
Sinar matahari tampak menerobos masuk melalui celah jendela, kicauan burung terdengar mengusik kesunyian pagi. Zoya membuka matanya perlahan, ia menatap ke arah luar yang sudah terang benderang. Ia lalu melirik sampingnya dan sudah tak menemukan Dewa berada disana.
Zoya lalu bangkit dari tidurnya untuk melihat ponsel, tapi ia tertegun sejenak saat melihat kertas kecil yang berada di atas nakas.
"Aku sudah berangkat, maaf tidak membangunkan mu karena aku lihat kau terlelap sekali, beritahu aku kalau kau sudah bangun, nanti malam aku akan pulang cepat"
Isi surat dari Dewa itu langsung membuat Zoya tersenyum. Sudah dua bulan berlalu setelah acara ulang tahunnya waktu itu, Dewa semakin bersikap manis pada Zoya.
Pria itu kini tak pernah mempermasalahkan kalau dirinya bangun siang atau tak mengerjakan apapun, mungkin Dewa hanya akan menyuruhnya membersihkan rumah atau mencuci bajunya sendiri, itupun jarang karena Dewa yang super rajin tak pernah membiarkan Zoya mencuci baju sendiri.
Kadang-kadang Zoya merasa menjadi istri yang tidak berguna karena hanya numpang makan dan tidur. Zoya juga sempat memprotes sikap Dewa yang terlalu memanjakannya itu, tapi pria itu tak mempermasalahkannya sama sekali.
"Terus aku ngapain dong kalau apa-apa kamu yang ngerjain" protesnya beberapa waktu lalu.
"Ya nggak apa-apa, kamu cukup nunggu aku pulang kerja aja, kan aku capek tuh, lihat yang cantik biar semangat lagi" kata Dewa malah melontarkan gombalannya membuat Zoya mencibir sebal namun tak bisa di pungkiri kalau hatinya seperti dihinggapi ribuan kupu-kupu yang membuat perasaannya membuncah.
Meskipun hari-harinya hanya di isi dengan hal-hal monoton, Zoya justru semakin senang melakukan aktivitasnya, apalagi hampir setiap malam Dewa selalu menunjukkan naga padanya. Zoya tersenyum geli jika mengingat malam-malam panas mereka. Ehm, Memikirkan Dewa, kenapa dia malah merindukannya padahal beberapa jam lagi Dewa sudah pulang.
Malam harinya karena tak sabar menunggu Dewa pulang, Zoya memutuskan untuk menghampirinya ke pabrik. Ia sudah dandan rapi dengan menggunakan mini dress hadiah dari Dewa. Sebenarnya Zoya bukan tipe wanita yang suka menggunakan dress, tapi karena dress itu hadiah dari Dewa membuat Zoya senang memakainya.
Sesampainya di pabrik ternyata Zoya tak harus menunggu karena Dewa juga sudah selesai bekerja. Zoya menatap satu persatu orang yang keluar dari sana, tak jarang ada yang menggodanya tapi Zoya tak menghiraukannya, ia fokus melihat Dewa yang belum keluar.
"Dewa!" teriak Zoya begitu melihat aat melihat Dewa, ia melambaikan tangannya dengan wajah yang tak henti mengulas senyumnya.
Dewa yang tadinya sedang mengobrol dengan Bayu sedikit kaget saat melihat Zoya ada disana, tapi sedetik kemudian ia tersenyum tipis.
"Wah, di jemput bini lu tuh" seloroh Bayu.
"Ya, aku duluan kalau gitu" kata Dewa melakukan give five bersama Bayu sebentar sebelum mendatangi Zoya yang sudah menantinya.
"Hai..." kata Zoya entah kenapa senang sekali bisa melihat Dewa.
__ADS_1
"Kenapa jemput? Kesini naik apa?" kata Dewa memandang Zoya yang sangat cantik sekali malam itu menurutnya.
"Aku naik angkot, mau sekalian ajak kamu jalan-jalan" kata Zoya seadanya.
Dewa kembali tersenyum, ia mengulurkan tangannya yang Zoya tau artinya apa. Ia tanpa canggung langsung masuk kedalam pelukan hangat Dewa. Zoya menciumi dada Dewa yang entah kenapa terasa sangat harum padahal seharian pria itu berada di pabrik.
"Mau jalan kemana? Ini udah malem" kata Dewa mencium rambut Zoya sekilas.
"Kemana aja, Aku lagi pengen di ajak kencan sama kamu" kata Zoya membuat Dewa tertawa kecil.
Dewa melepaskan pelukannya dan menatap istrinya. "Kamu ngajakin kencan? Nggak bosen?" kata Dewa sedikit tak percaya Zoya mengajaknya berkencan.
"Nggak bosen kalau sama kamu, mau ya" kata Zoya memasang tampang manja, berusaha menggoda Dewa dengan wajah manjanya itu.
"Nggak mau" kata Dewa gemas sekali jika Zoya sudah memasang wajah seperti itu, ia ingin sekali menggigitnya.
"Kenapa?" kata Zoya langsung cemberut karena Dewa menolak ajakannya.
"Nggak mau nolak maksudnya" kata Dewa mencium bibir Zoya sekejap membuat wanita itu kaget.
Dewa hanya tersenyum kecil lalu merangkul pundak Zoya untuk mengajaknya pergi darisana.
"Lain kali nggak usah jemput, ini udah malem, nggak baik kalau wanita pergi malem-malem sendirian" kata Dewa dengan suara lembut. Ia khawatir kalau ada orang yang berniat jahat istrinya.
"Iya" sahut Zoya mengangguk, ia suka jika Dewa menunjukkan perhatiannya seperti ini.
"Mau ngajak jalan kemana?" tanya Dewa menatap lalu lintas malam itu yang cukup padat.
"Makan dulu aja deh, kamu pasti laper baru pulang kerja. Aku pengen makan yang asem-asem" kata Zoya entah kenapa merasa ingin sekali makan sesuatu yang segar.
"Yang asem-asem apa?" kata Dewa mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Nggak tau, tapi aku juga pengen makan seblak yang pedes, siomay juga boleh, atau es krim aku juga mau, kita cari aja deh" kata Zoya seraya menelan ludahnya membayangkan makanan itu semua, ia benar-benar ingin sekali memakan itu.
Dewa menekuk wajahnya heran, tak biasanya Zoya meminta makanan yang begitu banyak, apalagi ini malam hari. Wanita itu jarang sekali makan banyak di malam hari karena takut perutnya akan berlemak, tapi kenapa sekarang Zoya meminta begitu banyak makanan.
"Baiklah, di dekat halte sana ada tempat makan yang rame, kita beli disana aja" kata Dewa.
Zoya mengangguk mengiyakan, setelah berjalan beberapa meter mereka tiba di tempat pedagang kaki lima yang menjual berbagai jenis makanan. Dewa segera mengajak Zoya ke tempat penjual seblak dulu sesuai keinginan Zoya.
"Bang, seblaknya satu yang pedes ya" kata Zoya langsung memesan.
"Jangan terlalu pedas, buat yang sedang aja bang" kata Dewa langsung menyahut.
"Tapi aku pengen makanan pedas" kata Zoya cemberut karena Dewa melarangnya.
"Jangan keras kepala, makanan pedas nggak baik buat perut kamu, udah duduk sini kita tunggu sebentar" kata Dewa menarik lembut tangan Zoya untuk duduk di bangku pembeli.
"Enggak, aku masih mau pesan siomay" kata Zoya melepaskan tangannya dan berjalan ke arah pedagang siomay.
Dewa mengerutkan dahinya merasa tingkah Zoya tak biasa, ia hanya membiarkan saja apa yang di inginkan istrinya. Tapi sesaat kemudian ia kaget saat melihat apa yang di pesan Zoya.
"Kau serius akan menghabiskan ini semua?" kata Dewa menatap Zoya tak percaya.
Bagaimana tidak, wanita itu bukan hanya memesan siomay, tapi juga membeli ketoprak dengan porsi banyak, batagor dan yang membuatnya heran adalah Zoya memesan rujak mangga malam-malam begini, buat apa?
Happy Reading.
Tbc.
Mohon maaf baru sempat up..
Lagi sibuk banget soalnya.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ygy.
Like dan komen...