untuk memberi pelajaran kepada mereka, tapi Dewa sengaja mengalihkan perhatian mereka agar tidak mengganggu Zoya.


"Aku baru saja mendapatkan kabar kalau saat ini pemimpin perusahaan itu didesak mundur oleh para jajaran dewan direksi, aku rasa rencanamu ini berhasil Dewa" kata Bayu melaporkan.


"Maksudmu Zachary?" kata Dewa.


"Ya, dia baru saja memimpin perusaahan selama dua tahun, dan menurut laporan dia juga sudah banyak melakukan kesalahan, tapi ini yang paling fatal, para pemegang saham itu juga banyak yang memilih menjual sahamnya" kata Bayu lagi.


"Kira-kira berapa persen yang ingin di lepas?" kata Dewa dengan pandangan seriusnya.


"Sekitar 30% itu jika semuanya, saham Ayah Zoya masih yang tertinggi disana dan sebagian lagi milik Zachary" kata Bayu.


"Hmm...Kau sudah punya nama orang yang ingin menjual saham itu kan?" kata Dewa lagi.


"Ya ada"


"Hubungi mereka Bay dan atur jadwalku untuk bertemu mereka, jangan sampai mereka menjual saham itu keluar" kata Dewa.


"Sudah aku lakukan" kata Bayu membuat Dewa langsung menatapnya.


Dewa tersenyum tipis, dia bukannya ingin bermaksud jahat dengan menjatuhkan perusahan mereka, tapi Dewa hanya mengikuti permainan yang mereka buat, jika tangan dibalas tangan, maka perbuatan buruk pun sudah sepantasnya mendapatkan hal yang buruk pula.


*****


Zoya itu hanya memiliki impian sederhana, selama lahir kedunia, dia hanya ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang ibu, seorang ibu yang mengajarinya belajar, seorang ibu yang mengantarnya sekolah, atau seorang ibu yang menyambutnya dengan senyum bangga ketika menunjukkan hasil gambar masa kecilnya dulu, namun hal itu ternyata hanya impian yang tidak pernah terwujud.


Tapi kini semuanya berbeda, kini dialah yang berperan sebagai sosok ibu dan Zoya ingin memberikan seluruh waktunya kepada anaknya agar anaknya tidak merasakan apa yang dia rasakan dulu. Ada setitik sesal dalam diri Zoya karena ingat waktu dia masih bekerja, waktunya sangat kurang bersama Rayden, dan sekarang Zoya benar-benar mengganti semua waktu yang terlewati selama ini.


"Ibu... Ibu lihat gambar aku, bagus nggak?" Rayden menunjukkan sebuah gambar yang terlihat ada tiga orang dewasa dan 1 anak kecil.


"Bagus, Ini gambar apa sayang?" kata Zoya menatap gambar itu dan anaknya dengan antusias.


"Ini gambar keluarga, Ini Ayah, Ibu, dan aku" kata Rayden.


"Lalu yang ini?" kata Zoya lagi.

__ADS_1


"Ini Kakek" kata Rayden tersenyum manis lalu membawa kembali hasil gambarnya untuk diberikan kepada Ibu guru agar dinilai.


Zoya tersenyum lembut, kini rutinitasnya setiap pagi memang mengantarkan Rayden ke sekolah dan menunggunya sampai selesai kelas. Biasanya sekolah Rayden itu akan selesai selama tiga jam dan Dewa akan datang menjemputnya tepat waktu, tapi hari itu entah kenapa Dewa sedikit terlambat menjemputnya.


"Ibu, Ayah mana? Aku laper" kata Rayden sedikit merengek.


"Sebentar sayang, Ayah sudah perjalanan kok" kata Zoya menghubungi Dewa tapi tidak diangkat.


"Apa kita langsung pulang saja Nona?" kata salah satu Pengawal.


"Tidak, kita tunggu dulu sebentar ya, mungkin sebentar lagi Dewa sampai" kata Zoya ingat pesan Dewa untuk tidak pulang selain bersamanya.


"Baik Nona" kata Pengawal itu kembali menjaga di jarak aman.


Setelah cukup lama akhirnya mobil Dewa datang membuat bahu Zoya yang tadinya tegang langsung lemas.


"Maaf, udah lama nunggu?" kata Dewa seperti biasa langsung memberikan ciuman wajib dikening Zoya.


"Lumayan, kamu sibuk ya hari ini?" kata Zoya.


"Iya Yah, tapi aku laper" kata Rayden jujur saja membuat Dewa tertawa.


"Anak Ayah sampai laper gini, sebagai permintaan maaf, Ayah ajak makan di Mcd mau?" kata Dewa langsung mendapatkan tatapan tak setuju dari Zoya.


"Kamu udah nggak ada kerjaan lagi setelah ini?" kata Zoya memang lebih memikirkan pekerjaan Dewa yang pastinya terganggu.


"Gampang itu, yang penting kalian dulu, Ayo, kasihan anakku udah kelaparan gini" kata Dewa merangkul pundak Zoya dan membawanya masuk kedalam mobil.


Saat mobil mereka menjauh, terlihat sosok pria yang berdiri disamping sekolahan Rayden, pria itu tidak lain adalah Bryan yang memang mengawasi Zoya dan anaknya, dia mencari celah agar bisa menemui wanita itu tanpa sepengetahuan Davies, tapi sialnya penjagaan yang dilakukan Dewa sangatlah ketat membuat ia kesulitan untuk menembusnya.


Bryan mungkin tidak mencintai Zoya, tapi saat melihat wanita itu setelah lima tahun kembali, ada perasaan aneh dalam dirinya dan Bryan merasa ingin sekali menuntaskannya.


"Zoya itu miliknya, masih istri sahnya dan dialah yang paling berhak pada Zoya"


****

__ADS_1


"Kita nggak langsung pulang aja?" tanya Zoya heran saat Dewa malah mengajaknya ke kantor setelah makan siang.


"Cuma sebentar kok, ada berkas yang harus kamu tanda tangani" kata Dewa.


"Berkas apa?" kata Zoya memandang Dewa tak mengerti.


"Nanti kau juga akan tau, Rayden, Ayo turun, ini kantor Ayah" kata Dewa pada anaknya.


"Ehm, Dewa, apa tidak sebaiknya kau bawa saja berkasnya di rumah?" kata Zoya merasa ragu jika harus datang ke kantor Dewa, pasti di dalam banyak sekali pegawainya Dewa.


"Kenapa? Ini kita sudah sampai" kata Dewa mengerutkan dahinya.


"Didalam pasti banyak orang"


"Justru itu bagus, aku akan sekalian mengenalkamu kepada pegawaiku" kata Dewa.


"Ha? Yang benar saja? Orang-orang pasti akan berpikir aneh karena kau sudah punya anak sebesar ini" kata Zoya kaget.


"Apanya yang aneh? Lagipula dia memang putraku" kata Dewa langsung menggandeng tangan Zoya dan diajak masuk kedalam kantornya.


Dewa sebenarnya memang tidak ada rencana untuk hal ini, tapi mumpung Zoya datang ke kantor, ia langsung mengumpulkan para pegawainya dan memperkenalkan Zoya. Semua orang pastinya kaget saat tau jika Dewa sudah mempunyai anak dan istri, ada yang menyambutnya dengan rasa suka cita namun ada juga yang langsung membicarakan Zoya.


Tapi Dewa tak perduli sama sekali, ia malah dengan bangga terus menunjukkan kemesraan kepada pengawalnya agar mereka tau kalau dia sudah punya istri.


"Kenapa kau bilang kalau istrimu?" kata Zoya sedikit protes.


"Kenapa ada yang salah?" kata Dewa santai saja.


"Ya kita kan belum menikah, jadi aku bukan istrimu" kata Zoya lagi.


Dewa menekuk wajahnya, ia menarik pinggang Zoya mendekat kearahnya. "Aku tidak perduli kau masih istri orang lain atau tidak, tapi aku pastikan aku akan segera merebutmu dari dia"


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2